Simak Pengetahuan Lokal Masyarakat Jember Mengenai Perubahan Iklim

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Tak tampak tapi merusak, mungkin itu kalimat yang tepat untuk menggambarkan perubahan iklim yang terjadi dalam rentan waktu yang panjang dan hampir tak terlihat perubahannya dalam waktu dekat. Ibarat pembunuh berdarah dingin, perubahan iklim mulai menunjukkan keberadaannya dengan berbagai bencana hidrometeorologi. 

Jauh sebelum bencana hidrometeorologi marak terjadi di tanah air, ada sebagian warga yang telah mempercayai perubahan iklim lewat pengetahuan lokal yang mereka miliki. Dalam penelitian Dewi F. A, 2021, ia mengungkapkan bahwa masyarakat pesisir Payangan, Kabupaten Jember memiliki sebuah pengetahuan lokal mengenai perubahan iklim yang tertuang dalam sebuah kepercayaan terhadap perubahan iklim dan budaya yang lahir dan berkembang karenanya.

Fenomena-fenomena perubahan iklim yang terjadi, menimbulkan sebuah kepercayaan terhadap perubahan iklim dan diyakini oleh masyarakat pesisir Payangan. Oleh sebab itu mereka menganggap bahwa perubahan iklim adalah sebuah kebenaran yang mereka jadikan acuan dalam mengambil tindakan di kehidupan sehari-hari. Kepercayaan tentang perubahan iklim muncul karena adanya dampak dari perubahan yang dirasakan oleh masyarakat Pesisir dan menghasilkan pengetahuan lokal.

Ketika bulan purnama tiba, masyarakat pesisir Payangan yang sebagian besar adalah nelayan, mereka tidak mencari ikan di laut. Sebab pengetahuan lokal yang mereka meyakini bahwa ketika bulan purnama tidak ada ikan yang bisa ditangkap. Mereka meyakini bahwa fenomena perubahan iklim juga menyebabkan perubahan datangnya setiap musim. Musim yanh normalnya berganti setiap enam bulan sekali tetapi sekarang musim kemarau bisa lebih panjang dan musim hujan bisa lebih pendek begitupun sebaliknya. Pergeseran musim sangat berpengaruh kepada hasil tangkap ikan para nelayan. 

Dalam menyikapi perubahan iklim yang terjadi, masyarakat Pesisir Payangan menngunakan aplikasi perkiraan cuaca sebelum berangkat melaut, sebab perubahan iklim mengakibatkan para nelayan sulit untuk memprediksi cuaca. Selain itu ada budaya ketika musim hujan datang kapal-kapal besar berhenti untuk melaut, hal ini dikarenakan ketika musim hujan, angin dan ombak sulit untuk diprediksi dan ikan-ikan yang ada dilaut hanya sedikit. 

Terdapat pula sebuah budaya yang rutin dilakukan oleh masyarakat yaitu petik laut. Petik laut merupakan upacara adat atau ritual yang bertujuan untuk meminta keselamatan, keberkahan dan terhindar dari bencana akibat perubahan iklim. 

Akan jadi sangat menarik jika pengetahuan lokal masyarakat mengenai perubahan iklim dipadukan dengan pengetahuan dan penjelasan sains mengenai perubahan iklim. Kombinasi keduanya dapat diaplikasikan dengan satu tujuan yaitu mengurangi dampak perubahan iklim. (LS)

Sumber:

Dewi, F. A. Pemanfaatan Pengetahuan Lokal Masyarakat tentang Perubahan Iklim melalui Kampung Literasi di Pesisir Payangan Kabupaten Jember.

Photo: radiobintangtenggara.com