Budaya Mencegah Penyebaran Wabah Penyakit Ala Masyarakat Kaili

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Selain memiliki banyak sekali pengetahuan lokal mengenai bencana, ternyata masyarakat Kaili di Sulawesi Tengah juga memiliki pengetahuan lokal yang berhubungan dengan pengendalian wabah penyakit. 

Keunikan masyarakat Kaili tercermin dalam budaya yang mereka miliki. Buah dari adaptasi dengan alam, membuat masyarakat Kaili begitu cerdas menjalankan hidup mereka. Demi melindungi alam dan menjaga keberlangsungan hidup, masyarakat Kaili membuat beberapa aturan yang tertuang dalam hukum adat.

Budaya masyarakat Kaili diwariskan secara turun-temurun kepada setiap generasi dalam bentuk hukum adat sebagai suatu tatanan sosial budaya yang harus ditaati. Salah satu bentuk budaya yang diwariskan adalah hukum dan sanksi yang berlaku di masyarakat Kaili. Hukum adat masyarakat Kaili diberlakukan untuk menata kehidupan sosial kemasyarakatan yang telah hidup dan berkembang yang diatur sesuai nilai-nilai dan norma-norma yang disepakati secara turun-temurun meliputi Posumba (upacara), Ampen (perilaku), dan Kainggau(tindakan)[1]

Ada beberapa cara yang dilakukuan oleh masyarakat Kaili untuk menjaga keharmonisan alam, salah satunya dengan membuat hukum adat dan sanki yang berhubungan dengan penggunaan dan pemanfaatan sumber daya alam. Hukum dan sanksi adat Ombo Nungata merupakan salah satu upaya pencegahan kerusakan lingkungan. 

Secara etimologi kata Ombo memiliki arti rusak. Kata Ombo juga bisa diartikan runtuh. Arti lain dari Omboadalah bencana duka pada negeri seperti wafatnya seorang raja atau bangsawan/pembesar ataupun bencana akan kepunahan habitat binatang dan tumbuhan tertentu pada saat atau bencana lingkungan hidup.[2]

Terdapat dua tujuan besar dijalankannya Ombo Nungata, yaitu agar masyarakat dapat menaati aturan yang telah disepakati bersama (tokoh adat, pemangku adat, dan masyarakat umum) dan untuk menjaga, melindungi dan melestarikan semua jenis-jenis Ombo demi menjaga keseimbangan alam.

Terdapat satu aturan yang spesifik dan erat hubungannya dengan wabah penyakit, yaitu:

Ombo Pekanolu Nudua (menjaga terjangkitnya wabah penyakit) 

Masyarakat Kaili memiliki cara tersendiri dalam mencegah penyebaran wabah penyakit dengan membuat aturan yang melarang masyarakat Kaili untuk membuang bangkai hewan, sisa makanan, kotoran hewan sembelihan di sungai dan laut di lingkungan pemukiman penduduk, memelihara dan melepas ternak piaraan yang terjangkit penyakit. 

Ombo Pekanolu Nudua adalah sebuah wujud aturan yang terbentuk dari buah proses adaptasi dan pemikiran mengenai penyebaran wabah penyakit. Di dalamnya terdapat larangan yang mengemukakan tidak boleh membuang bangkai hewan di sungai dan laut di lingkungan pemukiman. Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa bangkai dapat menjadi tempat bersemayam beberapa jenis bakteri dan virus serta mikroorganisme lainnya yang berbahaya bagi tubuh manusia. Belum lagi bila dibuang sembarangan maka bakteri, virus dan mikroorganisme lainnya akan menyebar dan berpotensi menyebabkan wabah. Pengendalian wabah penyakit pada hewan ternak pun tercermin dalam Ombo Penakolu Nudua yang tidak membolehkan hewan terjangkit penyakit untuk dilepas. 

Bila kita menyelam lebih jauh mengenal masyarakat Kaili, mungkin masih banyak hal menarik lainnya yang masih tersimpan dan perlu dikuak lebih jauh. Selain tulisan ini, disasterchannel.co masih akan menyajikan artikel-artikel mengenai Sulawesi Tengah dan bencana dalam kurun waktu bulan September tahun ini. (LS)

Sumber Photo: celebes.co


[1] Atura Nuada Ante Givu Nuada To Kaili Ri Livuto Nu Palu 

[2] Ibid