Membongkar Sejarah Banjir Di Larantuka Nusa Tenggara Timur

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Bila media lain mengabarkan begitu banyak update mengenai penanganan bencana akibat siklon tropis Seroja yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT), maka disasterchannel.co mencoba menulis hal yang berbeda. Ada beberapa kejadian bencana yang dilupakan, kisahnya seolah tenggelam, bahkan bagi warga sekitar daerah kejadian tak terdengar lagi gaungnya. Salah satu kisah yang tenggelam dan dilupakan adalah bencana banjir disertai longsor yang terjadi pada tahun 1979 di Kota Larantuka, Kab. Flores Timur NTT.

Larantuka merupakan ibu kota Kabupaten Flores Timur yang terletak di kaki Gunung Ile Mandiri. Umumnya masyarakat masih menggantungkan hidupnya sebagai petani dan nelayan dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada, sebagian lainnya sebagai pegawai. Kota Larantuka sendiri dikenal juga dengan nama Kota Reinha, dalam bahasa Portugis artinya Kota Ratu atau Kota Maria. Kota ini juga mempunyai daya tarik tersendiri di mata para wisatawan. Kota yang terletak di sepanjang pesisir pantai ini juga memiliki beberapa daya tarik wisata, seperti keindahan panorama Teluk Mokantarak, pemandian air panas Mokantarak, Pulau Waibalun.

Tak disangka tak diduga, banjir yang disertai longsor menimpa Kota Larantuka pada 27 Februari 1979.Longsoran atau gerakan tanah lereng Gunung Ile Mandiri dan banjir di Larantuka tahun 1978 dan 1979 merupakan cerita yang sulit didapatkan dan tidak muncul dalam berbagai database bencana, baik yang dikelolah oleh para kaum peduli bencana di NTT maupun oleh database bencana global. Dilaporkan bahwa total desa terkena dampak adalah 20 desa dengan 8 desa hancur, total 96 orang meninggal, 53 orang hilang, 157 luka parah, and 197 luka ringan. Aset penghidupan yang hilang meliputi kehilangan 260 pohon kemiri, 1,750 ha tanaman pangan serta 1200 tanaman kelapa rusak, serta 843 ternak mati. Total bangunan yang rusak berat 74 dan hancur 461 buah. Terdapat 14 bangunan publik yang hancur. 8,750 pengungsi tercatat. Diperkirakan bahwa hampir 50% Kota Larantuka hancur.

Berdasarkan oral history, banjir bandang seperti 27 Februari 1979 ini pernah terjadi pada tahun 1908 dan 1938. Sedangkan banjir yang relatif lebih kecil terjadi pada 26 Februari 1978. Curah hujan sebelum terjadi bencana tercatat sangat tinggi, yaitu dalam waktu kurang lebih 3 jam mencapai 180 mm. Keadaan ini memicu terjadinya longsoran pada tebing lereng yang curam dan kemungkinan mengakibatkan terjadinya banjir bandang. Melihat akibat dari banjir bandang yang terjadi, nampaknya air permukaan dengan volume yang begitu besar bukan hanya berasal dari air hujan pada waktu itu saja, tetapi ditambah dengan air yang tertampung lama sebelumnya dan terkumpul pada lekukan-lekukan di alur-alur lembah Gunung Ile Mandiri.

Analisis peneliti mengatakan bahwa terkumpul volume air yang cukup besar itu hanya dapat terjadi apabila terdapat hambatan berupa pembendungan alam (natural blockade). Bendungan alam terbentuk secara bertahap di dalam alur-alur lembah (dengan lebar kurang lebih 100 meter) oleh akumulasi bahan-bahan rombakan dari runtuhan batu atau tanah bercampur dengan batang-batang kayu yang tumbang. Kapasitas air yang terbendung menjadi melimpah akibat konsentrasi hujan dalam waktu 3 jam sebesar 180mm, hal ini menyebabkan volumenya bertambah dan terjadi limpahan melalui puncak (over topping) mengakibatkan bendung alam jebol atau hancur. 

Cerita mengenai banjir bandang dan longsor tidak berhenti sampai di tahun 1979. Banjir kembali menimpa Kota Larantuka pada Rabu, 02/04/2003 yang terjadi saat dini hari. Bencana ini mengakibatkan sepuluh orang tewas dan puluhan rumah rusak dan hanyut. Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi Flores Timur, Anton Tonce Matutina kala itu mengatakan bahwa banjir disertai longsor menerjang empat kelurahan di antaranya Kelurahan Larantukam Postho, Lohayong dan Weri.

Laporan lain menyebutkan bahwa banjir terparah juga terjadi di Pulau Flores melanda Kab. Ende, Flores Tengah sekitar 146 mil laut Kota Kupang, ibu kota NTT. Sekitar 30 orang tewas dan berbagai fasilitas umum rusak. Warga yang tewas diperkirakan karena hanyut terbawa banjir bandang yang dikirim dari pegunungan sehingga menyapu dataran rendah tempat dimana penduduk tinggal.

Ancaman bencana banjir bandang nyata terlihat di wilayah Kota Larantuka. Kerentanan diperparah dengan terjadinya kebakaran di Gunung Ile Mandiri pada Rabu, 18/09/2019. Kejadian ini menambah kerentanan wilayah Larantuka yang mengakibatkan risiko terjadinya banjir bandangan dan longsor meningkat drastis. Apalagi bila terjadi anomali cuaca seperti siklon tropis.(LS)

Sumber: 

Lassa Jonatan. 2009. Bencana yang Terlupakan? Mengingat Kembali Bencana LArantuka dan Lembata 1979-2009. Jurnal of NTT Studies 1(2) 159-184.

Liputan6.com

mediaindonesia.com

Tanay, B. Perancangan Buku Wisata Kota Larantuka, Nusa Tenggara Timur. Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain, Universitas Kristen Petra.

Sumber foto : franklamanepa.blogspot.com