Proses Adaptasi Hingga Kearifan Lokal Menghadapi Banjir di Kabupaten Mempawah

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Pertengahan tahun ini, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Baeat mengalami banjir cukup parah. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Pusat Pengendalian Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Pusdalops BNPB) dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mempawah hingga Selasa (21/7), jumlah warga yang terdampak banjir bertambah menjadi 7.885 KK/ 26.245 jiwa. 

Berdasarkan hasil kajian dari InaRISK, Kabupaten Mempawah memiliki potensi risiko banjir sedang hingga tinggi. Sejak dahulu kala masyarakat memiliki cara tersendiri untuk mengatasi bencana banjir. Adaptasi dengan kondisi lingkungan yang rawan banjir menumbuhkan beberapa pengetahuan lokal di kalangan masyarakat Kabupaten Mempawah.

Pengetahuan lokal menghadapi banjir melahirkan sebuah kearifan lokal yang diwujudkan dengan kebiasaan khas yang dilakukan oleh masyarakat di wilayah Kabupaten Mempawah. Bentuk kearifan lokal tersebut dapat berupa fisik seperti bangunan maupun non fisik seperti adat istiadat, budaya masyarakat, upacara, mitos, cerita rakyat dan lain sebagainya.

Pengalaman menghadapi banjir yang sering terjadi di Kabupaten Mempawah, melahirkan bentuk adaptasi banjir pada arsitektur tempat tinggal. Berdasarkan hasil penelitian Hediyanti, 2021 menyebutkan bahwa masyarakat Kabupaten Mempawah cenderung membangun rumah panggung dengan ciri pondasi dasarnya tidak menempel langsung di atas permukaan tanah, namun memiliki kolong rumah.

Kolong dibangun dengan tujuan untuk menghindari rumah terendam, dan atau sebagai lalu lintas air banjir. Ketika terjadi luapan air, baik pada sungai maupun akibat banjir rob pada ketinggian tertentu, masyarakat masih merasa aman karena harta bendanya tidak terendam karena air hanya menggenang di halaman atau pekarangan saja. 

Bentuk arsitektur rumah masyarakat pada wilayah pesisir dan di sepanjang aliran sungai ini dibangun dengan memanfaatkan kayu yang memiliki ketahanan air yang cukup baik dan usia pakai yang cukup lama.

Bila tidak membangun rumah panggung, masyarakat di wilayah ini akan melakukan alternatif dalam pembangunan hunian. Meraka membangun rumah dengan pondasi lantai yang lebih tinggi dari tanah pekarangannya atau juga membangun rumah bertingkat.

Selain itu, kearifan lokal dalam bentuk non fisik juga ditemukan di daerah ini. masyarakat Kabupaten Mempawah, mereka mendeteksi kejadian banjir dengan ciri-ciri kejadian alam sebagai berikut:

  1. Ketika wilayah Kabupaten Mempawah mengalami curah hujan deras dalam kurun waktu kurang dari 12 jam maka akan terjadi genangan air pada wilayah yang memiliki topografi yang rendah.
  2. Ketika wilayah Kabupaten Mempawah mengalami curah hujan deras dalam kurun waktu 1-2 hari dan kondisi air laut pasang maka masyarakat di sekitar pantai dan sungai mendeteksi akan terjadinya banjir rob.
  3. Kabupaten Mempawah merupakan bagian hilir dari kawasan hidrologi DAS mempawah yang terdiri atas Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Landak dan Kabupaten Mempawah. Apabila terjadi banjir di bagian hulu maka Kabupaten Mempawah akan mengalami banjir dengan jarak waktu 1-2 minggu setelah banjir di daerah hulu. Masyarakat Kabupaten Mempawah sudah dapat mengenali tanda tersebut dan mulai mempersiapkan diri ketika daerah hulu sudah mulai mengalami banjir.

Bentuk prilaku adaptif terhadap bencana banjir yang dilakukan masyarakat Kabupaten Mempawah menghasilkan pengetahuan lokal yang terus dilestarikan menjadi sebuah kearifan lokal. Melalui serangkaian proses panjang, pengaplikasian kearifan lokal menjadi sebuah tindakan implementasi yang menguntungkan bagi warga dalam menghadapi bencana. (LS)

Sumber:

Hendiyanti G. et al. 2021. Kearifan Lokal Masyarakat Kabupaten Mempawah dalam Menghadapi Banjir. Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian 2021, “Penelitian dan Pengabdian Inovatif pada Masa Pandemi Covid-19”, ISBN: 978-623-6535-49-3

https://bnpb.go.id/berita/-update-sepekan-banjir-mempawah-bupati-telah-menetapkan-status-tanggap-darurat

Sumber Photo: bnpb.go.id