Cerita Pengelolaan Alam dengan Arif dan Bijak Melalui Pengetahuan Lokal Lubuk Larangan

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Menikmati rendang bercampur sayur bersantan tak lupa dilengkapi sambal dan lalapan, semua bersatu menjadi teman indah saat makan siang. Pesona kuliner Sumatera Barat memang sudah tidak diragukan lagi sedapnya. Apalagi rendang yang sudah dinobatkan menjadi salah satu makanan terenak di dunia.

Setelah kenyang menikmati masakan padang, kemudian disasterchannel.co kembali menulis mengenai pesona Sumatera Barat yang belum banyak dikuak. Salah satunya adalah pesona budaya dan pengetahuan lokalnya dalam mengelola alam.

Di sebuah nagari yang bernama Sialang yang berada di berada di Kecamatan Kapur IX, Kabupaten Limapuluh Kota, menjadi tempat dimana pengetahuan lokal mengenai pengelolaan sumber daya prikanan muncul. Pengetahuan lokal bersumber dari budaya setempat dianggap menjadi solusi dari berbagai masalah dalam mengelola lingkungan. Sebab pengetahuan lokal lahir dari buah pelajaran menghadapi berbagai dinamika yang terjadi di lingkungan. Secara umum, pengetahuan lokal muncul dari berbagai bentuk, di antaranya muncul dalam bentuk larangan atau pantangan.

Salah satu bentuk pengelolaan sumber daya sungai secara arif dan bijaksana adalah Lubuk Larangan yang dilakukan Masyarakat Nagari Sialang. Penelitian Christina Yuliaty dan Fatriyandi Nur Priyatna, 2014 mengungkap pengetahuan lokal Lubuk Larangan. Dalam penelitiannya dijelaskan bahwa Lubuk Larangan merupakan salah satu bentuk kearifan yang berkembang pada masyarakat lokal dalam memanfaatkan sumber daya perikanan perairan sungai di Sumatera Barat. Lubuk Larangan tersebut merupakan perwujudan prinsip konservasi yang dilakukan oleh masyarakat terhadap sumber daya perikanan perairan sungai.

Dilihat dari susunan katanya, Lubuk Larangan terdiri dari dua kata yaitu ‘Lubuk’ dan ‘Larangan’. Lubuk dapat diartikan sebagai bagian yang dalam dari sebuah sungai, dimana umumnya menjadi tempat berkembangbiaknya ikan. Sementara kata Larangan dapat diartikan sebagai aturan yang melarang suatu perbuatan. Lubuk Larangan secara utuh dapat diartikan sebagai suatu area dari sungai yang secara alami merupakan tempat bibit ikan ikan atau biota perairan lainnya. Area tersebut merupakan area terlarang untuk diambil hasil ikan dan biota lainnya dalam jangka waktu tertentu. Area ini dikelola oleh masyarakat melalui peraturan nagari. 

Pengetahuan lokal Lubuk Larangan merupakan sebuah hasil dari pemaknaan filosofi hidup yang diaplikasikan dalam bentuk kelembagaan pengelolaan sumber daya perairan. Lubuk Larangan diterapkan dengan cara melakukan penutupan sementara suatu kawasan penangkapan ikan di perairan umum daratan, khususnya daerah aliran sungai dalam kurun waktu tertentu.

Lubuk Larangan Anak Nagari hanya membagi wilayah perairan menjadi dua zona, yaitu zona inti dan zona produktif (pemanfaatan). Zona inti di dalam Lubuk Larangan berfungsi sebagai zona konservasi, kawasan khusus dilarangnya aktivitas penangkapan ikan yang berada di Ngungun dengan panjang 100 m dan lebar 30 m. Sementara zona produktif yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat (zona pemanfaatan) yang meliputi Ampang Gadang I, Pantai Lokna, Lubuk Jao dan Like Lunguo dengan panjang 600 m dan lebar 30 m. Pemanfaatan ikan pada Lubuk Larangan ditujukan untuk pembangunan mesjid dan pembiayaan kegiatan nagari.   

Lubuk Larangan merupakan praktek konservasi yang didasarkan pada pengetahuan lokal masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan dalam jangka waktu yang tidak terbatas. Lubuk Larangan juga memiliki fungsi ekologi, fungsi ekonomi, sosial dan budaya. 

Lubuk Larangan adalah salah satu pengetahuan lokal dari sekian banyak pengetahuan lokal yang telah membudaya di berbagai penjuru Indonesia. Aturan yang dibuat dalam bentuk larangan menjadi salah satu cara ampuh untuk melindungi alam. (LS)

Sumber:

Yuliaty, C., & Priyatna, F. N. (2014). Lubuk larangan: dinamika pengetahuan lokal masyarakat dalam pengelolaan sumber daya perikanan perairan sungai di Kabupaten Lima Puluh Kota. Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan9(1), 115-125.

Photo: merdeka.com