Telisik Tabir Misteri Tsunami Lembata 1979

Artikel di Surat Kabar, Sumber: tirto.id
Ekspedisi Jawadwipa

Sabtu menjadi waktu yang pas untuk mengulang waktu belajar kembali peristiwa masa lalu. Bila kembali pada 42 tahun yang lalu, kita akan menemukan kabar berita mengejutkan di laman International Herald Tribune yang memberitakan tsunami Lembata.  

Pulau Lembata adalah salah satu dari gugusan pulau yang ada di Provinsi Nusa Tenggara TImur, pulau ini bersebelahan dengan Pulau Adonara. Pulau Lembata terletak pada pusat kegiatan tektonik dari busur magmatik Sunda-Banda berarah Barat-Timur yang menunjukkan tempat bertemunya tiga lempeng tetonik besar. Wilayah ini merupakan bagian dari sistem Busur Banda bagian dalam dan terbentuk di dalam rangkaian kepulauan bergunung api aktif. Secara morfologi Pulau Lembata dapat dibagi menjadi dua satuan, yaitu daerah pegunungan dan daerah dataran. Daerah pegunungan dicirikan oleh puncak gunung api yang sebagian masih aktif, di antaranya Ile Boleng (1659 m), Ile Lewotolo (1450 m) dan Gunung Topaki (1365 m).

Misteri Tsunami Lembata 1979

Pulau yang terkenal dengan pemburuan paus tradisional ini dikejutkan dengan kejadian tsunami yang tiba-tiba datang menghampiri. Pada tanggal 18 Juli 1979, Pulau Lembata diterjang tsunami secara tiba-tiba, disebabkan oleh tanah longsor yang sangat besar. Lima puluh juta meter kubik material dipindahkan dan sepertiganya jatuh ke laut dan menimbulkan tsunami setinggi 7-9 meter yang menyebar di sepanjang Teluk Waiteba.

Dalam jurnal yang ditulis oleh Jonatan Lassa tahun 2009, laporan tinjauan secara teknis pertama mungkin yang ditulis oleh Elifas tahun 1979, dilaporkan bahwa daerah yang mengalami bencana tsunami tersebut adalah lebih kurang 50 km sepanjang Teluk Labala di bagian barat hingga Teluk Waiteba di bagian timur. International Herald Tribune pada 23 Juli 1979 melaporkan bahwa 700 orang meninggal akibat dihantam tsunami dan sebagian terkubur akibat tertimbun longsoran yang terjadi di empat desa. Laporan International Herald Tribune sehari kemudian (24/07/1979) direvisi mengikuti keterangan Gubernur Ben Mboi menjadi: sebanyak 539 orang meninggal dan 364 hilang. Laporan Elifas menyebutkan total 84 orang meninggal dan 322 orang hilang, dan 470 orang menderita. Dokumen Grand Skenario Indonesian Tsunami Early Warning System tahun 2006 menyebutkan angka 550 orang meninggal.

Kejanggalan tsunami ini seolah menjadi misteri untuk dipelajari. Beberapa sumber menyatakan sebab berbeda dari kejadian tsunami yang sama. Masih dalam jurnal Jonatan Lassa, Tsunami Waiteba-Lembata 1979, Jeffery (1981) berasumsi, bahwa tsunami tersebut merupakan akibat dari meletusnya Gunung Hobal atau Ile Hobal yang berada di bawah laut. Berbagai sumber mengatakan bahwa puncak Ile Hobal muncul tahun 1970, ada yang mengatakan muncul tahun 1973 ada juga yang mengatakan bahwa ia muncul 1974. Yang menarik dari tuturan masyarakat terhadap Jeffery adalah bahwa tahun 1976 Gunung Hobal ini pernah meletus dan menyebabkan tsunami, namun tiada korban jiwa karena terjadi pada siang hari. Dalam peristiwa tahun 1979, terjadi tiga kali hempasan tsunami yang diikuti oleh longsoran, lalu kemudian menghilang moncong puncaknya. 

Baca Juga: Throwback Gempa dan Tsunami 15 Januari 1975

Gunung Hobal atau Ile Hobal terletak di Kecamatan Atadei. Gunung ini dapat ditempuh dari Maumere ke Larantuka dengan menggunakan kendaraan beroda empat, dari Larantuka ke Lembata (Lewoleba) dengan menggunakan kapal laut, terus dilanjutkan dengan kendaraan beroda empat dari Lembata menuju ke Kecamatan Atadei. Letak gunung ini sekitar 200 meter dari pesisir pantai Waiteba yang disapu gelombang tsunami bulan Juli 1979. Bencana tsunami tersebut menenggelamkan separuh dari wilayah bekas ibu kota Kecamatan Atadei, bersama ratusan penghuninya. 

Laman vsi.esdm.go.id juga mengatakan bahwa sebelum Gunung Hobal meletus sekitar 1970-an, puncaknya muncul diatas permuakaan laut saat air surut. Namun saat terjadi pasang, gunungapi itu kembali tenggelam. Saat ini, pada saat air surut pun gunung tersebut tidak terlihat, kemungkinan puncaknya sudah tergerus gelombang laut.

Sebab mengenai tsunami Lembata ditelusuri lebih lanjut oleh Yudhicara et al, 2015. Dalam jurnal penelitian ini mengungkapkan sebab lain dari terjadinya tsunami Lembata 1979. Penelitian Yudhicara et, al 2015 menyimpulkan bahwa kemungkinan besar tanah longsor di Pulau Lembata 1979 dan tsunami akibatnya disebabkan oleh perubahan hidrotermal batuan dan tanah di lingkungan panas bumi. 

Peneltian ini dilakukan dengan mengambil sampel tanah dan air kemudian dianalisis di laboratorium untuk menentukan sifat fisik material longsor dan faktor lain yang mempengaruhi sistem hidrotermal. 

Berdasarkan data-data yang dikumpulkan, tim Vulkanologi dari Bandung melaporkan bahwa tidak ada aktivitas gunung berapi selama dua hari sebelum longsor (16 – 17 Juli 1979), sedangkan tim meteorologi dan geofisika mencatat tidak ada gempa bumi pada waktu pengamatan yang sama. Menurut Lamanepa (2013), pada bulan Juli 1979 Pulau Lembata dan sekitarnya sedang mengalami musim hujan dan mengalami curah hujan yang tinggi di beberapa wilayah di Nusa Tenggara Timur. 

Bila dilihat dari struktur geologinya, terdapat sesar normal berarah barat laut-tenggara dari umur Plio-Pleistosen (lima juta tahun yang lalu) yang telah menghasilkan mata air panas yang tersebar di dekat lokasi longsor yang dapat mempengaruhi kondisi tanah. Sebaran pusat gempa yang padat di sekitar Pulau Lembata menunjukkan bahwa daerah tersebut sangat rawan terhadap aktivitas seismik. Meskipun gempabumi sering terjadi, sebelum kejadian longsor, hanya terjadi gempa yang terjadi pada tahun 1977 dengan magnitudo kurang dari lima. Letusan terakhir yang terjadi sebelum tanah longsor adalah Ile Hobal pada tahun 1976. Baik gempabumi maupun aktivitas gunung berapi tidak secara langsung berhubungan dengan peristiwa tanah longsor pada tahun 1979, tetapi rangkaian kejadian itu mungkin telah membuat sistem menjadi rapuh.

Fakta menariknya adalah, daerah longsor di Waiteba terletak di kompleks gunung berapi dimana terdapat ladang panas bumi yang tersebar. Hal ini ditunjukkan oleh banyak sumber air panas. Batuan dan tanah yang diubah oleh aktivitas panas bumi dapat kehilangan struktur dasarnya. Batuan teralterasi (berubah) bersifat lepas, sedikit ringan dan terdiri dari mineral lempung. Mineral lempung mengembang ketika menyerap air (smektit), sehingga pada musim hujan deras daerah tersebut akan rentan terhadap terjadinya longsor. 

Kandungan mineral lempung yang terdapat pada material longsor seperti smektit dan zeolit ​​merupakan mineral yang khas pada lingkungan hidrotermal. Oleh karena itu, ada kemungkinan besar bahwa tanah longsor Lembata 1979 yang memicu terjadinya tsunami disebabkan oleh perubahan hidrotermal batuan dan tanah di lingkungan panas bumi. 

Banyak sekali faktor yang mempengaruhi terjadinya tsunami Lembata tahun 1979. Rentetan peristiwa gempa, aktivitas gunung api dan juga panas bumi dapat memicu terjadinya longsor yang menimbulkan tsunami. Di luar dugaan, bahkan keberadaan mineral lempung bernama smektit yang mengembang setelah menyerap air hujan saja turut andil dalam mendatangkan bencana.(LS)

Sumber:

Yudhicara, Y., Bani, P., & Darmawan, A. (2015). Geothermal system as the cause of the 1979 landslide tsunami in Lembata Island, Indonesia. Indonesian Journal on Geoscience2(2), 91-99.

Lassa, J. (2009). Bencana Yang Terlupakan? Mengingat Kembali Bencana Larantuka dan Lembata 1979-20 09 (The Forgotten Disasters? Remembering The Larantuka and Lembata Disaster 1979-2009). Journal of NTT Studies1(2), 159-184.

Linong, B., Tanesib, J. L., Tarigan, J., & Lapono, L. A. (2016). Interpretasi Bawah Permukaan Pulau Lembata Dengan Model 3D Menggunakan Metode Gravitasi. Jurnal Fisika: Fisika Sains dan Aplikasinya1(1), 43-51.

https://vsi.esdm.go.id/index.php/gunungapi/data-dasar-gunungapi/545-g-hobal

https://tirto.id/tsunami-lembata-1979-penyebabnya-bukan-gempa-tapi-panas-bumi-dcTk\

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *