Alam Pikir Masyarakat Tradisional Terhadap Sungai

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Setelah membaca artikel tulisan Iqbal Ramadhan dengan  judul “ Sungai  Dari Pusat Peradaban ke Tempat Pembuangan” dalam laman disasterchannel.co, kita bisa melihat bagaimana manusia modern di Indonesia sangat bersifat antroposentri terhadap sungai. Hal tersebut membuat penulis ingin membongkar bagaimana pandangan masyarakat tradisional  yang berada di Indonesia, tentang cara pandang mereka melihat sungai. Melihat alam pikir masyarakat tradisional tentulah sangat penting sekali, khususnya bagi kita yang tinggal di perkotaan. Masyarakat tradisional yang kehidupannya sangat bergantung dengan alam, tentunya memiliki metode sendiri untuk menjaga alam sebagai sumber penghidupan mereka. 

Masyarakat Baduy adalah salah satu masyarakat tradisional yang menurut penulis memiliki pandangan unik terhadap sungai yang ada di wilayah mereka. Masyarakat Baduy merupakan masyarakat yang berada di daerah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Suku Baduy sendiri terbagi menjadi dua, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. pada pembahasan kali ini penulis akan berfokus pada Baduy dalam, dikarenakan Baduy Dalam masih mempertahankan adat dan tradisinya. Mereka masih menjalankan ragam agama serta budaya leluhur, serta melarang teknologi maupun kendaraan modern. Masyarakat Baduy dalam terletak di tiga desa yaitu Cibeo, Cikartawana dan Cikeusik.

Sungai bagi masyarakat Baduy Dalam merupakan hal yang sangat penting dan vital bagi kehidupan mereka. Bagi masyarakat Baduy sungai adalah sumber penghidupan domestik mereka, seperti mengambil air untuk kebutuhan minum dan keperluan lainnya. Maka masyarakat Baduy membagi sungai menjadi tiga bagian.  Yang pertama adalah bagian hulu sungai yang dipakai untuk mandi, sedangkan untuk mengambil air untuk kebutuhan rumah tangga biasanya masyarakat Baduy Dalam mengambil dari sumber mata air. Lalu bagian yang kedua adalah bagian tengah yang digunakan untuk mencuci, dan bagian terakhir atau hilir digunakan untuk keperluan membuang hajat. Selain itu masyarakat Baduy Dalam juga melarang komunitasnya untuk menggunakan sabun untuk mandi maupun mencuci, dikarenakan menurut mereka hal tersebut akan merusak ekosistem sungai.

Pembagian sungai dalam alam pikir masyarakat Badui serta pelarangang pengunaan sabun merupakan salah satu contoh bagaimana masyarakat tradisional Baduy Dalam memperlakukan lingkungan. Sungai bagi tempat kehidupan dan penghidupan mereka haruslah dijaga ekosistemnya dengan cara pelarangan sabun ketika mandi ataupun mencuci. Selain itu pembagian kategori sungai merupakan bentuk perlindungan masyarakat Baduy Dalam terhadap kebersihan air sungai, yang di mana air sungai tersebut akan digunakan untuk keperluan rumah tangga masyarakat Baduy Dalam. Walaupun masih ada kekurang dari konsep tersebut yaitu pembuangan hajat di sungai, pelarangan pemakaian sabun bagi masyarakat Baduy merupakan hal yang sangat unik karena berhubungan dengan pencemaran sungai dari zat zat kimia yang berada dalam sabun. 

Selanjutnya kita akan pergi ke desa Bajayau, Kecamatan Daha Barat, kabupaten  Hulu Sungai selatan, Kalimantan Selatan. Masyarakat di desa Bajayau memiliki konsep sendiri terhadap sungai, perlu di ketahui desa tersebut dilewati oleh sebuah sungai yang bernama Nagara. Desa Bajayau sendiri memiliki konsep “Batang Banyu” yaitu sebuah konsep yang menganggap sungai itu seperti Batang pohon yang memberikan kehidupan bagi warga desa Bajayau. Sebenarnya konsep Batang Banyu juga ada di masyarakat yang tinggal di desa Tampakang. 

Jika dikaitkan dengan teori Fenomenologi Konsep Batang Banyu menunjukan adanya ikatan pengalaman masyarakat yang berinteraksi dengan alam, dimana masyarakat yang tinggal di daerah pinggiran sungai  pada akhirnya melahirkan konsep Batang Banyu secara turun temurun. Hal ini mengartikan bahwasannya masyarakat Bajayau dan desa Tampakang merupakan masyarakat yang menggantungkan hidupnya kepada sungai yang pada akhirnya melahirkan sebuah konsep terhadap sungai tersebut. Selain itu juga bisa kita simpulkan bahwasannya sungai bagi dua masyarakat di atas, merupakan hal yang sangat vital dikarenakan merupakan sumber penghidupan serta yang dijaga kelestariannya.

Yang terakhir adalah konsep sungai yang dimiliki oleh masyarakat tradisional Jawa, dimana sungai memiliki arti yang sangat penting bagi kegiatan keagamaan. Dalam artikel “Peran Magis Religius Bengawan Solo dalam Pendirian Kota solo Abad 18” sungai adalah tempat bersemedi seseorang untuk mendapatkan kekuatan magis maupun kedigjayaan. Bagi masyarakat Solo pertemuan sungai Pepe dan Bengawan Solo merupakan tempat semedi Joko Tingkir. Joko Tingkir sendiri merupakan pendiri kerajaan Pajang. Selain itu memang pertemuan di antara dua sungai merupakan daerah yang dianggap sakral oleh orang Jawa, terutama dari segi mistik. Selain itu terdapat pula cerita semedinya sunan Kalijaga yang posisinya juga ada di pinggiran sungai.

Sungai sebagai sarana religi bagi alam pikir tradisional jawa juga menunjukan arti sungai yang sakral. Tidak hanya menjadi tempat penghidupan dalam pikiran tradisional Jawa, sungai merupakan sarana pendekatan diri kepada tuhan. Hal tersebut menunjukan betapa pentingnya sungai bagi kehidupan orang Jawa.

Dapat kita simpulkan bahwasannya sungai dalam alam pikir masyarakat tradisional merupakan hal yang sangat penting bahkan sakral. Mulai dari sungai sebagai tempat bergantung hidup hingga sungai sebagai media pendekatan diri kepada tuhan. Tentulah ini menjadi teguran bagi kita bahwasanya orang tradisional lebih sadar dalam menjaga sungai di timbang kita yang hidup di perkotaan yang dengan segala modernitasnya secara sengaja telah menghancurkan sungai sungai di perkotaan.

Penulis: Abdurrahman Heriza

Editor: Lien Sururoh

Sumber:

Agung Budi Sardjono and Satrio- Nugroho, “Menengok Arsitektur Permukiman Masyarakat Badui : Arsitektur Berkelanjutan Dari Halaman Sendiri,” Jurnal Teknik Sipil Dan Perencanaan 19, no. 1 (July 26, 2017): h 60, https://doi.org/10.15294/jtsp.v19i1.9499.

 Fahrianoor, A. S. (2021). Konsep batang banyu pada masyarakat tepian sungai dalam menjaga keberlanjutan sungai di Kalimantan Selatan. In Prosiding Seminar Nasional Lingkungan Lahan Basah (Vol. 6, No. 3).

meta tags generator, “Peran Magis-Religius Bengawan Solo Dalam Pendirian Kota Surakarta Abad Ke-18 | KALPATARU,” h 41, accessed June 19, 2023, https://jurnalarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/kalpataru/article/view/59.