5 Tips Anti Ribet Jadi Relawan Perempuan

relawan perempuan
Ilustrasi relawan perempuan
Ekspedisi Jawadwipa

RIBET adalah salah satu kata yang terkadang dinobatkan oleh beberapa orang kepada beberapa perempuan, bahkan kerap disandang oleh para relawan perempuan. Tapi apakah benar kata itu sesuai dengan perempuan-perempuan yang menjadi relawan?. Tulisan kali ini akan membahas menganai bagaimana sih trick and tips untuk menjadi relawan perempuan yang anti ribet. 

Aktivitas di luar ruangan memang terkadang mengharuskan kita untuk membawa barang-barang yang dibutuhkan dalam jumlah yang terbilang banyak, apalagi bila akivitasnya berlangsung dengan waktu yang cukup lama. Seperti halnya relawan yang bertugas di lapangan, baik laki-laki atau perempuan pasti membawa peralatan standar yang wajib dibawa yang diterapkan oleh masing-masing lembaga atau organisasinya. Tapi kenapa terkadang hanya perempuan yang dianggap ribet?. setelah menanyakannya kepada beberapa relawan perempuan, mereka mengemukakan bahwa perempuan terkadang menyandang kata ribet biasanya karena dia tidak mengerti kondisi lapangan yang ada ataupun tidak mampu langsung menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

5 Tips Anti Ribet Jadi Relawan Perempuan

Tips anti ribet di lapangan

  1. Membawa barang secukupnya

Terkadang perempuan punya kekhawatiran berlebih yang mengakibatkan ia membawa banyak sekali barang yang dianggap akan berguna di medan operasi. Sebagai relawan, untuk bisa melakukan aktivitas secara maksimal dan memudahkan mobilisasi maka tidak dianjurkan untuk membawa banyak barang. Namun terkadang ada beberapa perempuan yang membawa banyak sekali pakaian ganti dan peralatan kecantikan. Hal ini sangat dihindari karena barang-barang ini tidak akan berguna di tempat bertugas. 

  1. Berusaha cepat menyesuaikan diri di lingkungan baru

Kebanyakan perempuan yang baru menjadi relawan akan kebingungan karena tidak langsung melakukan penyesuaian diri di lingkungan baru. Biasanya di tempat terdampak bencana beberapa kebutuhan primer sulit didapatkan, seperti halnya keterbatasan ketersediaan air, keterbatasan sarana sanitasi dan ketidak tersediaan listrik ataupun jaringan seluler. Biasanya perempuan tidak terbiasa untuk mengheat penggunaan air dan mudah mengalami ketahutan pada kondisi yang minim pencahayaan, hal ini yang terkadang membuat relawan perempuan dilihat ribet. Bagi perempuan yang ingin menjadi relawan, alangkah baiknya melatih diri untuk berhemat menggunakan air dan berusaha cepat menyesuaikan diri di berbagai macam kondisi. 

  1. Menjaga kesehatan fisik dan mental selama bertugas

Hidup di daerah yang baru mengalami bencana pasti sangat menguras tenaga, sebab beberapa fasilitas kritis dan fasilitas umum tidak bisa dipakai. Seperti halnya jalan terisolir atau rusak yang memaksa perjalanan dilakukan dengan jarak yang lebih jauh. Terkadang waktu istirahat berkurang karena banyak kejadian insidentil seperti misalnya gempa susulan, tinggi muka air yang terus naik saat banjir ataupun longsor susulan yang memaksa para relawan berjaga. Hal-hal semacam ini akan mudah menurunkan performa tubuh, olehkarenanya relawan disarankan untuk konsumsi vitamin, berolahraga dan mengatur jadwal tidur dengan baik dapat membantu menjaga stabilitas kesehatan tubuh.

Selain kesehatan fisik, kesehatan mental juga tak kalah penting untuk setiap relawan. Berbagai macam kesedihan pasti ditemukan di setiap daerah terdampak bencana. Relawan perempuan biasanya lebih mudah mengalami kesedihan dengan melihat keadaan darurat disekitarnya saat menjalankan tugas. Refreshing dengan melakukan berbagai hal menyenangkan di sela-sela waktu bertugas yang panjang menjadi penting untuk menjaga kesehatan mental relawan.

  1. Tidak memaksakan diri bila dirasa tak sanggup menjalankan misi

Demi ego sendiri, terkadang para relawan perempuan memaksakan dirinya untuk terlibat dalam berbagai aktivitas kerelawanan saat dirinya tidak benar benar sehat. Hal ini yang membuat terkadang tim mengalami kesulitan yang memaksa fomasi tugasnya dibebankan kepada yang lain akibat anggotanya yang sakit. Bagi para relawan perempuan, kita harus sadar diri dengan kondisi tubuh, bila dirasa tidak sehat lebih baik mengurungkan nitanya untuk bertugas sebagai relawan. Meskipun kalian tidak bisa menjalankan tugas sebagai relawan yang bergerak di daerah terdampak, tetapi kamu bisa ikut terlibat sebagai relawan dibidang media komunikasi yang tak harus pergi ke wilayah terdampak.

  1. Lakukan aktivitas kerelawanan dengan penuh semangat, lapang dada dan tanpa pamrih

Semangat selalu dibutuhkan untuk siapaun agar tetap melakukan aktivitasnya dengan baik. Menjadi relawan bukahlah perkara hal yang mudah, sebab terkadang ada kejadian-kejadian yang tidak diharapkan terjadi. Menjadi relawan bukan sekedar mencari eksistensi, mejadi relawan harus mendedikasikan diri secara utuh untuk mengabdi kepada masyarakat yang mebutuhkan. Kerendahan hati dan sikap lapang dada perlu ada dalam setiap individu relawan, karena relawan tidak dibayar dan memberi bantuan tanpa pamrih. 

Perempuan bisa melakukan apapun yang ia mau, seperti halnya menjadi relawan. Melalui tips yang diberikan, diharapkan relawan perempuan dapat melakukan tugasnya dengan dan dapat mengisnpirasi bagi perempuan lain yang ingin mencoba berkecimpung dengan dunia kerelawanan. (LS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *