Pembuluh Darah Kota

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Tulisan ini datang dari Denny Setiawan, peserta lomba menulis yang diadakan disasterchannel.co dengan tema “Aku dan Sungai”. Mari simak cerita Denny yang membahas mengenai sungai di ibukota dalam tulisan berikut:

Kumuh, kotor, tak terurus potret bantaran dan sungai kita kini. Hiruk pikuk kota seakan mengabaikannya semua bangunan serempak berdiri membelakangi, seakan tidak mau mengenalnya. Sungai mengalir dengan begitu baik berkelok dan mengisi ruang – ruang dan berakhir di lautan  seakan menjadi pembuluh darah kota. Dia mengalir membawa nutrisi bagi tanaman di bantaran dan mengisi kantong – kantong air untuk daerah yang dilewatinya. 

Coba tengok kembali kondisinya kini, sungai sekarang sangat memprihatinkan semuanya kompak seperti berlomba menambah kerusakan yang ada. Semua terjadi entah disadari atau tidak mulai dari perorangan maupun sebuah perusahaan besar yang biasanya sudah punya izin analisis dampak lingkungan. Pemerintah sebagai yang punya kuasa untuk menindak terkesan tidak serius melihat kejadian yang berulang dari berbagai peristiwa pencemaran sungai yang ada. 

Pembangunan yang terjadi  malah menambah kebingungan yang ada sungai dianggap selokan raksasa, beton – beton kokoh berdiri rapat di bantaran dengan alasan mencegah longsoran katanya. Sekarang beton – beton yang menjadi tanggul seakan menjadi solusi jangka pendek.  Mulai tampak tidak kuat menahan laju derasnya air, di beberapa titik di daerah sudah terendam akibat tanggul penahannya bocor dan jebol. Kawasan – kawasan yang merupakan batas tempat air naik seharusnya tidak menjadi tempat tinggal manusia, tapi kini makin ramai adanya. 

Hunian di bantaran sungai banyak yang berstatus tidak layak huni karena rawan akan terperosok atau longsor jatuh ke sungai. Pengembang dari hunian hanya mengambil poin keindahan tanpa memikirkan dampak kedepan. Pembuangan limbah rumah tangga sering kali tidak ada pengolahan lebih lanjut untuk layak dikeluarkan untuk masuk ke dalam ekosistem sungai. Air terjun limbah detergen atau limbah tekstil sering ditemukan di bantaran sungai sebagai inlet sungai yang berasal dari selokan kota dan pabrik – pabrik di pinggiran sungai. 

Tempat Pembuangan Akhir (TPA) beberapa ditemukan di bantaran sungai. Sebagai contoh sebut saja TPA Cipeucang yang berada di Kota Tangerang Selatan dan TPA Cipayung berada di Kota Depok. Masing – masing kedua TPA itu berada di bantaran sungai Cisadane dan Pesanggrahan. Kedua TPA tersebut juga sama memiliki status yang sebenarnya tidak layak menjadi lahan TPA karena rawan untuk longsor. Dalam satu dekade terakhir kejadian longsor di kedua TPA tersebut sudah terjadi beberapa kali dan menjadi headline nasional. Sampah yang amblas pun secara langsung mencemari ekosistem sungai.

Daur air yang selama ini dipelajari di bangku sekolah menjadi begitu komplek dengan adanya variabel – variabel baru yang bermunculan. Mulai dari proses evaporasi sehingga menjadi awan dan menurunkan hujan, air – air yang bisa saja terserap di bantaran kini sulit melakukan proses infiltrasi karena dihalangi beton. Dataran hijau sebagai penangkap air pun sudah beralih fungsi dan tertutup oleh bangunan. Di daerah kota yang sungainya sudah dibeton, pada saat air meluap dan banjir genangan air tidak bisa langsung mengalir menuju sungai melainkan terhalang dari beton yang ada dan mengandalkan mesin pompa untuk menyedot dan membuang kembali ke sungai.

Bicara banjir sangat erat kaitanya dengan sungai yang meluap, mengapa bisa sungai yang seharusnya cukup menjadi jalan untuk air saja tidak bisa menampung debit air yang ada. Mari lihat kembali tentang daur air yang selama ini kita pelajari di bangku sekolah, air yang jatuh ke bumi dari proses hujan dan mengalir dari puncak gunung seharusnya dapat terserap dengan baik. Ruang  hijau menjadi penangkap air yang baik mulai dari hutan lindung di daerah pegunungan sampai ruang hijau di perkotaan. Namun kini ruang – ruang hijau itu telah beralih fungsi menjadi hutan beton yang tidak bisa menyerap air dengan baik.

Harapan masih ada, Langkah – langkah pelestarian dan kesadaran mulai terpupuk dengan baik. Banyak tunas – tunas muda dan lembaga yang menjadi motor penggerak perubahan untuk menyelamatkan sungai yang awalnya dipandang sebelah mata kini memiliki nilai ekonomi kembali. Gerakannya pun beragam mulai dari restorasi sungai yang penuh sampah menjadi asri, penebaran bibit ikan untuk mempercepat proses pulih, dan ada juga yang menata bantaran hingga menjadi objek wisata yang indah.

Saatnya mengambil bagian untuk turun andil merawat aliran pembuluh darah kota yang menghidupi warga. Membentuk kesadaran kolektif di masyarakat menjadi pekerjaan bersama untuk menempatkan sungai sebagai salah satu bagian dari kehidupan bersama. Sama – sama berangkulan antar elemen masyarakat, pengusaha, dan penguasa guna mengembalikan ekosistem sungai untuk asri kembali.

Foto: megapolitan.kompas.com