Belajar dari Kearifan Lokal Mayarakat Lamalera dalam Mengelola Sumberdaya Laut

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Nusa Tenggara Timur adalah salah satu wilayah di Indonesia yang rawan terhadap bencana. terdapat 11 potensi bencana itu di antaranya tsunami, banjir, gunung meletus, kejadian luar biasa penyakit, puting beliung, serta kekeringan dan lain-lain.

Nusa Tenggara Timur merupakan wilayah di Indonesia yang masuk dalam kategori rawan akan bahaya gempa bumi, karena diapit oleh dua zona penyebab gempa bumi, (zona subduksi di sebelah selatan dan patahan naik busur belakang di sebelah utara). Wilayah ini menjadi rentan karena kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Keadaan ini dapat mengancam keselamatan jiwa serta harta benda penduduk di wilayah Nusa Tenggara Timur, termasuk di dalamnya wilayah Lamalera.

Mengingat wilayahnya yang rawan terhadap bencana, maka seharusnya pembangunan di setiap kabupaten/kota di provinsi tidak mengabaikan kajian risiko bencana, sebagai antisipasi agar tidak berakibat fatal saat terjadi bencana. Ancaman seolah bertambah ketika terdapat industri ekstraktif yang muncul di daerah Nusa Tenggara Timur. Keseimbangan ekosistem mulai terganggu ketika pemerintah daerah mengeluarkan izin untuk pertambangan emas.  Keputusan ini bertolak belakang dengan kehidupan masyarakat Lamalera yang memiliki kearifan lokal dalam menjaga ekosistem lingkungan.

Lamalera merupakan sebuah kampung yang terletak di Kabupaten Lembata Nusa Tenggara Timur (NTT). Secara terminologi kata “Lamalera” menurut bahasa Lamaholot yaitu bahasa daerah di kawasan Flores Timur, berasal dari kata lama berarti piringan atau cakram dan “lera” berarti matahari, sehingga Lamalera berarti pinggiran/cakram matahari. Masyarakat Lamalera yang memiliki praktik hubungan baik dengan alam menolak tindakan tersebut, karena menurut mereka hal tersebut akan menimbulan kerusakan ekosistem. 

Masyarakat Lamalera merupakan masyarakat yang memandang laut dan darat mempunyai hubungan pengaruh mempengaruhi secara timbal balik. Hal ini senada dengan yang dikatakan Barker dalam Sarwono (2005) bahwa perilaku dan lingkungan merupakan dua hal yang saling menentukan dan tidak dapat dipisahkan. Apa yang dilakukan seseorang di darat akan mempengaruhi apa yang akan terjadi di laut, begitu pun sebaliknya. Pengetahuan mereka terhadap hubungan laut dan alam memunculkan persepsi bahwa prilaku yang sesuai dengan norma yang dianut harus selalu dilakukan agar ekosistem selalu stabil dan dapat dimanfatkan secara berkelanjutan. Keyakinan ini pula yang menjadikan prosesi penangkapan paus yang merupakan mata pencaharian utama di Lamalera mengandung nilai dan norma yang khas.

Daerah Lembata adalah daerah yang tergolong kering dan gersang. Di daerah ini sulit untuk melakukan pertanian terlebih untuk tanaman tanaman yang membutuhkan banyak air. Masyarakat Lembata mengandalkan kelangsungan hidupnya dengan melaut. Salah satu kearifan lokal dalam mengelola sumber daya alam yang paling terkenal di daerah ini adalah penangkapan ikan paus.

Penangkapan paus oleh nelayan Lamalera dilakukan dengan menggunakan peralatan yang sederhana yaitu layar, tali (yang terbuat dari benang kapas, daun gebang dan serat kulit waru), pancing, tempuling atau harpun, peledang (perahu) dari kayu, sampan, galah tempat menamcapkan harpun untuk menombak, alat untuk menggayung air, gentong air, dan faje (alat untuk mendayung). Hal ini sangat berbeda sekali dengan yang dilakukan oleh Jepang, dimana mereka menggunakan peralatan yang merusak lingkungan. Penangkapan paus ini pun bertujuan hanya untuk konsumsi bukan untuk keperluan niaga yang bertujuan mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya.

Selain teknik penangkapan, masyarakat pun mengatur jenis dan kondisi paus yang dapat ditangkap yaitu paus sperm yang dalam kondisi tidak hamil. Paus biru yang dilindungi bukan menjadi sasaran mereka. Berdasarkan mitologi yang mereka yakini secara turun temurun, paus biru pernah berjasa menolong orang Lamalera yang mengalami kecelakaan di laut. Oleh karenanya, paus biru harus dihormati dan tidak boleh ditangkap.

Masyarakat Lamalera tidak hanya mempunyai kearifan terhadap sumber daya alam, namun mereka juga mempunyai kearifan yang sangat mulia terhadap sesamanya. Mereka menempatkan para janda, fakir miskin dan anak yatim piatu pada posisi utama dalam pembagian hasil laut. Hal ini menunjukkan tingginya naluri prososial yang dimiliki oleh masyarakat Lamalera.

Pengetahuan yang mereka miliki tentang alam memunculkan persepsi tersendiri yang tertuang dalam setiap prilaku menjaga keseimbangan alam. Masyarakat Lamalera memanfaatkan sumber daya alam secara arif dan bijaksana sesuai dengan kebutuhan mereka tanpa diselimuti keserakahan. (LS)

Sumber: 

Kurniasari, N., & Reswati, E. (2011). Kearifan Lokal Masyarakat Lamalera: Sebuah ekspresi hubungan manusia dengan laut. Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan6(2), 29-33.

mediaindonesia.com/nusantara/189912/bpbd-ada-11-potensi-bencana-di-nttNusa

sumber foto: hipwee.com