Pudarnya Cerita Gempa dari Kepulauan Mentawai

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Ribuan tahun yang lalu, diyakini oleh sebagai orang menjadi asal mula pertama kalinya manusia bermigrasi ke wilayah Mentawai. Orang-orang yang bermigrasi ini mendiami wilayah kepulauan yang terletak di lepas pantai barat Provinsi Sumatera Barat. Kepulauan Mentawai terdiri dari empat pulau utama berpenghuni, di antaranya Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan, selain itu ada beberapa pulau kecil yang juga berpenghuni.

Wilayah Mentawai sangat terkenal sebagai surganya para peselancar. Pantai-pantai yang ada di kepulauan ini sangat menawan dan memiliki gelombang tinggi yang menjadi buruan bagi para peselacar handal ataupun amatiran. 

Terdapat pula budaya yang tekenal dari daerah Mentawai, yaitu tato Mentawai atau biasa disebut dengan Titi. Titi menjadi sebuah karya seni lukis yang lahir dari budaya suku Mentawai, fungsi tato ini sebagai simbol untuk menunjukkan jati diri dan perbedaan satatus sosial masyarakat Mentawai. 

Masih banyak tradisi dan budaya yang dimiliki oleh masyarakat Mentawai. Namun sangat disayangkan, seiring dengan bergulirnya waktu dan perkembangan zaman budaya dan tradisi semakin terkikis, bahkan nyaris hilang. Tak banyak orang yang mengetahui bahwa Mentawai memiliki tradisi lisan yang menceritakan tentang kejadian gempa yang kerap menerpa daerah ini.

Penelitian Juniator Tulius, 2020 menguak kisah gempa dalam tradisi lisan masyarakat Mentawai. Tradisi lisan merupakan bagian penting dari kebudayaan sebagian besar masyarakat Indonesia. Pengetahuan tradisional dan kearifan lokal yang berkaitan dengan kebencanaan juga merupakan bagian dari tradisi lisan masyarakat Mentawai. 

Kepulauan Mentawai yang terletak di lempeng tektonik aktif menyebabkan wilayah ini memiliki potensi bencana gempabumi dan tsunami. Gempabumi besar dan tsunami melanda Kepulauan Mentawai beberapa kali, di antaranya pada tahun 1797, 1833, 2007, dan 2010.

Persepsi umum di antara orang-orang Mentawai tradisional menganggap bahwa gempabumi tidak selalu membawa konsekuensi yang tidak menguntungkan. Sebaliknya, guncangan kecil di bumi diharapkan membawa keberuntungan. Memang, gempa kecil dianggap sebagai tanda berkah. Roh nenek moyang memberi orang kemakmuran dan fasilitas mewah di hutan. Buah-buahan dan jamur diperkirakan akan tumbuh setelah terjadi gempabumi. Oleh karena itu, bagi orang Mentawai, gempabumi tidak selalu menimbulkan nasib buruk atau menyebabkan kehidupan yang sengsara. Orang Mentawai percaya bahwa gempabumi, terutama yang besar, dianggap sebagai tanda bencana.

Pumumuan sigegeugeu adalah istilah yang mengacu pada cerita tentang asal mula gempabumi dalam sebagian besar dialek bahasa Mentawai di Pulau Siberut. Cerita-cerita tersebut disebut pumumuan teteudalam dialek lisan dua pulau selatan Sipora dan Pagai. Menurut cerita Marinus Siribetuk, “Gempa terjadi karena beberapa nenek moyang Mentawai membangun rumah komunal (uma) mereka dengan cara yang salah, dan sumber gempa adalah roh-roh leluhur”. Dia menambahkan, “Dengan mengguncang bumi, roh-roh leluhur mengingatkan manusia untuk memperbaiki dan membangun kembali rumah komunal mereka dengan benar.”

Kemudian ia menjelaskan, “Orang-orang harus memperhatikan tiang dan papan kayu sebelum menggunakannya. Titik pangkal tiang kayu harus berada di tanah dan titik puncaknya harus menghadap ke langit. Balok harus ditempatkan dengan benar. Semua titik pangkal balok harus berada pada posisi yang sama, dan tidak boleh tercampur dengan titik puncak. Mematuhi ide ini berarti membawa keberuntungan bagi rumah dan penghuninya.” Orang-orang akan tinggal dengan bahagia dan harmonis di rumah mereka jika mereka membangunnya dengan menempatkan bahan-bahan dengan cara yang benar.

Gempabumi dikonstruksi sebagai tanda kesalahan atau kekeliruan yang dilakukan manusia, sekaligus berkah dari arwah leluhur kepada manusia berupa tumbuh suburnya aneka buah-buahan. Kisah dari tradisi lisan ini menegaskan bahwa orang Mentawai memang memiliki pengetahuan tradisional tentang gempabumi. Namun sangat disayangkan, hanya sedikit orang tua yang masih akrab dengan pengetahuan ini. Sedangkan generasi muda cenderung mengadopsi bentuk-bentuk pengetahuan baru dari luar, meninggalkan pengetahuan tradisional mereka.

Diperlukan sosialisasi, penghafalan dan penyadaran akan kisah sejarah lisan, terutama pada kisah mengenai bencana. Agar cerita ini dapat menjadi bekal pembelajaran merespon becana di masa lalu untuk mempersiapkan terjadinya bencana di masa depan. (LS)

Sumber:

Tulius, Juniator. “LESSON FROM THE PAST, KNOWLEDGE FOR THE FUTURE: ROLES OF HUMAN MEMORIES IN EARTHQUAKE AND TSUNAMI NARRATIVES IN MENTAWAI, INDONESIA.” Paradigma: Jurnal Kajian Budaya 10.2 (2020): 147-168.

Photo: liputan6.com