Pantai Favorit Peselancar yang Terus Berkembang Setelah 15 Tahun Tsunami Pangandaran

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Pantai di daerah Pangandaran sudah menjadi langganan bagi para peselancar dalam mengasah kemampuannya. Ombak besarnya yang indah dan menantang menjadi kegemaran para atlet untuk terus menjajal berselancar di antara gelombang. Dari keindahan alam ini melahirkan beberapa atlet lokal selancar handal. Salah satu atlet asal Pangandaran yang terkenal dengan pretasinya adalah Arif Hidayat. Peselancar yang kerap disapa dengan nama Mencos ini berhasil meraih dua prestasi bergengsi dalam kejuaraan selancar tingkat dunia atau Australia Surfing Word pada tahun 2017 di Australia. Setelah Mencos, ada pula atlet muda lainnya yang kembali mewakili Indonesia dalam kancah internasional, mereka adalah Nurhidayat Arif dan Permana Dean. Kedua pria asal Komunitas Surfing yang ada di Pantai Batukaras Cijulang, Kabupaten Pangandaran ini mewakili atlet Indonesia dalam SEA Games 2019. 

Ombak yang membawa prestasi ini ternyata 15 tahun yang lalu penah mengamuk mendatangkan tsunami. Pada tanggal 17 Juli 2006 terjadi tsunami yang melanda pantai selatan wilayah Pangandaran, Jawa Barat, Indonesia. Gempa pemicu berkekuatan Mw 7.7 terjadi pada kedalaman 34 km dan terletak 225 km di lepas Pantai Pangandaran dengan koordinat 9.2220 LS, 107.3200 BT. Gempa pada saat itu tidak terlalu dirasakan oleh masyarakat. Akibatnya, sulit untuk mendeteksi tsunami pada saat itu. Selain itu, kurangnya kesadaran masyarakat terkait bencana tsunami menyebabkan lebih dari 600 orang meninggal dunia, 65 orang hilang, 9299 orang dalam perawatan, dan lebih dari 75.000 orang mengungsi.

Gempa yang terjadi 15 tahun yang lalu merupakan peristiwa “tsunami-earthquake”, yang berarti gempa yang membangkitkan tsunami dengan magnitudo lebih besar daripada magnitudo gempanya, atau dengan bahasa yang lebih sederhana adalah gempa yang membangkitkan tsunami jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tinggi tsunami rata-rata yang dibangkitkan oleh gempa dengan kekuatan yang sama. Gempa hanya terasa lemah di daerah-daerah di mana gelombang tsunami besar terjadi, hal ini adalah salah satu kemungkinan penyebab banyaknya korban jiwa.

Akibat gempa yang menimbulkan tsunami, beberapa daerah di selatan Pulau Jawa terdampak , beberapa di antaranya adalah daerah Cilauteureun, Kabupaten Garut, Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, Pangandaran, Kabupaten Ciamis, pantai selatan Cianjur, dan Sukabumi. Di Jawa Tengah, daerah yang terkena dampak termasuk Pantai Cilacap dan Kebumen. Di Yogyakarta, pantai selatan Kabupaten Bantul juga terkena dampak. Daerah yang paling parah terkena gempa dan tsunami adalah Pantai Pangandaran, Ciamis (Jawa Barat), dan Cilacap (Jawa Tengah). 

Beberapa tempat surfing yang terkenal di Pangandaran pun turut tersapu tsunami, seperti Pantai Barat, Pantai Bulak Setra, blok Batu Mandi Pasir Putih dan blok Batu Layar yang terletak di kawasan Pantai Pasir Putih Timur. Pantai Bulak Setra berada di kawasan Pantai Timur Pangandaran. Pantai ini adalah salah satu spot surfing favorit di Pangandaran karena terdapat break water (pemecah gelombang), sehingga gelombang ombak meliuk beraturan dan tidak terlalu liar. 

Penelitian Mardiatmo et al, 2020 menerangkan potensi risiko tsunami pada masa depan di wilayah Pangandaran. Pantai Pangandaran yang memiliki dua bagian yaitu Pantai Barat dan Timur. Tsunami mengantam bagian barat terlebih dahulu dan mengelilingi tombolo dan menghantam bagian timur semenajung sekitar satu menit kemudian. Baik di Pantai Barat maupun Pantai Timur mengalami kerusakan tinggi akibat gelombang tsunami dengan skenario yang dimodelkan.

Pembangunan gedung di kawasan pesisir Pangandaran pasca tsunami 2006 hingga saat ini terbilang lambat. Hingga tahun 2017, peningkatan pembangunan gedung lebih lambat, karena hanya tersedia 131 gedung baru. Bangunan- bangunan baru ini memiliki fungsi yang berbeda dari bangunan yang ada sebelumnya. kebanyakan bangunan baru tersebut dijadikan sebagai perumahan, hotel, toko, dan bangunan semi permanen lainnya. peningkatan jumlah pembangunan mengakibatkan nilai kerentanan ekonomi wilayah ini bertambah. Belum lagi jumlah penduduk yang terus bertambah juga turut andil dalam meningkatkan risiko bencana. 

Seiring dengan pengembangan pariwisata, pantai di Pangandaran kini menjadi kawasan wisata yang sebelum pandemi banyak dikunjungi wisatawan. Sementara di Pantai Pangandaran, area tombolo dan sekitarnya sangat berbahaya untuk tsunami. Jika skenario tsunami terjadi di masa depan maka potensi kerugian juga akan meningkat. Dengan perhitungan kasar, potensi kerugian di Pangandaran akan melebihi seratus miliar (dalam rupiah). 

Tak mau mengalami kerugian pada tempat yang sama, seharusnya upaya pengurangan risiko bencana harus dilakukan dengan tepat. Sehingga Pantai Pangandaran dapat tetap berkembang, menjadi tempat wisata sekaligus melahirkan atlet-atlet selancar di masa depan. (LS)

Sumber:

Mardiatno, D., Malawani, M. N., & Nisaa, R. M. R. (2020). The future tsunami risk potential as a consequence of building development in Pangandaran Region, West Java, Indonesia. International journal of disaster risk reduction46, 101523.

Mori, J., Mooney, W. D., Kurniawan, S., Anaya, A. I., & Widiyantoro, S. (2007). The 17 July 2006 tsunami earthquake in west Java, Indonesia. Seismological Research Letters78(2), 201-207.

https://sains.kompas.com/read/2016/07/18/07294931/10.tahun.tsunami.Pangandaran.tsunami.dahsyat.tanpa.isyarat.gempa?page=all.https://www.harapanrakyat.com/2017/06/peselancar-asal-Pangandaran-raih-2-prestasi-di-event-australia-surfing-word/

Sumber Foto: adisumaryadi.com