Ini yang Kamu Harus Tahu dari Flurona

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- No way home, rasanya film itu begitu tepat menggambarkan isi kepala disasterchannel.co saat ini. Dilema yang dialami saat ini seolah sesuai sekali dengan kondisi Peter Parker. Kita hidup seperti Peter Parker yang dihantui oleh berbagai musuh, bedanya musuh kita adalah virus-virus yang bertebaran di udara. Permasalahan tahun 2021, kemudian tantangan di 2022, berbagai macam ancaman varian baru virus Corona dari Delta, Omicron, dan deretan varian lainnya, sekarang muncul lagi flurona.

Akhir-akhir ini kita dihebohkan dengan kabar sensasional tentang flurona. Infeksi ganda dari virus flu virus Corona menjadikan munculnya istilah “flurona”. Sebenarnya, sejak pandemi dimulai, orang-orang telah dites positif untuk COVID-19 dan influenza atau biasa disebut flu.

Mengutip dari nytimes.com, pada akhir Januari hingga akhir Maret 2020, para peneliti di China menemukan hampir 100 kasus pasien yang dites positif untuk kedua penyakit itu di Wuhan. Saat itu, sebelum vaksin tersedia, infeksi ganda seperti itu, atau yang oleh para ahli penyakit menular disebut koinfeksi, tampaknya jarang terjadi. Sebuah studi musim semi 2020 di New York City, misalnya, menemukan bahwa setelah sekitar 1.200 pasien COVID-19 diuji untuk virus pernapasan lainnya, seperti yang menyebabkan influenza atau flu biasa, hanya 36, ​​atau kurang dari 3 persen, yang mengalami infeksi simultan. 

Dr. Jonathan D. Grein, seorang dokter penyakit menular dan direktur epidemiologi rumah sakit di Cedars Sinai Medical Center mengatakan “Alasan kami belum banyak membicarakannya adalah karena itu belum menjadi tantangan klinis,” Jika ini menjadi masalah serius, para ahli berharap untuk mengetahui lebih banyak tentang hal itu dalam beberapa bulan mendatang.

Apa saja gejala flurona?

Baik COVID-19 maupun influenza menyebabkan gejala yang sama, yaitu demam, batuk, kelelahan, sakit tenggorokan, pilek, dan nyeri otot. Pada pasien yang mengalami koinfeksi tidak akan mengalami gejala yang unik.

Pasien yang dirawat di rumah sakit dengan infeksi ganda akan dirawat berdasarkan risiko penyakit parah mereka. Program perawatan yang tepat akan tergantung pada keadaan setiap pasien dan faktor risiko pribadi. Misalnya pada pasien yang berisiko lebih tinggi menderita penyakit paru-paru parah, seperti halnya pada pasien yang obesitas, mereka akan menerima perawatan yang lebih agresif.

Ada kemungkinan koinfeksi dapat menyebabkan penyakit yang lebih lama. Dalam salah satu studi awal di Wuhan, pasien COVID-19 yang juga menderita influenza melepaskan SARS-CoV-2 selama 17 hari, dibandingkan dengan rata-rata 12 hari untuk mereka yang menderita penyakit ini, hanya satu infeksi.

Apakah koinfeksi membuat kita lebih sakit?

Bila kita dihadapkan dengan dua pilihan terburuk antara terinfeksi dua virus sekaligus atau terinfeksi satu virus, pasti kita memilih hanya terinfeksi satu virus. 

Ternyata, koinfeksi tidak semata-mata membuat pasien akan mengalami sakit dua kali lipat. Sebenarnya, respon imun yang kuat dapat membantu tubuh melawan semua jenis patogen, sehingga satu infeksi dapat merangsang beberapa perlindungan tambahan.

Dr. Jonathan D. Grein, mengatakan “Infeksi pada satu mungkin membantu untuk membantu respons imun Anda terhadap yang lain, karena itu mengaktifkan respons imun yang sama yang akan efektif dalam melawan keduanya.”

Sementara, Dr. Andrew Noymer, seorang ahli epidemiologi dan profesor kesehatan populasi dan pencegahan penyakit di University of California, Irvine, yang mempelajari influenza, berkata “Sistem kekebalan manusia dapat membuat antibodi untuk beberapa patogen secara bersamaan,”.

Siapa saja yang paling rentan terhadap flurona?

Dr. Omer, yang juga profesor penyakit menular dan epidemiologi di Yale, mengidentifikasi dua kelompok yang menurutnya paling rentan terhadap koinfeksi. Ia menyatakan bahwa orang dewasa yang tidak divaksin termasuk ke dalam golongan paling rentan terjena flurona. Selain orang yang tidak di vaksin, kelompok yang rentan terkena flurona adalah anak anak. Anak-anak dengan usia di bawah 5 tahun, masih terlalu dini untuk divaksinasi dan menjadikan mereka lebih rentan. 

Entah varian Delta, Omicron ataupun flurona, semua harus dicegah penularannya dengan memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak sosial. (LS)

Sumber:

https://time.com/6137402/flurona-covid-flu/

Photo: euractiv.com