Kisah Pilu Tupang Pitu dan Tsunami Banyuwangi

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Sobat DC pasti tahu dong objek wisata yang ada di Banyuwangi?, naah salah satunya adalah Pantai Pulau Merah. Ciri khas Pantai Pulau Merah terletak pada bukit kecil yang ada di tepi pantai dengan tanah berwarna merah menjadi kombinasi yang indah dengan garis pantai berpasir putih. Ternyata objek wisata ini, 27 tahun yang lalu dilanda tsunami juga sobat, yuuk kita simak ceritanya. 

Dua puluh enam tahun lalu, pada tanggal 2 Juni 1994 terjadi gempa bumi yang berpusat di Samudra Hindia sekitar pukul 18.17 WIB. Pada malah hari beberapa jam setelah gempa, warga menyaksikan bahwa air laut surut padahal seharusnya kondisi laut sedang pasang. Pada dini sekitar pukul 02.00 WIB, terjadi gelombang tsunami yang menghantam pesisir Pantai Selatan Jawa tepatnya di wilayah Kecamatan Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi pada 3 Juni 1994 dini hariPeristiwa kelam ini biasa disebut sebagai tragedi Jumat Pon.

Landscape Pantai Selatan Banyuwangi memang indah sekali, banyak dijumpai perbukitan menghiasi pinggir pantai. Tepat di sebelah timur Pantai Pulau Merah terdapat Bukit Tupang Pitu yang mengukir cerita menarik. Bukit ini mengandung kekayaan alam yang menggiurkan berbagai pihak, kekayaan itu adalah kandungan emas yang melimpah. Kementrian ESDM menetapkan kawasan pesisir selatan jawa sebagai wilayah pertambangan melalui Keputusan Mentri (Kepmen) ESDM, Nomor 1204 K/30/MEM/2014. Salah satu wilayah yang terancam untuk menjadi kawasan pertambangan adalah kawasan Tumpang Pitu.

Beberapa warga Desa Sumberangung meyakini bahwa Tupang Pitu dapat menghalau terjangan tsunami. Tetapi perisai alami ini akan hilang bila pertambangan emas terus berlangsung. Cerita bergulir dari salah satu warga. Ditengah perbincangan, seorang ibu berlalu dengan sekarung kecil tanah di atas boncengan sepedanya. Ternyata apa yang dibawa oleh ibu tersebut adalah tanah yang mengandung emas, hasil menambang liar di Bukit Tumpang Pitu. 

Dulu masyarakat melawan penambangan emas di bawah bendera PT. Bumi Suksesindo yang menurut warga adalah milik orang Jakarta.

“Padahal Bukit Tumpang Pitu itu dulu tetenger kami.”

Tetenger atau penanda, ialah istilah yang diberikan warga nelayan yang menjadikan keberadaan puncak Bukit tersebut sebagai titik acuan pelayaran. Juga fenomena di sekitar Bukit Tumpang Pitu, seperti bila ada awan hitam, dulu dipercaya warga sebagai pertanda buruk untuk urung pergi melaut. Awalnya warga menolak penambangan bukit itu, sebab merasa tidak dilibatkan dalam proses perencanaan pembangunannya, selain tentu hilangnya tetenger mereka. Ternyata dampak yang dirasakan oleh beberapa warga, adalah bukan hanya soal penanda, namun juga berkurangnya hasil tangkapan ikan, karena diduga sedimentasi akibat penggalian bukit yang tampak tinggal separuh itu merusak habitat alami biota laut. Beberapa warga pada 2015 juga sempat dipolisikan sebab dianggap terlalu keras menyuarakan penolakannya terhadap kegiatan penambangan yang merusak tempat kelahiran mereka.

Begitu banyak pembangunan yang tidak memperhatikan risiko bencana, salah satu contohnya adalah penambangan di wilayah Tupang Pitu. Padahal daerah selatan Jawa memiliki risiko bencana tsunami yang tinggi. Sekali lagi, (LS)

Sumber:

Buku Ekspedisi Desatana Kibar Pataka Di Selatan Jawa, 2019

http://walhijatim.or.id/2020/01/mempertahankan-benteng-alam-tumpang-pitu-dari-ancaman-tambang-emas/

Sumber Foto: editor.id