Simak Keunikan Pengetahuan Lokal Rumah Panggung Minahasa yang Tahan Gempa

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Jalan jalan ke Likupang seru kali ya, menikmati indahnya pantai sambil bercengkrama bersama teman, saudara ataupun kekasih tercinta. Eeeiiitts tunggu dulu kawan, omicron masih terus melonjak, jadi tahan dulu keinginannya. 

Ngomong-ngomong tentang Likupang, disasterchannel.co teringat dengan rumah adat asal Minahasa yang ternyata merupakan salah satu rumah tahan gempa. 

Seperti yang kita ketahui, wilayah Minahasa terletak di Pulau Sulawesi. Pulau ini merupakan salah satu pulau besar di Indonesia yang terletak para pertemuan antara tiga lempeng besar, yaitu lempeng sunda, lempeng Australia dan lempeng Filipina. Pulau Sulawesi tersusun oleh tatanan tektonik yang kompleks. Struktur-struktur yang terindetifikasi di Sulawesi hingga saat ini masih aktif bergerak dan seing menghasilkan gempa. Di sebelah utara Pulau Sulawesi terdapat north Sulawesi subduction, gempa-gempa signifikan di utara Sulawesi berkaitan dengan subduksi di sepanjang palung Sulawesi utara ini. Selain itu pulau Sulawesi memiliki tatanan sesar rumit yang terdiri atas sesar yang masih aktif bergerak dan tidak lagi bergerak.

Pengalaman menghadapi gempa membuat masyarakat Minahasa memiliki pengetahuan lokal mengenai konstruksi tahan gempa yang diaplikasikan pada rumah tinggalnya. Rumah tradisional Minahasa berbentuk rumah panggung atau rumah kolong, baik yang terdapat di atas air maupun di dataran. Bahan material yang dipergunakan umumnya adalah kayu dari jenis pohon yang diambil dari hutan, yaitu kayu besi, linggua, jenis kayu cempaka utan atau pohon wasian /michelia celebia, jenis kayu nantu/ palagium obtusifolium, dan kayu maumbi/artocarpus dayphyla mig. Kayu besi digunakan untuk tiang, kayu cempaka untuk dinding dan lantai rumah, kayu nantu untuk rangka atap. Bagi masyarakat dengan strata ekonomi rendah, biasanya menggunakan bambu petung/ bulu Jawa untuk tiang, rangka atap dan nibong untuk lantai rumah, untuk dinding dipakai bambu yang dipecah. 

Cara membangun rumah tradisional Minahasa dibangun dengan cara yang unik, dalam pembangunannya mengikuti aturan tertentu. Sebelum membangun rumah tradisional, didahului dengan suatu upacara adat yang dipimpin oleh Walian, seorang tokoh masyarakat dibidang spiritual dan sangat disegani. 

Dahulu rumah tradisional dibangun dengan cara “mapalus” atau gotong-royong. Keluarga yang baru berumah-tangga setelah menikah akan tinggal bersama dengan orangtua. Berbekal harta orang tua yang diberikan pada saat perkawinan, para keluarga baru ini dalam kelompok, biasanya 20 keluarga, akan membentuk kelompok yang disebut kelompok mapalus-wale dengan seorang koordinator yang disebut “mawali-wali”. Keluarga yang rumahnya mendapat giliran dibangun disebut “makawale”. Kelompok ini secara arisan akan membangun rumah satu-pesatu sampai semua rumah anggota kelompok terbangun. Proses membangunpun terjadi dengan cepat karena dikerjakan oleh 20 orang. Ada cerita bahwa bila ada yang melalaikan tugasnya, akan dihukum dengan cambuk disebut “marantong”.

Dalam penelitian Marwati, 2014 menyebutkan bahwa arsitektur rumah tradisional Minahasa dapat dibagi dalam periode sebelum gempabumi tahun 1845 dan periode pasca gempabumi 1845-1945. Sebelum 1845 adalah masa Tumani, sebelum kedatangan bangsa-bangsa barat di Minahasa, masyarakat telah membuat rumah yang besar di atas tiang-tiang tinggi besar, rumah dihuni 10-20 keluarga batih. 

Konstruksi rumah tradisional Minahasa tahun 1845-1945 mempunyai karakteristik yang hampir sama dengan sebelumnya, yaitu atap bentuk pelana atau gabungan antara bentuk pelana dan limas, demikian juga pada kerangka badan bangunan rumah yang terdiri dari kayu dengan sambungan pen, dan kolong rumah terdiri dari 16-18 tiang penyanggah. Perbedaannya hanya tiang penyanggah berukuran lebih kecil dan lebih pendek dari masa sebelumnya, yaitu sebesar 30/30 cm atau 40/40 cm, tinggi 1,5-2,5 meter. Karakteristik ruang dalam rumah masa 1845-1945 adalah berbeda dengan sebelumnya, karena sudah terdapat beberapa kamar, seperti badan rumah terdepan berfungsi sebagai ruang tamu/ ruang setup emperan, ruang tengah/ pores difungsikan untuk menerima kerabat dekat, dan ruang tidur untuk orang tua dan anak perempuan, ruang tengah belakang tempat lumbung padi.

Rumah tradisional Minahasa memiliki komposisi dan struktur rumah tahan gempa. Rumah tradisional Minahasa dapat menjadi referensi dalam pembuatan dan pengembangan rumah tahan gempa sesuai dengan kearifan lokal daerah. (LS) 

Sumber:

Marwati, M. (2014). Studi Rumah Panggung Tahan Gempa Woloan Di Minahasa Manado. TEKNOSAINS: MEDIA INFORMASI SAINS DAN TEKNOLOGI8(1), 95-108.

Gosal, P. H. (2012). Kearifan lokal masyarakat Minahasa membangun rumah tinggal yang hijau dan nyaman. Media Matrasain9(3), 67-81.

Buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017. Pusat Studi Gempa Nasional Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Photo: indonesia.go.id