Asal Usul Nama Kampung Banceuy dan Hubungannya dengan Bencana

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Seperti ibu dan ayah yang menamai buah hatinya, pasti memiliki arti tersendiri dari setiap katanya. Begitu pula dari penamaan sebuah tempat, pasti ada artinya. Nama-nama yang melekat pada suatu daerah dapat diperoleh berdasarkan ciri-ciri tempat, ciri-ciri biologis, kedudukan dan cerita-cerita yang pernah terjadi. Ilmu yang mempelajari nama-nama geografis suatu daerah disebut dengan toponimi. Dalam toponimi dipelajari mengapa suatu unsur dinamakan demikian oleh masyarakat, bagaimana mencatat nama yang diucapkan oleh masyarakat setempat ke dalam tulisan dalam bahasa nasional, huruf-huruf tertulis yang digunakan untuk fonetik suatu nama.

Toponimi yang erat kaitannya dengan bencana kami temukan pada nama Kampung Banceuy. Kampung Banceuy terletak di Desa Sanca, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang. Kampung ini adalah salah satu kampung adat yang ada di Kab. Subang. Di kampung ini kita masih bisa menyaksikan perhelatan berbagai macam upacara adat, di antaranya adalah Upacara Ngaruat Bumi, Upacara Hajat Solokan, Mapag Cai, Mitembeyan, Netepkeun, Nganyaran, Hajat Wawar, Ngabangsar, dan Kariaan.

Tradisi yang diwujudkan dalam berbagai macam upacara adat adalah salah satu bentuk mitigasi bencana masyarakat Kampung Banceuy dalam melestarikan lingkungannya. Selain itu, praktik budaya yang masih lestari menjadi daya pikat wisata tempat ini. 

Selain begitu banyaknya upacara adat yang masih lestari hingga kini, Kampung Banceuy juga punya keunikan lain. Asal mula nama Kampung Banceuy sendiri adalah sebuah keunikan yang erat kaitannya dengan bencana. 

Dahulu, Kampung Banceuy bernama kampung Negla. Menurut cerita dari leluhur, dahulu Kampung Negla ditinggali oleh tujuh keluarga. Keluarga-keluarga ini membangun rumah dan tinggal menetap di sana, hingga suatu ketika terjadi bencana angin besar yang menimpa kampung ini. 

Akibatnya beberapa rumah mengalami kehancuran, mereka pun mulai bangkit dan kembali membangun hunian. Menanggapi bencana yang baru terjadi, membuat seluruh isi kampung ini melakukan musyawarah. Mereka bermusyawarah untuk kembali untuk membangun kampung agar terhindar dari bencana di masa depan dan mencari jalan keluar dari masalah yang ada.  

Dalam musyawarah dan memutuskan hal yang akan dilakukan di masa depan, mereka mengundang seorang paranormal. Ternyata, sang paranormal menyarankan beberapa hal untuk keselamatan dan kedamaian kampung tersebut. Pertama, kampung harus dipimpin oleh keturunan Aki Ito. Kedua, warga penduduk harus melaksanakan ruwatan bumi. Ketiga, kampung tersebut harus diganti namanya. Untuk memberi nama baru kampung mereka, mereka memberi nama Banceuy, yang diambil dari kata “ngabanceuy” yang berarti musyawarah. Mereka (para pendahulu kampung itu) melakukan musyawarah atau ngabanceuy untuk mencari keselamatan dan kedamaian kampung tersebut. Sejak saat itu, di Kampung Banceuy selalu diselenggarakan Upacara Ngaruat Bumi.

Penamaan Kampung Banceuy menandakan bahwa wilayah ini memiliki sejarah bencana angin puting beliung. Sejarah bencana dapat menjadi pertanda bahaya yang harus diwaspadai oleh warga. Sebab, terkadang kita akan menemukan ancaman bencana yang spesifik yang diturunkan oleh para leluhur ke generasi berikutnya melalui nama tempat.

Sumber:

Supriatna, E. (2011). Kajian Nilai Budaya Tentang Mitos Dan Pelestariaan Lingkungan Pada Masyarakat Banceuy Kabupaten Subang. Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research3(2), 278-295.

Yulius, Triyono. 2011. Identifikasi Pulau Berdasarkan Kaidah Toponimi Di Kepulauan Togean Provinsi Sulawesi Tengah. Pusat Litbang Sumberdaya Laut dan Pesisir, Badan Litbang KP, KKP. Globë Volume 13 No 1: 85 – 93

Foto: mycity.co.id