Resiliensi Akan Terbangun dengan Adanya Kolaborasi

resiliensi
Ekspedisi Jawadwipa

Disasterchannel.co tergabung dalam acara yang diselenggarakan oleh Asia Pasific Alliance for Disaster (APAD) bermitra dengan Yayasan Skala Indonesia dan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dengan tajuk “Disaster Resilience Outlook Forum 2021, Its Time To Be Resilient” yang diadakan pada Rabu, 17 Februari 2021 melalui zoom. Acara ini diinisiasi oleh APAD untuk membangun resiliensi dalam menghadapi bencana. terdapat beberapa keynote speaker di antaranya adalah ibu Sinta Kaniawati dari APAD Indonesia dan Bapak Lilik Kurniawan, Deputi Bidang Pencegahan BNPB. Terdapat pula beberapa pemateri yaitu, Bapak Heru Prasetyo APAD Indonesai, Gede Sudiartha dari Forum Pengurangan Risiko Bencana Bali, Faisal Djalal dari APAD Indonesia, Saiful Akham dari Dinas Pariwisata Lombok Barat dan Dr. Surono yang merupakan ahli mitigasi bencana geologi.

Kolaborasi adalah Kata Kunci untuk Membangun Resiliensi

Paparan Bapak Lilik Kurniawan menyampaikan bahwa masalah bencana ini harus menjadi bagaian dari hidup kita sendiri. Wisata di Indonesia banyak macamnya tetapi memiliki kerentanan terkait dengan rentan, wisata alam, budaya itu adalah wisata yang rentan terhadap bencana.

Ada 4 hal yang perlu dipertimbangkan

  1. Kemampuan untuk antisipasi Jadi pariwisata harus bisa dan memiliki kemampuan untuk anatisipasi mereka harus tahu daerah yang memiliki potensi bencana dan daerah mana yang rentan bagi para turis kita
  2. Kemampuan untuk melawan dan menghindar dengan cara memahami risiko bencana yang ada di pariwisata
  3. Adaptasi dari dampak yang ditimbulkan, maka pengetahuan terkait dengan kebencanaan itu harus disiapkan dimana jalur evakuasi dimana rambu evakuasi dan titik kumpul. Karena pariwisata adalah bukan hal yang lokal, perlu ada penyesuaian kepada turis
  4. Resiliensi pariwisata, daya lenting yang harus ada dalam menghadapi dampak bencana. Bagaimana kita bisa melenting balik dengan membangun sektor pariwisata yang baik.

Demi untuk mewujudkan ini semua perlu dukungan berbagai pihak, kunci kita adalah kolaborasi. Terakhir ia berpesan “Mari kita bersama sama untuk kemudian bangkit dari keterpurukan kita akibat bencana dan COVID-19 membangun kembali resiliensi dari sektor pariwisata dan kemudian bisa membangun kembali apa yang sudah rusak dan terdampak dari bencana tentu dari kolaborasi semua pihak”.

Selanjutnya Bapak Heru Heru Prasetyo mengemukakan beberapa pandangannya mengenai bagaimana tahap membangun resiliensi, berikut paparannya:

  • Resiliensi diawali dengan usaha terus-menerus, memahami dan menerima bahwa kita tidak berasa di atas ekositem yang statis
  • Arus Evolusi dan Letupan Disrupsi melahirkan pembelajaran, sebagian perlu diterima sebagai kondisi tak terelakkan, sebagian lagi bisa dipakai sebagai acuan untuk tindakan
  • Evolusi dalam peralatan dan infrastruktur, dalam kapasitas organisasi, dalam pemahaman masyarakat (smong), dalam tata koordinasi dan menajemen perlu dibaca
  • Disrupsi yang predictable (teknologi), yang tak terduga dan yang terduga tapi salah waktu (ambush), reaksi kejut masyarakat karena disrupsi perlu ceat disikapi
  • Membangun resiliensi perlu melalui tahap tahap itu: memilih lessons learned, menganalisa apa yang bisa dilakukan dan bagaimana melakukannya, dan menyusun peta jalan untuk melakukannya

Acara dilanjutkan dengan paparan dari beberapa daerah terkait pengalaman menanggulangi bencana dan dampaknya terhadap sektor ekonomi. Bapak Yuriadi dari BPBD Banten mengemukakan bahwa setelah terjadinya tsunami 2018 di Selat Sunda Tsunami selat sunda yang terjadi pada 22 Desember 2018 menewaskan 429 jiwa dengan jumlah yang mengalami luka-luka sebanyak 1485 orang, sebanyak 16.082 orang mengungsi, 154 orang hilang. Mengakibatkan kerusakan pada 1047 rumah rusak, 318 villa dan 9 hotel mengalami kerusakan juga. Kemudian wilayah pariwisata kembali terpuruk akibat terjadinya pandemik COVID-19.

Sementara Bapak Saepul Akham dari Dinas Pariwisata Lombok Barat menyebutkan bahwa akibat bencana alam gempabumi 2018 berdasarkan pendataan Bappeda Kabupaten Lombok Barat dari jumlah 192 hotel 117 hotel memilih tutup sementara dikarenakan sepinya wisatawan yang datang pasca gempabumi. Kerugian akibat gempabumi 2018 di Kabupaten Lombok Barat diperkirakan mencapai Rp. 4,1 Triliun.

Bapak Surono atau yang kerap disapa mbah Rono mengemukakan bahwa upaya mitigasi yang gagal dampkanya bukan hanya menimpa menimpa fisik manusia, tetapi berdampak pada social ekonomi dan masyarakat sendiri. Pariwisata adalah sector yang dapat diandalkan setelah sector minyak dan gas, olehkarenanya perlu dibentuk ketangguhan pada sektor itu.

Sebagai penutup, semua bersepakat bahwa kolaborasi adalah kunci untuk membangun resiliensi. Kolaborasi adalah kata kunci yang perlu kita pelajari. Rasa optimistis memandang ke depan harus tetap ada dalam menyelesaikan tantanngan. Faisal Djalal mengemukakan bahwa kita tidak bisa menciptakan ketangguhan kalau kondsis utama sebagai syarat untuk membangun resiliensi tidak dibuat, diperkuat dan dilaksanakan dengan baik.

Sobat DC, mari dukung pembangunan resiliensi sektor pariwisata dengan mengunjungi destinasi wisata yang ada di berbagai Indonesia setelah pandemic berakhir. Bagi yang tidak sebar berwisata, maka berwisatalah dengan memperhatikan protokol kesehatan yang ada. (LS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *