Tiga Tips Jitu Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Ancaman Bencana Ala SADARIN

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Anak muda saat ini begitu banyak terpapar mengenai isu kesehatan mental. Semakin hari, literasi mengenai kesehatan mental semakin baik. Hal ini tidak terlepas dari kemudahan akses informasi di berbagai jenis teknologi. Bahkan Sobat DC dapat dengan mudah mengakses layanan Kesehatan mental hanya bermodal aplikasi. 

Walau banyak yang sudah melek dengan pentingnya kesehatan mental, nyatanya dalam keadaan darurat tidak demikian.  Penelitian Makwana N. (2019) mengemukakan bahwa Umumnya, bencana diukur dengan biaya kerusakan sosial dan ekonomi, tetapi tidak ada perbandingan dengan penderitaan emosional yang dialami seseorang pascabencana. Padahal bencana dan kesehatan mental sangat terkait. Dampak bencana mungkin memiliki dampak negatif pada populasi yang terkena dampak. Seiring dengan kerugian sosial dan ekonomi, individu dan masyarakat mengalami ketidakstabilan mental yang dapat memicu Gangguan Stres Pasca Trauma (PTSD), kecemasan dan depresi pada populasi. 

Melihat fenomena dampak Kesehatan mental yang belum banyak dipertimbangkan, sekelompok penggiat alam bebas dan juga praktisi hipnoterapi mendirikan sebuah Yayasan yang Bernama Sadarin Nusa Indonesia. Para pendiri Sadarin melihat bahwa pasca bencana atau ketika masa pemulihan, bantuan sudah mulai berkurang, relawan sudah mulai hilang dan yang tersisa adalah bekas luka di pikiran dan perasaannya mengenai bencana yang menimpa diri mereka dan kekhawatiran akan masa depannya. Atas dasar tersebutlah Sadarin berdiri untuk membantu para penyintas agar tetap semangat dan mempunyai pikiran positif di tengah ketidakpastian yang dihadapinya.

Gambar 1. Yayasan Sadarin Nusa Indonesia melakukan pendampingan psikologis kepada para penyintas bencana gempa Cianjur 2022

Penasaran lebih lanjut dengan Sadarin, maka disasterchannel.co berbincang dengan salah satu pendirinya, dia adalah Tri Nugroho Kusumo direktur Yayasan Sadarin Nusa Indonesia. Pria berumur 32 tahun ini merupakan ahli hipnoterapi yang berperan dalam berbagai proses penanggulangan bencana mulai dari pra-bencana, saat tanggap darurat ataupun pasca-bencana. 

“Dalam hal kebencanaan, kami memberikan bantuan konsultasi dan terapi mental. Hal ini dilakukan untuk mengedukasi masyarakat mengenai betapa pentingnya kesehatan mental bagi kehidupan sehari-hari” ungkap Tri. 

Lebih lanjut Tri menyampaikan bahwa dalam beberapa kasus kesehatan mental yang sering dialami oleh para penyintas, di antaranya kecemasan, ketakutan, bahkan trauma atau phobia. 

“Bahkan gangguan kesehatan mental bukan hanya terjadi karena mereka terdampak bencana. Namun, dikarenakan mengalami atau menyaksikan pelecehan seksual di area terdampak bencana. Kasus ini juga yang menjadi perhatian kami” kata Tri. 

Tri selalu berusaha agar kasus kekerasan dan juga pelecehan seksual jangan sampai merambah lebih luas. Sebab para oknum yang melakukan pelecehan seksual terhadap penyintas akan menambah luka di hati dan pikiran mereka.

Gambar 2. Pendistribusian bantuan kepada penyintas bencana anak yatim dan kaum dhuafa oleh Yayasan Sadarin Nusa Indonesia

Ada hal penting yang ingin disampaikan oleh Tri. Jauh sebelum bencana terjadi dan menyebabkan berbagai gangguan kesehatan mental, kita bisa lebih melakukan tindakan mitigasi untuk mengurangi dampaknya bila bencana terjadi. Sejalan dengan itu, Makwana N. (2019) dalam penelitiannya juga mengatakan bahwa kesiapsiagaan dan pemberdayaan masyarakat yang lebih baik dapat memperbaiki kondisi penduduk yang rentan terkena bencana. 

Dalam fase pra bencana, Sadarin mengambil peran dalam hal edukasi kesehatan mental di area-area yang memiliki potensi bencana. Edukasi kesehatan mental ini dilakukan dengan menyampaikan hal-hal tentang apa itu kesehatan mental, peran dalam kehidupan sehari-hari, perannya dalam resiliensi individu, serta teknik-teknik terapi sederhana untuk membantu para penyintas mengatasi perasaan atau pikiran yang mengganggu baik digunakan untuk kehidupan sehari-hari maupun ketika bencana terjadi.

“Sadarin juga berpartisipasi dalam Program Tsunami Ready (program mitigasi bencana tsunami yang diinisiasi UNESCO) di Panggarangan, Lebak Banten dengan melakukan penguatan mental dan keyakinan para peserta untuk melakukan simulasi evakuasi. Kami membantu peserta untuk lebih yakin melakukan evakuasi ketika bencana terjadi” ungkap Tri.

Sadar dengan kondisi Indonesia yang sebagian besar memiliki risiko bencana tinggi, maka Sadarin membagikan tips dan trik melakukan mitigasi dampak kesehatan mental dalam fase pra-bencana. Beberapa hal yang bisa diperhatikan kepada anak muda untuk dapat memitigasi terganggunya kesehatan mental adalah dengan memperhatikan keseimbangan dari formula SMB atau Spiritual/ Soul, Mind, and Body. Simak lebih lanjut dalam penjelasan sebagai berikut:

  1. Spiritual/Soul: Perbaiki hubungan dengan Tuhan, spiritual adalah pondasi awal dari kuatnya mental atau jiwa seseorang.
  2. Mind: Tetaplah berpikir positif, hindari lingkungan pertemanan yang toxic karena ini akan menambah tingkat kecemasan, kekhawatiran dan mengganggu aktivitas sosial seseorang. Belajarlah teknik-teknik terapi sederhana yang dapat digunakan untuk diri sendiri ataupun membantu orang lain.
  3. Body: Jagalah kondisi fisik dengan berolahraga, serta dapat juga berlatih yoga untuk melatih pernapasan dan ketenangan pikiran.

Tri mengungkapkan bahwa kesehatan mental tidak serumit yang dinilai orang lain layaknya seperti seseorang penderita gila atau mengalami gangguan jiwa. Kesehatan mental dikatakan terganggu dapat dinilai dari seseorang yang sudah tahu jika perilakunya itu salah. Maka kita perlu untuk memulai melakukan kebiasaan positif dari hal-hal yang sederhana yang akan membantu menyehatkan mental kita. (LS)

Sumber:

wawancara Tri Nugroho Kusumo direktur Yayasan Sadarin Nusa Indonesia pada 30/07/202

Makwana N. Disaster and its impact on mental health: A narrative review. J Family Med Prim Care. 2019 Oct 31;8(10):3090-3095. doi: 10.4103/jfmpc.jfmpc_893_19. PMID: 31742125; PMCID: PMC6857396.