Pengetahuan Lokal “Popokan” Ala Masyarakat Kabupaten Semarang

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Jalan-jalan ke Kabupaten Semarang memang asik, seasik menemukan pengetahuan lokal yang patut untuk diinformasikan. Rentetan sejarah mengalir dalam setiap cerita pengetahuan lokal berdirinya Semarang hingga cerita pelestarian alam. Setiap kata dalam cerita mengandung makna untuk sebuah pembelajaran yang bermakna. 

Dalam yang beredar menyebutkan bahwa kata “Semarang” berasal dari pohon asam. Dikisahkan bahwa Kabupaten Semarang pertama kali didirikan oleh Raden Kaji Kasepuhan (dikenal sebagai Ki Pandan Arang II) pada tanggal 2 Mei 1547 dan disahkan oleh Sultan Hadiwijaya. Ki Pandan Arang II menyebut kata “Semarang” ketika dalam perjalanan ia menjumpai deretan pohon asam (Bahasa Jawa: asem) yang berjajar secara jarang (Bahasa Jawa: arang-arang), sehingga tercipta nama “Semarang”.

Dari daerah ini kemudian peradaban berkembang. Manusia terus beranak-pinak di daerah ini. kehidupan mereka lalui dengan beradaptasi dengan alam. Dari proses yang panjang dalam beradaptasi, mereka menghasilkan beberapa pengetahuan lokal.

Cerita mengenai pengetahuan lokal hadir dari daerah bernama Sendang. Sendang merupakan sebuah desa di Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Indonesia. Terkenal dengan budayanya yaitu “popokan” sebuah upacara adat lempar lumpur yang diperingati pada bulan Agustus tepatnya hari Jumat Kliwon. 

Upacara ini sudah turun temurun dilakukan sejak terbentuknya desa sendang. Upacara ini diawali dengan pembersihan mata air atau sendang itu sendiri, selanjutnya setelah sholat Jumat warga membawa “ambeng” atau makanan dan jajan pasar ke rumah bayan (pengurus kampung) untuk acara selamatan. 

Selanjutnya warga menuju perbatasan untuk mengadakan acara arak-arakan. Dalam acara ini terdapat kesenian dari Desa Sendang itu sendiri yaitu reog atau jatilan, noknik (pagelaran wayang orang), serta penampilan dari kreasi warga tiap RT-nya. Di barisan depan terdapat macan persembahan. 

Setibanya arak-rakan ini di tempat popokan maka modin (pemuka agama) membacakan doa selanjutnya di ikuti perebutan persembahan oleh warga. Setelah itu acara popokan dilaksanakan, warga saling melempar lumpur namun tidak ada emosi disini mereka melaksanakan dengan suka cita, demikian juga penontonya jika terkena lemparan tidak boleh marah karena kata orang dulu orang yang terkena lemparan lumpur maka niscaya mendapat berkah. 

Tradisi popokan bermula ketika ada gangguan dari seekor macan yang mengancam warga, merusak tananaman dan meneror warga Desa Sendang. Namun diusir memakai senjata, macan tersebut tidak mau pergi, warga sempat takut dibuatnya. Setelah itu ada seorang pemuka adat yang menyarankan agar macan tersebut diusir menggunakan tanah atau lumpur sawah dan yang terjadi macanpun pergi, warga dengan suka cita merayakanya dengan lempar lumpur yang sekarang menjadi tradisi dan identitas warga Desa Sendang. 

Pembersihan mata air adalah salah satu upaya mitigasi bencana banjir. Upacara popokan dengan membersihkan mata air memiliki makna pembersihan diri atau bisa diartikan menghilangkan kejahatan/keburukan tidak harus dengan kekerasan, namun dengan rendah diri dan taat pada Tuhan maka niscaya semua itu bisa dilawan.  

Dalam pelaksanaan popokan, dilakukan secara gotong-royong, mereka saling bahu-membahu melakukan mitigasi bencana banjir. Jalin silaturahmi dalam dalam upacara Popokan dapat memperkuat kapasitas warga dalam melaksanakan upaya pengurangan risiko bencana. (LS)

Sumber:Studi Identifikasi Kearifan Lokal Dalam Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana Di Eks Karesidenan Semarang. 2014. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Jawa Tengah

Photo: inibaru.id