Kabar Upaya Pengurangan Risiko Bencana Setelah Gempa Di Sulawesi Tengah

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Sebuah peringatan dilakukan untuk kembali mengingat apa yang terjadi di masa lalu. Mengingat kejadian masa lalu tanpa memikirkan masa depan juga merupakan sebuah hal yang keliru. Untuk apa hanya sekedar mengingat bila ingatan ini tak digunakan untuk menentukan nasib di masa depan. 

28 September menjadi hari peringatan bencana yang melanda Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala dan Parigi Moutong (Padagimo). Kala Jumat sore pukul 18:02:44 WITA terjadi gempa dengan magnitude Mw 7,4, berpusat di 26 km utara Donggala, Sulawesi Tengah. Gempa ini menyebabkan goncangan yang kuat dan menimbulkan tsunami yang melanda Kota Palu dan Kabupaten Donggala, serta likuefaksi besar-besaran terutama di daerah Petobo, Balaroa, Jono Oge dan Sibalaya Selatan. 

Mengingat bencana bukan semata-mata hanya mengenang derita ataupun ingin menakut-nakuti orang dengan sengaja. Bila meresapi lebih dalam, mengingat bencana memiliki lebih banyak makna. Mengingat bencana adalah sebuah tindakan sederhana dari pengurangan risiko bencana.

Serangkaian upaya pengurangan risiko bencana dapat dikatakan sebagai mitigasi bencana. Kata mitigasi bencana menjadi kata yang murah sekali diobral dimana-mana. Namun, kenyataannya terkadang kata ini justru hanya diumbar saja, implementasinya masih terlihat samar. 

Bila kita melihat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) wilayah Sulawesi Tengah setelah mengelami perubahan akibat bencana alam yang terjadi, maka akan didapati hasil pemetaan permasalahan berupa bencana alam dengan akar masalah sebagai berikut:

  1. Mitigasi bencana belum berjalan secara optimal; 
  2. Ancaman kerusakan lingkungan hidup oleh berbagai aktivitas dan alih fungsi lahan masih cukup tinggi; 
  3. Topologi wilayah Sulawesi Tengah dengan struktur geologi kompleks dan jalur gempa menyebabkan wilayahnya sangat rentan bencana alam (gempa, banjir dan longsor); 
  4. Sebagian besar wilayah Sulawesi Tengah berada di leher Pulau Sulawesi yang memiliki air laut pasang yang tinggi membuat kerusakan infrastruktur lebih cepat; 
  5. Karakter wilayah yang berada di wilayah garis patahan khusus patahan Palu Koro sebagai salah satu sesar sangat aktif di dunia mengakibatkan wilayah Sulawesi Tengah rawan bencana gempa besar

Dari penjabaran akar permasalahan di atas, kata mitigasi menjadi masalah yang paling awal dipaparkan. Namun dalam strategi dan arah kebijakan dalam RPJMD malah hadir belakangan. Bahkan tidak ada dalam tema besar pembangunan pembangunan wilayah Sulawesi Tengah.

Tabel 1. Strategi dan Arah Kebijakan Perubahan RPJMD Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2016-2021

Mengutip draft RPJMD Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2016-2021, terdapat strategi yang menuliskan kata mitigasi di dalamnya yaitu: Mewujudkan penataan ruang berbasis mitigasi bencana/pengurangan risiko bencana dengan arah kebijakannya berupa Penyesuaian RTRW berbasis mitigasi bencana/pengurangan risiko bencana, hal ini merupakan mitigasi non struktural. Terdapat pula mitigasi struktural dalam strategi Meningkatkan kualitas infrastruktur pasca bencana.

Sementara, pada tujuan ke empat terdapat kalimat yang menyatakan mitigasi nonstruktural, strategi: peningkatan kemampuan aparatur, masyarakat, dan dunia usaha dalam pencegahan pencemaran dan perusakan lingkungan serta penanggulangan bencana. Dengan arah kebijakan: Penguatan kapasitas pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana dan menumbuhkan budaya sadar bencana serta meningkatkan pengetahuan dunia usaha dan masyarakat tentang kebencanaan.

Meskipun dalam RPJMD telah memasukkan beberapa strategi dan arah kebijakan mitigasi bencana baik struktural maupun nonstruktural, namun implementasinya serasa kurang. Hasil riset yang dilakukan oleh Yayasan Skala Indonesia, 2020 mengatakan bahwa mitigasi masih belum menjadi fokus utama dalam pembangunan. Hal ini tercermin dalam tema besar pembangunan wilayah Sulawesi Tengah yang terdapat dalam lima poin berikut: 

1. Sebagai salah satu pintu gerbang Indonesia dalam perdagangan internasional dan pintu gerbang Kawasan Timur Indonesia; 

2. Pengembangan industri berbasis logistik; 

3. Lumbung pangan nasional dengan pengembangan industri berbasis kakao, padi, jagung; 

4. Pengembangan industri berbasis rotan, aspal, nikel, bijih besi dan gas bumi; 

5. Percepatan pembangunan ekonomi berbasis maritim (kelautan) melalui pengembangan industri perikanan dan pariwisata bahari.

Pembangunan wilayah Sulawesi Tengah justru menempatkan pengembangan industri ekstraktif yang cendrung dapat merusak alam dan menambah kerentanan.

Strategi mitigasi bencana struktural yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan membangun tanggul sepanjang 7,2 KM sepanjang Pantai Talise. Upaya ini sebagai bagian strategi menahan tsunami dan abrasi yang terjadi di sepanjang pantai tersebut. Lagi-lagi strategi peningkatan kapasitas tak terliat jelas batang hidungnya. Sampai pada saat riset ini dilakukan, pemerintah daerah masih terbentur pada anggaran. Seperti yang disampaikan oleh BPBD di berbagai tingkatan di Sulawesi Tengah, anggaran untuk pengurangan risiko bencana, sangat kecil dan terbatas. 

Padahal berdasarkan hasil riset yang dilakukan, kapasitas daerah masih rendah dalam menghadapi bencana, terutama pada wilayah Kota Palu dan pesisir pantai barat Donggala. Kapasitas daerah yang tinggi justru muncul dari desa-desa yang ada di wilayah pegunungan Kecamatan Kulawi. Mereka memiliki kapasitas yang lebih besar karena mereka masih melestarikan pengetahuan lokal mengenai bencana dari leluhur. Terlebih lagi mereka memiliki lembaga adat yang mengatur dan mengelola kehidupan bermasyarakat dengan berperspektif gender. Hal ini membuktikan bahwa mitigasi nonstruktural berbasis komunitas perlu dilakukan karena akan berdampak besar bagi nilai kapasitas daerah. 

Serangkaian kata mitigasi ini memang mudah diucapkan namun sulit diimplementasikan. Bila mengingat mitigasi bencana saat sebelum terjadinya bencana besar 28 September tiga tahun lalu dan setelahnya, sepertinya tidaklah jauh berbeda. Bila mengingat bencana adalah mitigasi, maka mengingat bencana seharusnya membawa kita kepada perubahan yang lebih baik.(LS)

Sumber:

Trinirmalaningrum. 2020. Studi Pengurangan Risiko Bencana Berperspektif Gender di Sulawesi Tengah. Yayasan Skala Indonesia

Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2016-2021