Sungai Dalam Hidupku

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Tulisan ini datang dari Anna Maria Andjarwati, peserta lomba menulis yang diadakan disasterchannel.co dengan tema “Aku dan Sungai”. Mari simak bagaimana Anna pendapatnya mengenai peran sungai yang ia tulis dalam tulisan berikut:

Sungai adalah kehidupan bagi umat manusia. Sejak zaman Nabi Musa yang kita baca dalam kitab suci sungai telah mempunyai peranan penting sebagai sarana manusia beraktivitas. Dari yang paling sederhana untuk mandi, mencuci, sarana transportasi antar daerah, sumber mata pencaharian, pusat ekosistem, yang kemudian berkembang menjadi sumber irigasi, dan semakin modern menjadi sumber pembangkit listrik tenaga air.

Seperti telah diketahui bahwa dimana ada sungai disitu ada kehidupan. Perkembangan sebuah kawasan di bumi ini bermula dari daerah yang dilalui sungai. Apabila kita menyimak ke belakang, sungai-sungai di Jakarta Barat menjadi pusat perdagangan. Hanya sayangnya semakin modern, sungai-sungai ini makin dangkal dan tidak dapat lagi dilalui kapal-kapal kecil lagi untuk lalu lintas membawa barang-barang yang akan dipasarkan. Saat ini kegiatan seputar sungai masih dapat dilihat ketika kita naik pesawat terbang, di sepanjang aliran sungai akan terlihat deretan rumah, tambak-tambak (akuakultur), tegalan dan sawah-sawah yang sumber airnya dari sungai.

Pengalaman penulis sekitar tahun 1960-an, saat sungai di pedesaan atau di kota kecil seperti  Magelang di Jawa Tengah masih sangat dominan untuk kegiatan sebagian besar Masyarakat. Airnya sangat jernih, disalurkan ke saluran-saluran dalam kota (ke selokan yang disebut kalèn artinya kali/sungai kecil) juga jernih. Batu-batu di bawahnya masih terlihat nyata.  Cuci kaki di selokan-pun bersih bening. Selokan ini sering dibendung oleh penduduk disekitarnya untuk menyiram tanaman di halaman rumah mereka.  Ada juga sungai-sungai yang dibendung, kemudian dibuat menjadi beberapa pancuran dibawah pohon rindang untuk mandi dan cuci penduduk. Segar dan bersih. Apabila musim kemarau tiba, tempat ini yang dalam Bahasa Jawa disebut mbelik, menjadi tempat untuk mengambil air (ngangsu) bila PAM tidak berfungsi. Meminum air dari pancuran-pun masih tega karena memang bersih tanpa polutan yang menyertainya.

Namun makin lama semua itu berubah menjadi sebuah kenangan indah yang seolah sulit untuk dibenahi. Tiga dekade terakhir bantaran sungai makin menjadi tempat favorit untuk di huni utamanya di kota besar. Sebelumnya jarak terdekat sebuah rumah atau hunian dengan sungai 20-30 meter, bahkan lebih. Tetapi seiring berkembangnya populasi manusia, justru bantaran sungai yang semula dipertahankan vegetasinya supaya tidak banjir dan terjaga ekosistemnya, justru digunakan sebagai hunian. Alhasil, fungsi sungai bukan lagi sumber air bersih, tetapi fungsinya menjadi tempat sampah besar dan MCK (Mandi,Cuci, Kakus). 

Masyarakat di sekitar sungai pun saat ini seolah sudah tidak peduli lagi dengan kebersihannya, apalagi di kota-kota besar yang seharusnya penduduknya lebih berpendidikan dan paham akan dampak yang ditimbulkan dengan berubahnya fungsi sungai tersebut. Sungai sudah jarang sekali dapat digunakan sebagai sarana transportasi, rekreasi, atau mata pencaharian. Ikan-ikan air tawar sudah tidak nyaman tinggal di sungai karena harus bersaing dengan plastik dan benda-benda lain termasuk tikar dan spring bed. Sungguh menyedihkan bahkan mengerikan. 

Seharusnya makin banyak orang berpendidikan, lingkungan makin bersih apalagi ada yang menyebutkan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Tapi sama sekali tidak dapat dibuktikan dalam kehidupan keseharian yang kita saksikan.

Pemerintah telah sering menghimbau bahkan LSM banyak yang berusaha untuk terjun langsung membersihkan sungai. Namun umumnya menunggu event-event tertentu seperti Hari Lingkungan Hidup dll, belum semua pemerintah daerah membersihkan sungai-sungai secara rutin dan terprogram. Sebenarnya, makin banyak penduduk seharusnya makin banyak yang bisa dikerahkan untuk bersama-sama mencari solusi tepat untuk mengatasi kebersihan sungai.

Sebenarnya ada contoh baik dari seorang Gubernur DKI yang memberi contoh luar biasa dan nyata. Sungai yang semula hitam dan bau menyengat, berubah menjadi bersih dan tidak berbau. Ini karena beliau mengerahkan pasukan khusus untuk membersihkan sungai dan aspek-aspek yang berhubungan dengan lingkungan hidup. Memberdayakan sumber daya manusia yang ada untuk menggarap proyek ini. Solusi beliau menjadi simbiosis mutualisme antar kepentingan. 

SDM membutuhkan penghasilan dengan Pendidikan pas-pasan, dan lingkungan hidup yang menjadi lebih baik. Tidak hanya SDM, alat berat semacam eskavator pun diturunkan ke sungai manapun yang ada di DKI Jakarta dan sekitarnya termasuk perbatasan dengan Kota Bekasi seperti yang penulis lihat di sebelah rumah. Ada pasukan yang dibuat oleh Pemda DKI waktu itu. Yang berhubungan dengan lingkungan hidup yakni pasukan biru (pembersihan saluran/selokan), hijau (mengatur keasrian tanaman/ dan mengatur vegetasi yang ada), dan orange (untuk kebersihan sungai dan sekitarnya). Namun begitu beliau lengser, sungai kembali seperti semula kotor dan baunya. Menjadi hitam dan berbusa lagi. Kok bisa ya? Ketidak beresannya dimana?

Apakah setelah beliau dan jajarannya tidak lagi duduk di pemerintahan peraturan-peraturan yang dibuatnya ikut dilengserkan? Mengapa sesuatu yang sangat baik untuk kemaslahatan umat manusia tidak dilanjutkan? Aneh sebenarnya. Anggaran yang telah diprogramkan larinya kemana? Apakah pemerintahan yang baru mempunyai program yang lebih baik? Nyatanya tidak sama sekali. 

Persepsi penulis mengenai penyebab keadaan sungai kembali menjadi buruk adalah antara lain:

  1. Komitmen pemerintah daerah untuk lingkungan hidup terdistorsi dengan kepentingan politik. Tidak bersedia melanjutkan program apapun yang sudah dicanangkan pemerintahan sebelumnya dengan alasan anggaran terlalu besar. Pokoknya harus beda dan membuat peraturan baru supaya terlihat produktif sebagai Pemda baru
  2. Law enforcement terhadap aturan-aturan yang telah dibuat tidak lagi dilaksanakan dengan baik dan benar
  3. Mental egois penduduk kota besar yang sembrono atau seenaknya sendiri membuang sampah mereka, tanpa memperhitungkan kepentingan bersama dan kesehatan diri sendiri
  4. Edukasi dini mengenai kebersihan yang masih jauh panggang dari api.

Banyak diantara masyarakat migran utamanya yang memilih bantaran sungai sebagai tempat tinggal pertimbangannya sangat egois, hanya memikirkan kepentingan sendiri. Tanah tidak perlu menyewa, dekat dengan tempat kerja, fasilitas mencuci dan MCK-pun gratis tanpa berpikir masalah kesehatan bersama, kalau banjir tinggal protes ke Pemerintah tanpa merasa merekalah penyebabnya, dan untuk membersihkan sungai mengandalkan tindakan pemerintah. 

Ketidakpedulian ini tidak hanya terjadi di tengah aliran sungai atau di hilir, tetapi juga terjadi di hulu. Pemerintah telah memulai berpuluh tahun yang lalu bekerja sama dengan lembaga internasional WWF (World Wide Fund for Nature) telah berusaha menanam ribuan jenis tanaman keras di berbagai daerah aliran sungai utamanya di hulu sungai yang berpotensi menjadi penyebab terjadinya banjir atau longsor, dan vegetasinya mulai jarang atau rusak. Tanaman tersebut oleh Pemerintah Daerah dititipkan kepada Desa setempat agar terus dipelihara, sejak ditanam sampai tumbuh besar ketika akar-akarnya cukup untuk mencegah longsor dan menciptakan tanah subur yang menyerap air.

Suatu saat penulis ikut dalam sebuah program penanaman bibit tanaman yang dapat diberi nama sesuai penanamnya dan pertumbuhannya dapat dipantau lewat satelit via Google Earth. Ternyata program ini tidak berkembang seperti yang diharapkan. Tanaman yang telah tumbuh besar dan mulai berfungsi sebagai pengendali air, justru ditebang oleh orang-orang disekitarnya yang semula diharapkan dan berjanji untuk dapat menjadi pemelihara tanaman itu.  Sungguh sangat mengecewakan bagi kami yang mempunyai harapan besar saat itu untuk pengendalian di hulu Sungai Citarum. Rupanya komitmen-komitmen semacam ini sering dilanggar demi mendapatkan rupiah. Sulit sekali mengedukasi Masyarakat yang orientasinya masih berkutat pada uang dan uang. Lalu, apa yang dapat dilakukan sebagai anggota Masyarakat biasa agar lingkungan hidup kita nyaman dihuni, hijau, bersih, segar, dan tidak banjir? 

 Usulan yang mungkin dapat dilakukan antara lain harus dimulai dari:

  1. Setiap keluarga di negeri ini: mengedukasi anak-anak mereka untuk membuang sampah ditempat yang benar, bukan di sungai
  2. Sekolah-sekolah: menginformasikan dan mengedukasi anak didiknya apa gunanya sungai dan bagaimana ikut memelihara kelestariannya dan apa akibatnya apabila sungai menjadi tempat sampah, mempraktekkannya setiap bulan sekali sebagai program luar ruangnya
  3. Edukasi kepada Masyarakat secara terus menerus oleh pemerintah grass root, dengan mengadakan program RT/RW bulanan untuk membersihkan sungai di sekitarnya
  4. Law enforcement dengan denda yang signifikan bagi yang ketahuan membuang sampah di sungai
  5. Bantaran sungai dibersihkan dari hunian liar dan dikembalikan fungsinya untuk inspeksi petugas pengairan dan penghijauan. Dalam hal ini aparat harus berani melawan mereka yang mengutip uang lapak atau para preman. Para preman inilah yang menyebabkan para migran berani menempati bantaran sungai karena mereka merasa telah membayar.
  6. Lebih banyak LSM Lingkungan hidup yang khusus dibuat untuk terus menerus mengedukasi Masyarakat mengenai air/sungai dan bahaya dari polutan yang mencemarinya.
  7. Kementerian Lingkungan hidup harus terus menerus mengumandangkan masalah ini melalui PSA (Public Service Ad) baik melalui Media mainstream, media social maupun media luar ruang

Komitmen dari seluruh stakeholders sangat diharapkan untuk masa depan anak cucu bangsa ini.

Semoga kita semua merasa bertanggung jawab atas kelestarian sungai untuk hidup kita.