Tanda Tsunami dalam Toponimi Desa Tompe

Desa Tompe
Keadaan pantai di Desa Tompe, 22 Februari 2020, Foto: Santi Ariska
Ekspedisi Jawadwipa

Desa Tompe menjadi lokasi pertama penelusuran pendokumentasian dimulai dari tempat yang sangat dekat dengan sumber gempa yang terjadi pada 28 September 2018. Desa Tompe terletak di Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala, desa ini terbentuk sejak 1991. Desa ini adalah pusat pemerintahan Kecamatan Sirenja yang ditetapkan pada tahun 2003 oleh pemerintah Kabupaten Donggala. Nama Tompe berasal dari nama sebuah pohon yang pernah berdiri kokoh pada persimpangan wilayah desa. Letak desa ini ada pada pantai barat Kabupaten Donggala yang memiliki risiko bencana tinggi. Daerah Pantai Barat Donggala memiliki keindahan pantai yang memikat hati dengan desiran ombak menyampu pasir putih terlihat di sebelah kiri sepanjang perjalanan dari Kota Palu menuju Kec. Sirenja.

Desa Tompe

Berdasarkan data kajian risiko bencana yang dikeluarkan oleh BPBD Kab. Donggala, Desa Tompe memiliki potensi banjir, cuaca ektrim, gerakan tanah, gelombang ekstrim, gempa dan tsunami yang masuk ke dalam kategori tingkat bahaya tinggi. Melihat risiko bencana yang dimiliki desa ini sangat tinggi, tak ayal desa ini sering diterjang oleh tsunami. Sejarah mencatat pada tahun 1963 desa ini diterjang tsunami yang mengakibatkan kehancuran yang cukup parah. Dahulu sebelum kenal istilah tsunami, masyarakat Desa Tompe mengenal peristiwa tsunami dengan kata galogo

28 September 2018, Desa Tompe merasakan beberapa kali gempa, gempa pertama dirasakan saat sore hari. Akibat gempa pertama, masyarakat banyak yang mengungsi. Kemudian gempa kedua terjadi tepat saat matahari terbenam terlihat di pantai barat Donggala, dengan kekuatan yang lebih besar yang pusatnya dekat dengan Desa Tompe. Bumi bergoyang begitu hebat, tanah-tanah mulai terbelah, seketika listrik padam membuat suasana begitu mencekam.

Jalan dari Kota Palu menuju Desa Tompe mengalami banyak kerusakan, di antaranya jalanan beraspal retak, pondasi beberapa jalan bergeser, di sebelah kanan beberapa kali terlihat tebing longsor akibat gempa. Hampir seluruh warga melarikan diri ke arah bukit, hal ini karena pengalaman-pengalaman yang dialami warga bila terjadi gempa maka ada kemungkinan tsunami terjadi. Desa Sibado merupakan wilayah tujuan sebagian besar warga Desa Tompe kala menyelamatkan diri, hal ini karena letak Desa Sibado yang berdekatan dengan Desa Tompe dan memiliki kontur tanah yang lebih tinggi. Nama Sibado sendiri diartikan oleh orang lokal sebagai tempat memancing ikan, berdasarkan pengetahuan lokal yang dimiliki warga dapat diartikan bahwa, dahulu Desa Sibado merupakan wilayah pesisir. 

Ada yang mengartikan bahwa kata Tompe berarti terhempas.[1] Nenek  moyang mereka yang tinggal di wilayah pegunungan menggunakan bahasa Koro Rai dan Tajio yang mengartikan Tompe dengan kata hanyut.[2] Pengartian ini sangat relevan dengan kejadian tsunami yang menghempas daerah Tompe 28 September 2018 silam. Tompe yang berarti terhempas, sementara Sibado berarti tempat memancing. Penamaan nama daerah ini sangat berhubungan dengan kejadian bencana, dimana Tompe yang terhempas tsunami mengungsi di daerah Sibado yang artinya tempat memancing. Hal ini memungkinkan bahwa pada masa lalu Sibado merupakan pesisir dan wilayah Tompe sebelumnya pernah terhempas tsunami.

Warga Sibado menyambut baik kedatangan sebagain warga Desa Tompe untuk mengungsi sementara di wilayahnya. Dalam keadaan darurat warga saling membantu satu sama lain dan bergotong-royong untuk bertahan hidup. Keadaan darurat memaksa beberapa warga berbalik menuju rumahnya untuk mengambil beberapa barang yang bisa diselamatkan, beberapa membuat tenda darurat sementara sebagai tempat berteduh. Beberapa hari masyarakat bertahan dengan keadaan terbatas hingga relawan berdatangan memberikan bantuan logistik dan bantuan kesehatan. 

Merasakan pesona senja di desa ini begitu berbeda, disana kami bisa menyaksikan indahnya matahari tenggelam di pantai barat Donggala dengan ombak yang tenang sekaligus menyaksikan beberapa kehancuran akibat dahsyatnya hantaman tsunami. Perpindahan garis pantai terlihat jelas setelah gempa dan tsunami terjadi. Terlihat dari letak bangunan yang hancur, menurut keterangan warga bangunan itu berada sekitar empat sampai lima meter dari bibir pantai namun sekarang tepat berada di tepi pantai. (LS)

Sumber:

Lien dkk. Sulawesi Tengah: Memori dan Pengetahuan Lokal tentang Bencana. Yayasan Skala Indonesia. 2021


[1] Buku Panduan dan Bahan Pembelajaran Mitigasi Bencana Alam Berbasis Kearifan Terintegrasi Kurikulum 2013

[2] Wawancara dengan Kepala Museum Sulawesi Tengah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *