Wonder Woman Lupa Berkaca

Ilustrasi Wanita Berkaca, Sumber: jurnalislampedia.home.blog
Ekspedisi Jawadwipa

Tulisan ini datang dari Meidira Amalia, ia adalah salah satu peserta lomba bertema “Cerita Perempuan Hebat Menghadapi Bencana” yang diadakan oleh disasterchannel.co. Mari kita simak ceritanya dalam tulisan berikut: 

Dingin. 

Itu yang El rasakan pertama kali ketika ia terbangun dan bermaksud ingin ke kamar mandi. 

“Gua kira, gua lagi mimpi di pantai,” kenangnya saat diwawancara, mencoba mengingat kembali kejadian dua tahun lalu. “Tapi pas gua gerakin kaki, kok bunyi kopyok kopyok. Pas gua melek, gua baru sadar kalau rumah kena banjir. Gua panik dan langsung kabarin ibu sama kakak gua.” 

Banjir Jakarta tahun 2020 memberikan trauma yang cukup membekas tak hanya bagi El, namun juga bagi warga kota Jakarta yang terkena imbasnya. Bagaimana tidak? Tahun baru yang seharusnya menjadi awal yang baik, justru menjadi petaka akibat curah hujan yang meninggi.

Pada awalnya, air banjir di kawasan rumah El hanya semata kaki. Namun akibat hujan yang terus mengguyur daerah Jabodetabek, menyebabkan air pelan-pelan naik hingga sebetis. Rumah yang awalnya menjadi tempat beristirahat pun menjadi asing.  

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya El bersama ibu dan kakak perempuan nya memutuskan untuk mengungsi dan beristirahat di rumah tetangga yang terletak di depan rumahnya. Rumah tetangganya sendiri bertingkat, dengan satu kamar dan teras untuk menjemur pakaian sehingga cukup nyaman bagi keluarga El untuk beristirahat sejenak. Namun El mengaku tak bisa tidur pada malam hari itu. 

“Gua mastiin ibu sama kakak gua tidurnya enak. Soalnya mereka berdua kan gampang sakit,” ya, meskipun El terlahir sebagai anak bungsu, kondisi tubuh yang dirasa jauh lebih fit dibanding ibu dan kakaknya, membuatnya merasa lebih bertanggungjawab dengan kondisi kesehatan dua anggota keluarga yang ia sayang. “Tapi jadinya gua gak tidur sama sekali.” 

Sebenarnya, bukan hanya itu alasan El tidak bisa beristirahat. El memikirkan guntur dan hujan yang memantul keras di atas atap; memikirkan kejadian yang tak diinginkan terjadi pada diri dan keluarga kecilnya, memikirkan segala sesuatu yang tak seharusnya berenang di kepala, namun tetap hadir akibat rasa waspada. Di bawah hujan, ia merencanakan hari esok.

Namun benar apa kata pepatah, manusia hanya bisa berencana. Karena keesokan harinya, air sudah mencapai dada orang dewasa. Kali ini, hidup El terasa di ujung tanduk. 

Kembali mengungsi 

Tak ada sumber makanan, minuman, ataupun sumber listrik membuat El bersama keluarganya memutuskan untuk pergi mencari tempat kering agar bisa beristirahat. Dengan berbekal tas dan ember, mereka melewati air warna kecoklatan yang tak selezat air kolam pada film Charlie’s and The Chocolate Factory. Sembari meraba-raba jalan dengan mengandalkan besi jemuran, El pun memimpin rombongan. 

 Saat melewati air bah, El menyadari bahwa ia tidak sendiri. Ada banyak manusia yang bernasib sama dengannya; berjalan kaki mengenakan pakaian basah, badan lelah, namun harus mencari rumah untuk dihuni sementara waktu. 

Tidak mudah mencari tempat pengungsian saat itu, mengingat banyak rumah yang terendam banjir. Namun El beruntung. Seorang wanita paruh baya menghampirinya saat ia sedang beristirahat di masjid, dan menyuruh El untuk mendatangi tempat pengungsian wanita tersebut. 

“Itu ibu kayaknya jelmaan Tuhan, deh,” ucapnya setengah mengguyon. “Kalau bukan dikasih tahu dia, gak tahu kita ada tempat buat ngungsi.” 

Tempat pengungsian tersebut sebenarnya adalah sebuah kos-kosan yang disediakan untuk pramugari maskapai Indonesia. Akan tetapi, terdapat beberapa kamar kosong sehingga bisa dihuni El dan keluarganya selama seminggu dengan fasilitas seadanya. Namun bagi El, ini sudah cukup. Malam ini dapat beristirahat dengan tenang, tanpa perlu merasa khawatir akan datangnya banjir susulan. 

Pelajaran yang diterima

Tak banyak yang bisa dilakukan ketika berada di tengah-tengah banjir, membuat El tidak dapat memilih-milih makanan seperti biasanya. Maklum, layanan pesan antar makanan tak tersedia di wilayah banjir. sehingga mereka harus puas dengan soto dan nasi goreng aceh yang berada dekat dari tempat pengungsian. Rasanya, hari-hari sederhana seperti sekarang ini jauh lebih mahal harganya ketimbang melewati banjir setinggi dada orang dewasa. 

“Makanya kita cari-cari apartemen pas di kosan itu,” pungkas El dengan tegas. “Cukup sekali ngerasain banjir kayak gitu lagi. Dijadiin pelajaran aja.” 

Salah satu pelajaran berkesan baginya ialah, pertemuan El dengan para wanita baik nan hebat yang menolongnya saat banjir berlangsung. 

“Temennya kakak gua, cewek, dia datang sambal bawain makanan dan selimut tebel buat kita,” ucap El, sembari mengingat kembali kebaikan apa saja yang diterimanya pada waktu itu. “Terus ibu kos tempat gua ngungsi, beliau sempat mau ngasih tikar gitu buat kita bisa istirahat pas kembali ke rumah. Tapi kita tolak, karena susah bawanya.” Memang, ada banyak wanita hebat yang membantu El saat banjir berlangsung. Sebut saja, ada wanita yang ditemuinya di masjid, teman kakaknya, atau ibu kos. Namun sepertinya wonder woman kita yang satu ini lupa berkaca, bahwa dirinya juga sama hebatnya dengan wanita-wanita yang menolongnya kemarin.

Penulis: Meidira Amalia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *