Kisah Unik dari Pengetahuan Lokal Suku Dayak dalam Mengendalikan Pembakaran Lahan

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Permasalahan yang baru-baru ini muncul dari Pulau Kalimantan adalah persoalan pindahnya ibukota dan design istana negara yang menghebohkan. Tapi kebanyakan kita sudah melupakan begitu tersohornya Kalimantan dengan segala sumber daya yang ada di dalamnya. Dilimpahi dengan hutan yang luas, masyarakat Suku Dayak memiliki pengetahuan tersendiri dalam mengelolanya. 

Meskipun dirasa penuh kontroversi, kebiasaan Suku Dayak yang membuka lahan dengan melakukan pembakaran dipandang sebagai sebuah kesalahan. Padahal kebakaran hutan dan lahan yang masif bukan disebabkan oleh kearifan lokal Suku Dayak, pasalnya selama bertahun tahun lamanya wilayah yang ditinggali Suku Dayak tidak mengalami kerusakan yang besar akibat pembakaran untuk pembukaan lahan. Terjadi kebarakan yang besar justru muncul di era tahun 90 an, disaat pembukaan lahan untuk industri pertanian dan perkebunan berlangsung secara besar-besaran.

Salah satu hutan yang masih dikelola oleh Suku Dayak adalah Hutan Mawas. Wilayah Hutan Mawas berbatasan dengan 59 desa lima kecamatan dan dua wilayah kabupaten. Mayoritas terdiri dari suku asli Dayak, sisanya berasal dari suku Banjar, Jawa, Bugis, Batak, dan Manado. Keturunan dari penduduk asli yang tersebar di wilayah ini adalah Dayak dengan kelompok etnis Ngaju, Ma’anyan dan Luangan. Terbentuknya desa-desa atau pemukiman pada umumnya dimulai dari sekelompok orang tertentu dengan tujuan menetap. Secara historis, cikal-bakalnya ada yang dimulai dari sekelompok masyarakat peladang yang secara turun temurun mengajak saudaranya. Pendapat lain mengatakan bahwa penduduk berasal dari keturunan Nyai Indu Runtun yang menjelma menjadi Batu Palan Tuhuk/Patahu. Sedangkan pendapat terakhir mengatakan bahwa berkembangnya suatu desa atau pemukiman itu berawal dari masuknya sekelompok missionaris yang mendirikan sekolah.

Berdasarkan penelitian Acep Akbar (2011), beberapa desa di kawasan Hutan Mawas melakukan prilaku pembakaran, namun sebagian besar pembakaran diperuntukkan untuk bertani. Seperti desa Matangai Hilir yang melakukan pembakaran terkendali sebesar 95,8%, 89,6% di antaranya adalah untuk bertani. Desa Katunjung dan Lawang Kajang melakukan pembakaran terkendali sebanyak 100%, dengan peruntukan untuk bertani sebanyak 95,8% di desa Katunjung dan 100% untuk desa Lawang Kajang. Pembakaran untuk bertani di Desa Madara dan Batampang masing-masing sebesar 85,4 dan 70,8%.

Gambar 1. Grafik Presentase Prilaku Membakar Masyarakat Sekitar Hutan Mawas, Sumber: penelitian Acep Akbar (2011). Keterangan: PST (Pembakaran selalu terkendali), PUB (Pembakaran untuk bertani), PTT (Pembakaran tidak terkendali), PTJ (Pembakaran tanpa tujuan jelas)

Beberapa warga Suku Dayak memiliki perspektif yang berbeda dalam memandang kebakaran hutan. Dari persepsi tiga sub Suku Dayak yang hidup di sekitar kawasan Hutan Mawas, yaitu sub Suku Dayak Kapuas (Dayak Ngaju), sub Suku Dayak Maanyan, dan sub Suku Dayak Bakumpay, terdapat persamaan pengetahuan lokal, bahwa jumlah manusia yang bertambah banyak telah menyebabkan jumlah manusia yang indisipliner secara adat meningkat. Sejak zaman dahulu praktek bekerjasama sudah ada dimana menurut istilah Dayak tersebut “handep”, bahkan ada peribahasa “handep isen molang” yang berarti gotong-royong pantang menyerah dianut ketika populasi Suku Dayak sangat sedikit. Demikian pula masyarakat Desa Katunjung mengistilahkan kerjasama dengan istilah “hapakat”. Zaman dahulu, jarak ladang ke rumah rata-rata hanya kurang dari 1 km, sehingga kondisi ladang dapat diawasi setiap saat. Anehnya, menurut pengetahuan tradisional, di zaman dahulu praktek pembakaran yang tanpa diawasi hanya menghasilkan api liar sepanjang kira-kira 10-15 depa saja (10-15 meter). Kecilnya penyebaran api liar tersebut adalah akibat keadaan hutan yang masih baik. 

Pengalamannya berinteraksi dengan alam dalam waktu yang lama, membuat Suku Dayak memiliki pengetahuan lokal mengenai tanda-tanda musim kemarau. Demang Mosie dari Mantangai Hilir mengatakan bahwa “panjang-pandang nyilo jitoh” (kemarau panjang tahun ini) ditandai dengan adanya gerhana bulan. Namun akibat lahan yang terlalu luas, masyarakat banyak yang terpisah-pisah sehingga menghasilkan pengetahuan yang berbeda-beda. 

Mudin Jaman, tokoh adat Dayak Katunjung menjelaskan bahwa tanda-tanda yang berhubungan dengan kemarau di antaranya jika ada “bintang petendo” yang sangat cerah di timur, itu tandanya akhir kemarau. Sedangkan jika bintang tersebut ada di barat, hal tersebut berarti kemarau pendek. Tanda-tanda lain kemarau adalah banyaknya hewan besar turun ke sungai besar. Adanya perkembangan buah yang tidak baik juga merupakan pertanda akan kemarau panjang.

Masyarakat Dayak Lawang Kajang memiliki pengalaman berbeda tentang tanda-tanda musim kemarau yaitu: adanya tanda merah di langit dan ikan-ikan kecil masuk ke sungai-sungai besar akibat sungai kecil kering. Selain itu munculnya akar-akar putih di pinggir sungai merupakan pertanda berakhirnya kemarau. 

Dayak Madara, mengatakan tidak ada tanda-tanda khusus pertanda kemarau kecuali mengeringnya Danau Madara disertai melimpahnya ikan di danau sebagai bertanda musim kering dan rawan kebakaran. Masyarakat Desa Madara telah memberlakukan pembakaran terkendali pada setiap musim berladang dan bagi yang membakar lebih dari 1 hektar diharuskan memperoleh izin kepala desa.

Dayak Bakumpay di Batampang berpandangan bahwa tanda kemarau adalah matahari bergeser ke Barat yang disebut “rawan bakehu” (Kemarau). Selain itu tanda kemarau ditunjukkan oleh pohon kayu “malibamban” dan pohon karet yang “dawen baduruh” (daun berguguran). Pengetahuan masyarakat tentang bulan-bulan musim kering sudah mulai luntur akibat banyaknya gejala-gejala alam yang mengacaukan musim, namun demikian hampir tidak ada perbedaan bahwa bulan-bulan kering di 5 desa contoh yaitu berlangsung antara Juni sampai Oktober namun bisa lebih panjang yaitu dari bulan Mei sampai dengan November. Pada saat menjelang musim penghujan atau akhir musim kemarau, pembakaran serentak sering dilakukan di ladang-ladang atau pembersihan lingkungan beje dan areal pemasangan alat penjerat ikan yang disebut “seha” (areal pemasangan perangkap ikan) khususnya di Desa Batampang dimana mata pencaharian Dayak Bakumpay sekitar 75% penghasil ikan. 

Setiap tindakan pasti ada ganjarannya, begitu pula tindakan beberapa orang yang tidak patuh dengan aturan adat maka akan dikenai hukuman. Denda diberikan kepada siapa saja yang melakukan pembakaran lahan sembarangan dan mengakibatkan kebakaran di tempat lain seperti ladang dan kebun karet orang lain apalagi sampai masuk ke pemukiman mereka. Denda yang dikenakan secara adat terhadap pelanggar disebut “jipen“. Besarnya jipen ditentukan oleh kepala adat sesuai dengan kerugian dan kemampuan orang yang melanggar.

Keserakahan segelintir orang membawa kehancuran, terlebih bila tidak mempertimbangkan keseimbangan alam. Bila kita belajar dari pengetahuan lokal Suku Dayak, mereka hanya membakar hutan untuk bertani. Suku Dayak hanya mengelola ladang tidak lebih dari 3 hektar untuk setiap orangnya. Hal ini membuktikan bahwa Suku Dayak sejak jaman dahulu telah mengelola alam sebatas untuk memenuhi kebutuhan pokoknya dengan tidak serakah dan hidup selaras dengan alam. (LS)

Sumber:

Akbar, Acep. “Studi kearifan lokal penggunaan api persiapan lahan: studi kasus di hutan Mawas, Kalimantan Tengah.” Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan 8.3 (2011): 211-230.

Sumber Foto: beritagar.id