Gunung Merapi Kembali Erupsi, Yuuk Kenali Lebih Jauh Tentang Gunung Merapi

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Kemarin, saat matahari mulai tergelincir dari atas kepala, gunung merapi menunjukkan aktifitasnya. Gunung yang ada di perbatasan DI Yogyakarta dan Jawa Tengaj ini mengalami erupsi pada Minggu (6/2/2022) pukul 15.12 WIB, menyemburkan awan panas dari dalam kawah mencapai ketinggian 600 meter.

Berdasarkan pantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM, kolom abu Gunung Merapi teramati berwarna kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal ke arah barat daya. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 47 mm dan durasi 129 detik.

PVMBG menginformasikan bahwa potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km. Kemudian, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km. Selanjutnya, pada sektor tenggara, meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak. 

Masyarakat diimbau agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya. Tak hanya itu, PVMBG juga meminta agar masyarakat mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi serta mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan. 

Gunung merapi yang kemarin erupsi merupakan salah satu gunung berapi bagian selatan dari kelurusan dari jajaran gunungapi di Jawa Tengah mulai dari utara ke selatan yaitu Ungaran-Telomoyo-Merbabu-Merapi. Kelurusan ini merupakan sebuah patahan yang berhubungan dengan retakan akibat aktivitas tektonik yang mendahului vulkanisme di Jawa Tengah. Aktivitas vulkanisme ini bergeser dari arah utara ke selatan, dimana G. Merapi muncul paling muda.

Di antara kita pasti masih mengingat letusan dahsyat gunung merapi pada tahun 2010. Pada 25 Oktober 2010 status Merapi ditetapkan ‘Awas’ (Level IV), dengan kondisi akan segera meletus, ataupun keadaan kritis yang dapat menimbulkan bencana setiap saat. Pada 26 Oktober 2010 pukul 17:02 WIB terjadi letusan pertama bersifat eksplosif disertai dengan awanpanas dan dentuman. Pada 3 November 2010 terjadi rentetan awanpanas. Tren meningkat pada data RSAM antara 3 – 4 November 2010 menunjukkan proses pertumbuhan kubah lava yang mencapai volume 3.5 juta m3. Pada 5 November 2010, terjadi penghancuran kubah lava yang menghasilkan awanpanas sejauh 15 km ke K. Gendol. Erupsi ini merupakan erupsi terbesar. Korban jiwa akibat erupsi G. Merapi 2010 sebanyak 347 Orang (BNPB). Korban terbanyak berada di Kabupaten Sleman yaitu 246 jiwa. Menyusul Kabupaten Magelang 52 jiwa, Klaten 29 jiwa, dan Boyolali 10 jiwa. Sedangkan pengungsi mencapai 410.388 Orang (BNPB).

Sebelum letusan yang terjadi pada tahun 2010, terdapat beberapa catatan letusan gunung merapi, di antaranya pada periode 3000 – 250 tahun yang lalu tercatat lebih kurang 33 kali letusan, dimana 7 diantaranya merupakan letusan besar. Dari data tersebut menunjukkan bahwa letusan besar terjadi sekali dalam 150-500 tahun.

Pada periode abad ke-19 (tahun 1768, 1822, 1849, 1872) dan abad ke-20 yaitu 1930-1931. Erupsi abad ke-19 jauh lebih besar dari letusan abad ke-20, dimana awan panas mencapai 20 km dari puncak. Kemungkinan letusan besar terjadi sekali dalam 100 tahun.

Letusan G. Merapi dicirikan oleh keluarnya magma ke permukaan membentuk kubah lava di tengah kawah aktif di sekitar puncak. Munculnya lava baru biasanya disertai dengan pengrusakan lava lama yang menutup aliran sehingga terjadi guguran lava. Lava baru yang mencapai permukaan membentuk kubah yang bisa tumbuh membesar. Pertumbuhan kubah lava sebanding dengan laju aliran magma yang bervariasi hingga mencapai ratusan ribu meter kubik per hari. Kubah lava yang tumbuh di kawah dan membesar menyebabkan ketidakstabilan. Kubah lava yang tidak stabil posisinya dan didorong oleh tekanan gas dari dalam menyebabkan sebagian longsor sehingga terjadi awan panas. Awan panas akan mengalir menuju tempat yang lebih rendah dengan menyusuri lembah sungai. Kecepatan aliran mencapai 60-100 km/jam dan akan berhenti ketika energi geraknya habis. Awan panas inilah yang disebut sebagai “Tipe Merapi” yang merupakan ancaman bahaya utama.

Karena aliran awan panas yang merupakan bahaya utamanya, maka pembangunan seharusnya berlandaskan pada peta risiko bencana gunung api yang ada. Bagi para warga yang tinggal di lembahan sungai yang berada di sekitar aliran awan panas Gunung Merapi diharapkan selalu waspada dan siaga. (LS)

Sumber:

https://vsi.esdm.go.id/index.php/gunungapi/data-dasar-gunungapi/542-g-merapi?start=1

https://nasional.sindonews.com/read/678303/15/gunung-merapi-erupsi-semburkan-awan-panas-setinggi-600-meter-1644141732