Danau Toba dan Kearifan Lokal Masyarakatnya dalam Menjaga Alam

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Banyak orang bilang bahwa air adalah sumber kehidupan. Menjaga alam di sekitar sumber air menjadi sebuah ikhtiar untuk menjaga kualitas air sebagai sumber kehidupan. Sebagai masyarakat yang telah lama mendiami suatu wilayah, pasti memiliki cara tersendiri untuk menjaga dan memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya. Hal ini juga dimiliki oleh beberapa suku yang mendiami daratan di sekeliling Danau Toba. Budaya kental untuk menjaga alam dipegang teguh oleh masyarakat sekitar memiliki daya tarik yang luar biasa menarik. Salah satu daya tarik dari budaya yang dimiliki masyarakat sekitar Danau Toba adalah berbagai kearifan lokalnya dalam menjaga alam. 

Kecamatan Harian adalah salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Samosir. Wilayah ini berada di sebelah barat Danau Toba. Wilayah Harian adalah salah satu wilayah yang bersentuhan langsung dengan Danau Toba. Ekosistem Danau Toba dipengaruhi oleh peran hutan di sekeliling danau tersebut, salah satunya adalah hutan yang berada di daerah Harian. Hutan berfungsi dalam siklus hidrologi danau. Menurut kearifan masyarakat wilayah Harian, hutan dikuasai oleh mahluk gaib. Oleh sebab itu sebelum pohon yang diinginkan ditebang di hutan ada beberapa hal yang dilakukan yaitu berkomunikasi dengan roh (Huhuasi). Lalu mereka menancapkan kampak (tekke) ke kulit pohon sebagai pertanda mereka telah memilih pohon tersebut. Bila keesokan harinya kampak (tekke) masih ada di pohon tersebut maka mereka boleh menebang pohon tersebut. Selanjutnya kayu yang sudah ditebang disambut di desa dan dililitkan kain (ulos) dan tikar. Tujuan kegiatan ini agar kayu tersebut tidak mencelakakan penggunanya. Etika menebang dijaga dengan ketat. Para pekerja diawasi pengetua desa. Pekerja harus memperhatikan arah mana pohon roboh. Tujuannya untuk meminimalkan pohon kecil menjadi korban dan mengurangi resiko pohon yang ditebang tidak patah. 

Kearifan ini hampir sama seperti yang dilakukan oleh masyarakat Baduy dan Indrawardana yang menjaga hutannya berdasarkan larangan yang ditentukan oleh leluhurnya. Etika masyarakat Harian dalam melestarikan hutannya perlu tetap dilestarikan seperti yang dilakukan oleh masyarakat Bali dalam memelihara hutan bambu dengan konsep palemahan yaitu pengetahuan dan sistem hukum yang telah mengatur aksi atau tindakan hubungan manusia dengan lingkungan. 

Terdapat pula kearifan lokal masyarakat Batak Toba khususnya yang tinggal di Desa Tomok Kecamatan Simanindo yang berkaitan dengan mitigasi bencana kecelakaan pada transportasi air, wabah penyakit, kekeringan tercermin dalam tradisi “Martamiang” sebagai bentuk mitigasi sebelum terjadinya bencana yakni dengan melakukan permohonan berkat serta penyampaian sesajen di Danau Toba agar dijauhkan dari bencana kecelakaan pada transportasi air. 

Mangelek sebagai bentuk mitigasi pasca terjadinya bencana, melalui ritual yang dilakukan untuk membujuk serta meminta petunjuk kepada penghuni Danau Toba agar dibantu dalam pencarian korban akibat bencana di Danau Toba. 

Persembahan sebagai bentuk mitigasi pasca terjadinya bencana yakni permohonan kepada Debata (tuhan) agar wabah penyakit yang sedang melanda masyarakat akibat dari kekeringan segera dijauhkan. 

Tradisi perladangan (Mamonggar, Manggohi, Mangalaelae, mamonamona) yakni dengan aturan pemilihan waktu berladang, pemilihan jenis tanaman yang boleh ditanam. Hal ini merupakan bentuk mitigasi sebelum terjadinya bencana seperti wabah penyakit serta gagal panen.

Selain menjalankan kearifan lokal yang telah dijabarkan di atas, baik di daerah Desa Tomok maupuan di daerah Harian, keduanya memiliki berntuk kearifan lokal yang sama dengan melarang membuang sampah di danau. Kearifan lokal dan kearifan tradisional yang masih dilakukan seperti, dilarang membuang sampah, penggunaaan pakan ikan yang ramah lingkungan, dan gotong-royong. 

Masyarakat percaya bahwa setia tempat memiliki penghuninya masing-masing. Sama seperti halnya dengan Danau Toba yang diyakini memiliki penunggunya sehingga kerapkali masyarakat setempat maupun yang datang dari luar diperingatkan untuk selalu menjaga sopan santun serta menjaga kebersihan. Kearifan lokal masyarakat di sekitar Danau Toba semakin hari-semakin hilang saja jejaknya. Tergerusnya kearifan lokal menjaga ekositem Danau Toba membawa petaka, kenyataannya Danau Toba yang ada saat ini sudah tercemar dan banyak sampah. (LS)

Sumber:

Harahap R.M. 2020. Kearifan Tradisional Batak Toba Dalam Memelihara Ekosistem Danau Toba. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Antropologi (SENASPA), Vol. 1, Hal 1 – 18

Sidabutar D. 2020. Kearifan Lokal Masyarakat Batak Toba dalam Mitigasi Bencana di Danau Toba. Skripsi Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

Sumber Foto: aman.or.id