Padang Lamun yang Pemanfaatannya Masih Dianggap Sebelah Mata Sebagai Mitigasi Perubahan Iklim

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Kalian harus tahu kalau di sepanjang 2021, BNPB mencatat 3.092 kejadian yang didominasi bencana hidrometeorologi. Bencana yang paling sering terjadi, yaitu banjir dengan 1.298 kejadian, cuaca ekstrem 804 kejadian, dan tanah longsor 632 kejadian.

Kejadian bencana hidrometeorologi terus mendominasi, tak lain tak bukan karena perubahan iklim akibat pemanasan global. Gas-gas rumah kaca terus meningkat akibat ulah manusia. Ironisnya, manusia juga yang kena imbasnya dengan dilanda bencana. 

Sebenarnya semua ini tidak akan diperparah kalau kita bisa memitigasi perubahan iklim. Berbicara mengenai pemanasan global, ada satu hal yang tak kalah menarik perhatian namun terabaikan, hal itu adalah lamun. Lamun atau seagrass adalah tumbuhan tingkat tinggi (Anthophyta) yang hidup dan tumbuh terbenam di lingkungan laut; berpembuluh, berimpang (rhizome), berakar, dan berkembang biak secara generatif (biji) dan vegetatif. Hamparan tumbuhan Lamun atau biasa dikenal dengan padang Lamun, memiliki banyak sekali manfaat, di antaranya adalah sebagai produsen primer, habitat biota, stabilisator dasar perairan, penangkap sedimen dan pendaur hara. 

Sebagai tumbuhan autotrofik, lamun mengikat karbondioksida (CO2) dan mengubahnya menjadi energi yang sebagian besar memasuki rantai makanan, baik melalui pemangsaan langsung oleh herbivora maupun melalui dekomposisi sebagai serasah. 

Lamun memiliki kemampuan untuk berkontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim, melalui estimasi penyimpanan karbon organik (Corg) karena potensinya dalam menyerap karbon dioksida (CO2) yang dapat menjadi penyimpanan blue carbon. Potensi ini yang harusnya dimaksimalkan untuk mitigasi perubahan iklim.

Hasil penelitian Pusat Penelitian Oseanografi LIPI menyebutkan bahwa padang lamun dapat menyerap rata-rata 6,59 ton C/ha/tahun atau setara dengan 24,13 ton CO2 /ha/tahun. Bisa dibayangkan, garis pantai yang panjang yang dimiliki Indonesia menjadi habitat padang lamun, maka dapat menyerap banyak sekali karbon dioksida. 

Selain itu, padang lamun juga memililki fungsi sebagai Sebagai Penangkap Sedimen serta Penahan Arus dan Gelombang. Daun lamun yang lebat akan memperlambat aliran air yang disebabkan oleh arus dan ombak, sehingga perairan di sekitarnya menjadi tenang. Di samping itu, rimpang dan akar lamun dapat menahan dan mengikat sedimen, sehingga dapat menguatkan dan menstabilkan dasar permukaan. Daun lamun yang berfungsi sebagai penangkap sedimen serta penahan arus dan gelombang yang berperan dalam mencegah erosi pantai.

Padang lamun menangkap dan menstabilkan sedimen, sehingga air menjadi lebih jernih. Ketika gelombang air mengenai padang lamun, energinya menjadi turun, sehingga sedimen yang terlarut di air bisa mengendap ke dasar laut. Ketika sedimen terendapkan di dasar, sistem perakaran padang lamun menjebak dan menstabilkan sedimen tersebut.

Sayang seribu sayang, nyatanya kondisi padang lamun di Indonesia termasuk dalam kondisi ’kurang sehat’. Keberadaan padang lamun di beberapa daerah telah mengalami degradasi karena pembangunan wilayah. Entah sampai kapan persoalan mengenai pelestarian lingkungan selalu dikesampingkan dan berujung derita buah dari kerusakan. (LS)

Sumber:

Bedulli C, Lavery PS, Harvey M, Duarte CM and Serrano O (2020) Contribution of Seagrass Blue Carbon Toward Carbon Neutral Policies in a Touristic and Environmentally-Friendly Island. Front. Mar. Sci. 7:1. doi: 10.3389/fmars.2020.00001

Bedulli C, Lavery PS, Harvey M, Duarte CM and Serrano O (2020) Contribution of Seagrass Blue Carbon Toward Carbon Neutral Policies in a Touristic and Environmentally-Friendly Island. Front. Mar. Sci. 7:1. doi: 10.3389/fmars.2020.00001

Photo: lipi.go.id