Rumah Joglo, Salah Satu Rumah Adat Yang Tahan Terhadap Gempa

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Rumah menjadi tujuan kita ketika pulang, rumah juga yang menjadi tempat untuk berlindung dari segala macam bahaya sekaligus menjadi tempat istirahat melepas penat. Rumah menjadi tempat yang mengancam bila struktur yang dibangun tidak sesuai standar. Terdapat rumah yang menarik untuk ditelisik lebih lanjut karena keistimewaannya yang dapat bertanah kala goncangan gempa menyambar.

Momentum kejadian gempa pada 27 Mei 2006 lalu menjadi sebuah pengalaman yang berharga. Berdasarkan pada hasil pemetaan wilayah rawan bencana gempabumi oleh E.K. Kertapati (2001) dalam Departemen ESDM (2007), daerah Yogyakarta dan sekitarnya termasuk daerah kegempaan dengan Intensitas Skala Modified Mercalli Intensity (MMI) V-VI. Bencana gempa bumi di Yogyakarta masih berpotensi terus terjadi. 

Daerah Yogyakarta dan sekitarnya secara geologis merupakan daerah rambatan gelombang/ gaya sumber gempa dari runtuhan patahan yang sangat tua (usianya 2 juta tahun) yang terletak 10 KM di sebelah timur patahan Opak dengan orientasi paralel. Kompleksitas geologi setempat membuat gelombang gempa dari patahan tua tak bernama ini merambat ke sistem patahan Opak dan cekungan (graben) Bantul serta merambat pula ke sistem patahan Dengkeng (Baturagung) di Klaten bagian selatan. Rambatan gelombang gempa ini menyebabkan kerusakan parah (damage belt) membentang dari Bantul hingga Klaten.

Banyak yang bilang bahwa yang membunuh bukanlah gempa, melainkan bangunannya. Agaknya pernyataan tersebut adalah benar. Pasalnya pada gempa yang terjadi 27 Mei 2006 lalu mengakibatkan banyak korban jiwa yang sebagian besar terjadi karena tertimpa bangunan. Pola jumlah korban jiwa mempunyai kecenderungan pola yang sama dengan sebaran kerusakan bangunan yang terjadi akibat gempa bumi. 

Rumah tahan terhadap huncangan gempa dipengaruhi oleh beberapa hal di antaranya adalah keelastisan struktur bangunan, bentuk bangunan dan kestabilan tanah tempa bangunan berdiri. Banyak bangunan yang mampu bertahan terhadap guncangan gempabumi tahun 2006 merupakan bangunan tradisional Jawa yaitu rumah Joglo. 

Rumah Adat Joglo merupakan salah satu jenis rumah tradisional suku Jawa yang menjadi cermin nilai budaya yang masih amat jelas nampak dalam perwujudan bentuk, struktur, tata ruang dan ragam hiasnya. Rumah Adat Jawa ini bukan sekedar hunian. Orang Jawa umumnya memandang Joglo sebagai mahakarya arsitektur tradisional Jawa dan menganggapnya sakral di Jawa. 

Struktur rumah joglo yang berbahan kayu menghasilkan kemampuan meredam getaran/guncangan yang efektif, lebih fleksibel, juga stabil. Struktur dari kayu inilah yang berfungsi meredam efek getaran/guncangan dari gempa. Ketiga, kolom rumah yang memiliki tumpuan sendi dan rol, sambungan kayu yang memakai sistem sambungan lidah alur dan konfigurasi kolom anak (sokosoko emper) terhadap kolom kolom induk (soko-soko guru) merupakan earthquake responsive building dari rumah joglo. “Mungkin saatnya kembali kepada kearifanlokal. Lebih nyaman, aman, dan murah,” ucap dia. 

Struktur rumah joglo yang berbahan kayu menghasilkan kemampuan meredam getaran/guncangan yang efektif, lebih fleksibel, juga stabil. Struktur dari kayu inilah yang berfungsi meredam efek getaran/guncangan dari gempa. Ketiga, kolom rumah yang memiliki tumpuan sendi dan rol, sambungan kayu yang memakai sistem sambungan lidah alur dan konfigurasi kolom anak (sokosoko emper) terhadap kolom kolom induk (soko-soko guru) merupakan earthquake responsive building dari rumah joglo. “Mungkin saatnya kembali kepada kearifanlokal. Lebihnyaman, aman, dan murah,” ucap dia. 

Rumah Joglo mempunyai ciri khas bernilai estetika berupa bentuk konstruksi bangunan limasan dengan atap limasan yang ditopang tiang pondasi berupa tiang saka berbahan kayu dan dipikulkan pada umpak sebagai pondasinya.

Pondasi umpak terbuat dari batuan beku andesit. Pondasi umpak tidak dibenamkan dalam tanah namun didirikan di atas tanah. batuan sebagai pondasi mempunyai nilai rambatan getaran gempa bumi yang setara dengan batuan kristalin dimana percepatan getaran gempa bumi cenderung rendah. Minimnya kontak efek pembenaman pondasi dalam tanah dan rendahnya besar nilai percepatan oleh sifat karakteristik batuan yang dipergunakan tersebut diperkirakan sebagai kontrol utama kemampuan umpak sebagai pondasi yang mampu meminimalkan efek goncangan. Kolom berupa tiang saka yang menjadi tumpangan struktur di atasnya memberikan efek fleksibelitas pada bangunan secara keseluruhan. Penggunaan umpak dengan batuan tersebut relatif lebih fleksibel jika terjadi gempa, karena jika memakai material rumah-rumah konvensional, pondasi serta beton akan mengalami keretakan. 

Desain bangunan rumah joglo mempergunakan bahan yang kuat dan ringan. Dari kolom sampai rangka atap, struktur bangunan berbahan kayu. Dinding atau pengisinya dapat berbahan kayu, batu bata, ‘gedheg’ atau bambu. Bentuk limasan dan tiang saka yang berbahan kayu mempunyai konstruksi yang sederhana, sehingga selain memperkecil berat bangunan, juga mempercepat pembangunan dan menghemat penggunaan kayu pada bangunan. Semakin kecil berat bangunan, semakin minim konsekuensi bangunan akan beranjak dari tempat semula jika bangunan tersebut dibebankan pada pondasi umpak. Beban bangunan berbahan kayu yang dipikul oleh pondasi umpak dapat diperkecil dengan konstruksi baja berbobot ringan. 

Selain kaya akan makna nilai dan budaya, rumah Joglo juga diyakini dapat mengurangi korban jiwa akibat peristiwa gempabumi. Pelestarian budaya dapat dilakukan sekaligus melakukan mitigasi bencana dengan membuat rumah tradisioanl yang sudah dijumpai dengan berbagai bukti bahwa rumah tersebut tahan terhadap gempa. (LS)

Sumber:

Rakhman A.R., Kuswardani I. 2012. Studi Kasus Gempa Bumi Yogyakarta 2006: Pemberdayaan Kearifan Lokal Sebagai Modal Masyarakat Tangguh Menghadapi Bencana. Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Sains & Teknologi (SNAST) Periode III Yogyakarta, 3 November 2012

Tirto.id

Kompas.com

sumber foto: http://saa.iainkediri.ac.id/makna-rumah-joglo-bagi-milenial/