Ingat Bali, Ingat Peristiwa Geger Bali, yuuk Belajar dari Peristiwa ini

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Ingat Bali, pasti ingat lagu Rich Brian seorang Rapper Indonesia yang mendunia dengan nama aslinya rian Imanuel Soewarno. Rich Brian rilis music video berjudul “Bali” berkolaborasi dengan Guapdad 4000, pasti sobat DC langsung sing along niiih lagu Bali.

Semua pasti punya gambaran yang hampir sama dengan Rich Brian tentang Bali. Memikirkan Bali selalu terbayang liburan seru ke segudang destinasi yang nggak ada habisnya, bahkan sosok Rich Brian aja sampai buat single lagu yang judulnya Bali mungkin karena dia rindu dengan indahnya alam di pulau ini. Tapi sobat, di balik tempat wisatanya yang indah, terdapat pula ancaman gempa yang besar. 

Yuuuk kita balik lagi ke tahun 1976, pada 14 Juli di tahun ini terjadi gempa berkekuatan M 6,5 melanda Bali pada pukul 15.13. Gempa ini berdampak sangat parah di Kecamatan Seririt, oleh karenanya dikenal dengan sebutan Gempa Seririt. Gempa Seririt berdampak sangat merusak, menyebabkan sebanyak 573 orang meninggal dunia. Gempa Seririt terjadi pada jarak 5 kilometer sebelah selatan pesisir Laut Bali di Kabupaten Buleleng, dan sekira 65 kilometer barat laut Kota Denpasar. Gempa ini mengakibatkan kehancuran total terutama di Kecamatan Seririt. Sekitar 90 persen rumah dan bangunan Kabupaten Buleleng mengalami kerusakan parah, termasuk gedung sekolah yang runtuh dan membuat 200 orang siswa terjebak.

Selain gempa bumi Seririt yang terjadi tepat 44 tahun yang lalu, catatan sejarah gempa di pulau dewata ini ternyata cukup banyak sobat DC. Tercatat beberapa kali gempa besar yang menyebabkan korban jiwa dan kerugian harta benda, diantaranya gempa tahun 1917, gempa Culik (1979) dan gempa Karangasem (2004). Pada tahun 1917 gempa bumi dahsyat mengguncang seluruh daratan Bali. Akibat gempabumi ini tercatat korban tewas 1500 orang. Gempa bumi dikenal sebagai Gejer Bali yang artinya Bali berguncang. Gempa bumi dahsyat yang kedua setelah Gejer Bali adalah Gempa bumi Seririt yang terjadi pada tanggal 14 Juli 1976. Gempa bumi ini berkekuatan 6.2 Skala Richter dengan episentrum di daratan. Gempa bumi Karangasem pertama (6.0 Skala Richter) terjadi pada tanggal 17 Desember 1979 yang menelan korban tewas sebanyak 25 orang, 47 luka berat. Dampak gempabumi telah meimbulkan puluhan rumah roboh dan ditemukan retakan tanah sepanjang 500 meter. Gempabumi Karangasem kedua (6.2 Skala Ricter), terjadi pada tanggal 2 Januari 2004 menelan seorang korban tewas dan 33 orang luka-luka. Beberapa daerah yang mengalami kerusakan parah adalah daerah Tenganan, Dauh Tukad, Abang, Tohpati, Muncan, dan Bukit.

Catatan sejarah membuktikan bahwa pulau Bali merupakan salah satu wilayah rawan gempa bumi. Hal ini disebabkan karena Bali diapit oleh dua sumber gempa bumi, yaitu zona subduksi di sebelah selatan Bali yang merupakan pertemuan dua lempeng yaitu lempeng IndoAustralia yang bergerak dari selatan ke utara dan lempeng Eurasia yang bergerak dari utara ke selatan. Adapun sebelah utara Bali terdapat zona Back arc trust yang membentang dari utara Bali sampai ke Flores.

Penelitian Bayu Baskara dan kawan-kawan pada tahun 2017 mengemukaan bahwa wilayah Bali memiliki tingkat kerapuhan batuan serta tingkat keseringan gempa bumi dengan nilai tertinggi berada pada daerah sekitar Karangasem Utara dan Buleleng Timur untuk wilayah Bali Utara. Adapun untuk wilayah Bali Selatan berada pada wilayah lautan. Hal ini mengindikasikan bahwa daerah Karangasem Utara dan Buleleng Timur rawan terjadi gempa bumi. Disimpulkan bahwa nilai magnitudo maksimum gempa bumi di Bali berdasarkan data penelitian diperkirakan sebesar 7,1 Mw. Bali merupakan daerah rawan gempa bumi dimana daerah paling rawan untuk didaratan adalah Karangasem dan Buleleng, serta Bali memiliki potensi tsunami yang cukup tinggi dengan dampak terbesar adalah Pantai Kuta, Buleleng Timur dan Karangasem Utara dengan status siaga. 

Peristiwa Geger Bali, harus kita ingat baik-baik ya Sobat DC. Melalui peristiwa ini kita harus belajar bahwa pengetahuan mengenai sejarah gempa itu sangat penting untuk membangun kesiapsiagaan. Bila fasilitas evakuasi dan lain yang menunjang telah tersedia di Bali, namun wisatawannya tidak mengerti apa yang harus mereka lakukan ketika terjadi bencana, maka skenario evakuasi pun akan gagal dilakukan. Yuuk kita sama-sama belajar untuk lebih siapsiaga dalam menghadapi bencana, termasuk di tempat pariwisata. (LS)

Sumber:

“Sejarah Gempa Bali 1976 yang Mirip dengan Gempa 5,1 M 2019”, https://tirto.id/elFL

http://balai3.denpasar.bmkg.go.id/sejarah-gempa-merusak

Bayu Baskara, I Ketut Sukarasa, Ardhianto Septiadhi. 2017. Pemetaan Bahaya Gempa Bumi Dan Potensi Tsunami Di Bali Berdasarkan Nilai Seismisitas. Fisika Vol. 18 No. 1 Pebruari 2017 : 20 – 26. Bali- Indonesia

Sumber foto : beritagar.id