Inspirasi Hutan Adat Kulawi dalam Membangun Resiliensi

PUBLISHED

Disasterchannel.co – Gempa yang terjadi pada 28 September 2018 mengguncang wilayah Kota Palu, Kabupaten Donggala dan Sigi menjadi salah satu peristiwa yang membuka cakrawala kita untuk mengenal daerah yang bernama Kulawi. Kecamatan Kulawi adalah salah satu kecamatan yang dilintasi oleh sesar Palu-Koro. Hal ini yang menyebabkan begitu banyak kerusakan dan kerugian yang dialami daerah Kulawi pasca terjadinya  gempa 2018 silam. Bukan suatu hal yang mudah untuk bangkit dari keterpurukan akibat tertimpa bencana. Namun terdapat suatu keunikan yang dapat kita temukan di daerah Kulawi yang memberikan pembelajaran berharga bila kita meresapinya.

Kulawi merupakan sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah yang memiliki luas 1095,4 km2 dengan jumlah penduduk mencapai 15648 jiwa.[1] Daerah Kulawi merupakan salah satu kecamatan yang termasuk kedalam area Taman Nasional Lore Lindu (TNLL). Bila pergi ke daerah ini, kira-kira menempuh jarak 70 km ke arah selatan dari Kota Palu. Bergerak menyusuri Lembah Palu hingga melewati beberapa desa dengan rata-rata ketinggian berkisar di antara ketinggian 500-800 meter di atas permukaan laut, sebagian besar wilayah Kulawi merupakan perbukitan. Daerah Kulawi merupakan daerah yang sangat menjunjung tinggi adat istiadat. Suku yang berada di daerah ini merupakan suku Kulawi, bahasa yang digunakan di daerah ini adalah bahasa Moma, bahasa ini hampir mirip dengan bahasa Kaili.

Asal usul nama Kulawi menurut legenda yang beradar berasal dari sebuah pohon raksasa yang ditemukan oleh Sadomo, seorang pemburu dari daerah Tuva[2]. Dalam legenda diceritakan bahwa pohon raksasa yang ditemukan oleh Sadomo hanya ditumbuhi oleh dua helai daun yang ukurannya sangat besar. Daun yang menghadap utara melambangkan wilayah kekuasaan Kulawi sampai daerah Salua. Daun yang lainnya bagai payung raksasa yang menghadap selatan melambangkan wilayah kekuasaan adat Kulawi sampai di daerah Kalamanta. Berdasarkan lebar dari daun pohon inilah, maka daerah yang dipayungi oleh kedua helai daun itu lalu diberi nama wilayah adat Kulawi.[3]

Foto : Bantaya – Bangunan tradisional Kulawi yg dijadikan tempat pertemuan non formal

Berdasarkan legenda sejarahnya saja, wilayah Kulawi memang didominasi oleh hutan, terlihat dari latar ceritanya yang berlokasi di hutan. Banyak sekali versi yang mendefinisikan arti dari kata hutan. Menurut K. P. Sagreiya dalam bukunya yang berjudul Forest and Forestry menyebutkan bahwa kata hutan berasal dari bahasa Latin ‘forris’ yang berarti di luar, mengacu pada batas atau pagar umur, dan harus mencakup semua tanah yang tidak diolah dan tidak berpenghuni. Sementara menurut Pasal 1 butir b UU No. 41/1999, hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi SDA hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Berdasarkan dua pengertian ini maka hutan adalah tempat dimana sebagai sebidang tanah yang didominasi oleh pepohonan, tidak diolah dan ditinggali manusia yang di dalamnya terdapat sebuah kesatuan ekosistem saling behubungan.

Letaknya yang berada di antara perbukitan membuat daerah ini sebagian besar didominasi dengan hutan. Sumber daya alam yang melimpah di daerah ini membuat hampir seluruh warga mengandalkan kekayaan sumber daya alam untuk dapat terus hidup. Pengelolaan sumber daya alam dilakukan oleh masyarakat adat Kulawi berdasarkan pengetahuan lokal yang mereka miliki dan dijalankan berdasarkan hukum adat yang ada. Masyarakat adat yang ada di Kulawi, termasuk didalamnya masyarakat adat Desa Mataue dan Desa Lonca yang memiliki cara tersendiri dalam mengelola sumber daya alam termasuk hutan dan lahan pertanian yang dituangkan dalam peraturan adat.

Berikut merupakan peraturan adat mengenai pengelolaan sumber daya alam:

  1. Wana ngkiki, yaitu hutan yang letaknya tinggi dan tidak bisa dikelola atau diambil hasilnya. Kawasan ini di anggap sangat penting bahkan bisa dikatakan kramat. Di area wana ngkiki tidak boleh ada aktivitas manusia, olehkarenanya jarang sekali orang yang berkunjung ke area wana ngkikiWana ngkiki dapat berfungsi sebagai sebagai sumber penyerapan air dan menjaga udara (winara) tetap dalam kondisi baik. Karena jarangnya aktivitas manusia, daerah ini masih amat terjaga keasriannya.
  2. Wana, yaitu hutan yang letaknya ada di bagian bawah wana ngkiki yang merupakan habitat dari flora dan fauna endemik daerah ini. Area ini juga difungsikan sebagai tempat cadangan air atau tangkapan air. Area wana tidak diperbolehkan untuk membuka lahan pertanian karena diyakini dapat menimbulkan bencana alam bila membuka lahan di daerah wanaWana hanya boleh di manfaatkan untuk kegiatan berburu, memancing ikan, mengambil getah damar, bahan wewangian yang biasanya berasal dari pohon gaharu, obat-obatan serta rotan. Sumber daya alam di wana ini merupakan hak penguasaan kolektif di kelolah secara kearifan lokal adat setempat.
  3. Pahawa Pongko yaitu campuran hutan baik hutan semi-primer (Pangale) dan sekunder merupakan hutan bekas kebun yang telah ditinggalkan selama bertahun-tahun oleh pendahulu lebih dari 25 tahun yang lalu sehingga  area ini menjadi hutan kembali dengan ukuran pohon yang cukup besar dan dapat diambil hasil hutannya. Pohonnya sudah tumbuh besar, karena itu untuk menebangnya sudah harus menggunakan “pongko” (tempat menginjakkan kaki yang terbuat dari kayu) yang agak tinggi dari tanah agar dapat menebang dengan baik dan tonggaknya diharapkan dapat tumbuh tunas kembali, sehingga sesuai dengan namanya yaitu pahawa pongkoPahawa artinya ”ganti”. Dalam pemetaan hutan, pahawa pongko dimasukkan dalam kategori pangale.[4]
  4. Oma adalah hutan belukar yang merupakan hutan bekas orang tua atau leluhur berkebun,  hutan ini sering diolah untuk keperluan masyarakat sekitar. Area oma biasanya dimanfaatkan untuk menanam kopi, coklat dan tanaman lainnya.  Oma dibagi menjadi tiga kategori, yaitu:
  5. Oma ntua adalah bekas lahan yang sudah dibiarkan selama 12 hingga 25 tahun, mengingat usianya, jenis ini sudah tua sehingga tingkat kesuburan tanahnya sudah pulih dan dapat diolah kembali sebagai kebun
  6. Oma ngura, yaitu kategori yang lebih muda karena dibiarkan selama 5 hingga 12 tahun. Biasanya lahan masih didominasi semak belukar, pohon-pohon masih berukurna kecil dan dapat ditebas dengan parang.
  7. Oma nete adalah bekas kebun yang ditinggalkanberumur 1 sampai 5 tahun. Biasanya lahan ini masih di dominasi oleh semak belukar.
  8. Balingkea merupakan bekas kebun yang masih baru dan belum sepenuhnya ditinggalkan oleh pemiliknya karena masih ada tanaman yang mungkin masih berbuah, seperti cabai, tomat, terung dan kacang panjang, jagung dan lainnya.
  9. Tomawu merupakan dataran tinggi.
  10. Pampa adalah wilayah yang dikelola untuk kebutuhan pangan.

Melalui pengetahuan lokal yang dilestarikan turun-temurun pada setiap generasi, masyarakat adat Kulawi dapat melakukan pengelolaan sumber daya alam termasuk hutan yang ada disekitar wilayah yang mereka tinggali sebagai wujud dari upaya mitigasi. (LS)

Sumber:


[1] Badan Pusat Statistik Kabupaten Sigi. Kecamatan Kulawi Dalam Angka 2019.

[2] Desa yang terletak di Kec. Gumbasa, merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan Desa Salua Kec. Kulawi

[3] Iksam dkk. 2012. Menemukenali Arsitektur Tradisional Lobo Suku Kulawi Provinsi Sulawesi Tengah. Penerbit Kepel Press. Yogyakarta

[4] Hamzani. 2008. Analisis Manajemen Hutan Adat di Desa Toro Kecamatan Kulawi Kabupaten Donggala. Jurnal Agroland 15 (3) : 210-215