Bobeto, Sumpah Turun Temurun Kampung Kalaodi untuk Menjaga Alam

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Lamunan penulis mulai merambah jauh hingga ke negeri di Indonesia timur, mana kala terhipnotis oleh keindahan sebuah daerah di Maluku Utara. Nun jauh di sana, tepatnya di Pulau Tidore, terdapat sebuah tempat indah bernama Kalaodi. 

Kalaodi adalah salah satu kelurahan yang areanya masuk kedalam kawasan Hutan Lindung Tagafura. Kelurahan Kalaodi membawahi 4 lingkungan kampung, yaitu Golili, Dola, Kola, dan Suwom. Keempat lingkungan ini terletak pada bukit-bukit yang saling berjauhan dan dipisahkan oleh hutan serta kebun-kebun. Pusat pemerintahan kelurahan berada di Kampung Dola.

Lokasinya yang berada pada ketinggian ± 900 mdpl, menjadikan kampung ini begitu sejuk dan nyaman untuk ditinggali. Tanahnya yang subur membuat masyarakat berkebun, kebanyakan warga menanam cengkeh, pala dan bambu. Hingga sekarang, kawasan Kalaodi masih menjadi salah satu penghasil pala dan cengkih terbaik di Indonesia. 

Gambar 1. Hamparan kawasan pegunungan di Kelurahan Kalaodi, Tidore Timur (sumber: Hairil Hiar/Kieraha.com)

Alamnya yang begitu lestari, di tengah krisis ekologi yang melanda berbagai daerah di penjuru negeri, menjadi pembeda yang signifikan antara kelurahan Kalaodi dan kelurahan lainnya. Rasa penasaran terus tumbuh dan ingin segera mengungkap rahasia mengapa alam di sini begitu terjaga.  

Jawaban muncul dari kearifan lokal yang bernama BobetoBobeto merupakan sumpah leluhur masyarakat Kalaodi, berupa sebuah perjanjian manusia dengan alam yang menjadi itikad baik sekelompok manusia untuk hidup di dalamnya, berdampingan, dan dengan cara-cara baik memperlakukan alam. Bobeto bermakna janji tak berbuat jahat, jujur dan selalu menjaga alam.

Bobeto yang sudah berjalan secara turun-temurun dan melintasi banyak generasi sampai saat ini. Terdapat petuah leluhur Kalaodi tentang alam yang terus dipegang teguh oleh masyarakat, petuah tersebut berbunyi:

“Nage dahe so jira alam, ge domaha alam yang golaha so jira se ngon”

“Berarti siapa saja yang merusak alam maka akan dirusak alam”. 

Masyarakat memiliki kepercayaan bahwa tidak boleh menebang atau merusak pohon-pohon tertentu yang diyakini akan berdampak buruk untuk manusia. Sebuah hubungan sebab akibat dalam dimensi supranatural. Hal ini dipercaya karena terdapat mahluk yang mendiami lembah dan bukit yang disebut penjaga. Aturan-aturan terus dilakukan bukan karena percaya (bertuhan) kepada alam tetapi adalah sebuah upaya memuliakan penjaga alam.

Bobeto adalah suatu Kearifan Lokal yang dimiliki oleh masyarakat Kampung Kalaodi di Tidore yang diwariskan para leluhur dan masih dilestarikan dari generasi ke generasi sampai sekarang merupakan suatu kesadaran pemikiran tentang hubungan manusia dengan alam. Bagi mereka, merusak alam bukan hanya melukai leluhur, tapi juga membawa kesengsaraan bagi orang-orang di Kota Tidore.

Salah satu implementasi Bobeto terdapat dalam ritual Paca Goya. Ritual Paca Goya, yaitu tradisi turun0temurun berupa penyelenggaraan suatu kegiatan masyarakat Kelurahan Kalaodi membersihkan tempat yang dianggap keramat seperti bukit dan gunung. “Paca” dalam bahasa Tidore, bermakna menyapu atau membersihkan dan “Goya” berasal dari frasa Goi berarti suatu waktu berkunjunglah kesana (tempat keramat).

Usai panen, seorang pemimpin adat yang disebut Suwohi Buku Se Dou menetapkan hari kamis sebagai waktu untuk masyarakat menghentikan aktivitas mereka selama tiga hari. Masyarakat dilarang pergi ke perkebunan, tidak boleh berdagang, dan tidak melakukan pekerjaan apapun. Setelah sebelumnya melakukan pembersihan tempat atau kawasan keramat yang diwariskan oleh para leluhur dalam bentuk upacara adat Ritual Paca Goya. Menyepi ala Kelurahan Kalaodi bermaksud untuk menghormati paca goya yang telah dilakukan.

Lika-liku perjalanan kehidupan masyarakat yang pernah mengukir sejarah melewati peristiwa alam seperti bencana banjir dan longsor. Pengalaman ini telah mengubah sikap dan pemikiran masyarakat dalam mengelola lingkungan. Perubahan iklim yang berimbas pada cuaca tak menentu membuat warga dengan para pemangku adat mengambil keputusan mengatasi dampak yang ditimbulkan. 

Warga yang memiliki lahan diwajibkan memperbanyak tanam bambu di bagian tebing dan pinggir sungai. Hal ini dilakukan sebagai pola adaptasi ini dengan tujuan untuk menahan erosi dan menampung air saat turun hujan. Sehingga, dalam kondisi cuaca yang tidak menentu itu dapat mengatasi longsor dan kebutuhan air saat kemarau panjang masih dapat terpenuhi. 

Proses adaptasi ini juga terbentuk dari ajaran Bobeto dari leluhur Kalaodi. Bobeto ini lah yang menjadi panduan bagi warga pegunungan Kalaodi untuk membuka lahan dan mencari nafkah. Ajaran ini benar-benar mengajarkan setiap generasi untuk menjaga alam sekitarnya.

Tak banyak orang yang berumpah untuk menjaga alam disekitarnya, namun hal ini begitu berbeda dengan warga Kalaido melalui sumpahnya dalam Bobeto. Bayang-bayang keindahan terus mengahantui imajinasi di otak ini. Kemudian, lamunan penulis pun terhempas ketika tulisan ini diakhiri dengan tanda titik.(LS)

Sumber:

Teng, I. (2017). Bobeto Sebuah Nilai Kearifan Lokal Pembentuk Ruang Ritual antara Manusia dengan Alam di Kalaodi-Tidore. Local Wisdom9(1), 12-22.

https://baktinews.bakti.or.id/artikel/kalaodi-kampung-ekologi-penjaga-tidore