Merasakan Gempa Kala Diskusi Sebab Wilayah Sumur yang Diguncang Gempa Magnitude 6.6

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Tak ada yang menyangka, ketika tanya jawab diskusi, tiba-tiba sebagian peserta dan pemateri merasakan guncangan gempa. Yaaa, itu semua terjadi pada diskusi dengan judul ‘Komunikasi Risiko dalam Penanggulangan Bencana’ dilakukan olah disasterchannel.co pada 14/01/2022 yang dimulai dari pukul 14.00 WIB. 

Masing-masing pemateri memaparkannya dengan apik. Materi pertama dimulai dari presentasi Bapak Dadang Iqwandy, Kepala Seksi Pencegahan BPBD Jawa Timur, berbicara mengenai komunikasi risiko penanganan bencana awan panas guguran Gunung Semeru. Kemudian dilanjutkan dengan presentasi Bapak Theophilus Yanuarto, Pranata Humas Ahli Muda BNPB, berbicara mengenai komunikasi risiko dalam penanggulangan bencana dalam lingkup nasional. Terakhir pemaparan dari Ibu Maria Wongsonagoro, Pakar Komunikasi dan PR Senior, memaparkan kelemahan komunikasi risiko yang dialami dalam penanggulangan bencana. 

Kala pemaparan selesai, kemudian sesi diskusi dimulai. Diskusi ini begitu hangat dan memunculkan banyak pertanyaan. Tak disangka tak diduga, ketika tanya jawab dilakukan, terjadi gempa pada pukul 16.05.41 WIB dengan magnitudo 6.7, kemudian dimutahirkan menjadi 6.6, episenter terletak di 7,01°LS dan 105,26°BT tepatnya di laut pada jarak 52 km arah Barat Daya Sumur Banten dengan kedalaman 10 km.

Gambar 1. Pusat Gempa magnitude 6,7 pada 14 Januari 2022 pukul 16.05.41 WIB

Dalam konferensi pers, Dwikorita, Kepala BMKG mengatakan bahwa gempa terjadi pada 14 Januari 2022 pada pukul 16.05.41 WIB dengan magnitudo 6.7 kemudian dimutahirkan menjadi 6.6. Pada saat menit ke 3 setelah gempa terjadi, BMKG mencatat magnitudo gempa sebesar 6,7 dengan kedalamman 10 km. Kemudian pada menit ke 4-5, data yang masuk semakin bertambah dan perhitungan menjadi semakin akurat, sehingga menunjukkan kekuatan gempa bermagnitudo 6.6 kedalamannya 40 km. Antara data yang dirilis pertama dan data beberapa menit kemudian menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan. 

Hasil monitoring BMKG menunjukkan telah terjadi aktivitas gempabumi susulan (aftershock) sebanyak 5 kali, dengan magnitude terbesar 5.7. Hasil dari pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempabumi ini tidak berpotensi tsunami.

Dampak guncangan gempabumi ini dirasakan di beberapa daerah, di antaranya daerah Cikeusik dan Panimbang merasakan guncangan dengan skala MMI VI MII, wilayah Labuan dan Sumur merasakan guncangan dengan skala IV MMI, wilayah Tangerang Selatan, Lembang, Kota Bogor, Palabuan Ratu, Kalianda, Bandar Lampung merasakan guncangan dengan skala III-IV MMI, Anyer merasakan guncangan dengan skala III MMI, wilayah Jakarta, Kota Tangerang, Ciracas, Bekasi Kota Bandung Kab. Bogor Kotabumi merasakan guncangan dengan skala II-III MMI. BMKG mendapat laporan dampak kerusakan pada bangunan terjadi di Kecamatan Muncul Kabupaten Pandeglang dan Tangkil Asri, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat aktivitas subduksi. Hasil analisis mekanisme simber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault).

Melalui akun twitternya, Daryono, Kabid Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG mengatakan “Gempa M6,6 di Selat Sunda ini disebut sebagai intraslab earthquake, karena hiposenternya berada di dalam Lempeng Indo-Australia yang tersubduksi ke bawah Selat Sunda. Ciri gempa intraslab ini mampu meradiasikan ground motion yang lebih besar dan lebih kuat dari gempa sekelasnya dari sumber lain”.

Selanjutnya ia mengatakan “Gempa Selat Sunda Magnitudo 6.6 petang tadi jenisnya mirip dengan gempa Selatan Jawa Timur Magnitudo 6.1 pada 10 April 2021 yang juga destruktif. Sama-sama gempa intraslab, gempa dengan sumber di dalam lempeng”.

Jauh sebelum gempa hari ini terjadi, memang daerah Sumur beberapa kali sempat diguncang gempa besar. Dari catatan sejarah kegempaan sejak tahun 1851 hingga tahun 2019, berikut merupakan sejarah gempa dan tsunami yang merusak di wilayah Banten:

  1. Mei 1851 di Teluk Betung dan Selat Sunda pasca gempa kuat teramati tsunami setinggi 1,5 meter
  2. 9 Januari 1852, terjadi gempa kuat selanjutnya terjadi tsunami kecil
  3. 27 Agustus 1883, terjadi tsunami dahsyat di atas 30 meter akibat erupsi Gunung Krakatau
  4. 23 Februari 1903, terjadi gempa magnitudo 7.9 berpusat di Selat Sunda yang merusak Banten
  5. 26 Maret 1928, terjadi tsunami kecil yang teramati selat sunda pasca gempa kuat
  6. 22 April 1958 terjadi gempa kuat di selat sunda diiringi dengan kenaikan permukaan air laut
  7. 22 Desember 2018, Selat Sunda dilanda tsunami akibat longsoran Gunung Anak Kraktau
  8. 2 Agustus 2019, terjadi gempa dengan magnitude 7,1 yang merusak di Banten dan berpotensi tsunami.

Terakhir, BMKG merekomendasikan kepada masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Masyarakat diminta untuk menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa. Masyarakat juga diminta untuk memeriksa dan memastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebekum anda kembali ke dalam rumah.

Tidak ada yang bisa mengetahui kapan gempa terjadi, begitu pula kita. Gempa dapat terjadi kapan saja, bahkan gempa bisa datang ketika kita sedang melakukan diskusi hangat mengenai bencana. Peristiwa ini mengajarkan kita semua bahwa mengetahui langkah-langkah kesiapsiagaan menghadapi bencana itu penting. Simulasi evakuasi memang mutlak dibutuhkan bagi kita yang tinggal dekat dengan bahaya gempa. (LS)