Menjelajah Waktu Mengenang 15 Tahun Gempa Yogyakarta

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Ingat Yogya ingat kamu, iya kamu. Kamu, gempa yang terjadi pada 27 Mei 2006, tepat sudah 15 tahun yang lalu. 

Selama ini kita tahu bahwa Yogyakarta terkenal sebagai kota pelajar. Akan menjadi menarik bila kita belajar dari daerah yang disebut sebagai kota pelajar ini. Belajar bisa dari mana saja, bahkan dari peristiwa bencana. Alasan kenapa kita harus belajar banyak dari wilayah Yogyakarta yang pernah dilanda gempa 2006 lalu, hal ini karena gempa dapat berulang di masa depan dan kita tidak tahu kapan datangnya.

Bila disasterchannel.co dapat keistimewaan untuk memperoleh salah satu alat canggih milik Doraemon, maka disasterchannel.co pasti memilih mesin waktu. Disasterchannel.co akan mengajak kalian semua kembali pada akhir bulan Mei tahun 2006 untuk melihat seberapa besar kerusakan dan kerugian yang terjadi di beberapa wilayah Yogyakarta akibat aktivitas sesar Opak.

Dalam penjelajahan menggunakan mesin waktu Doraemon, kita dapat melihat Daerah Istimewa Yogyakarta yang terdiri dari lima kabupaten yaitu Bantul, Yogyakarta, Sleman, Gunungkidul dan Kulon Progo. Kala gempa terjadi daerah yang mengalami kerusakan paling parah di antaranya Bantul, Sleman bagian selatan, Kotamadya Yogyakarta bagian selatan dan Kabupaten Klaten bagian barat (termasuk Provinsi Jawa Tengah). 

Bencana gempa pada tanggal 27 Mei 2006 memiliki magnitude 5.9 SR menurut BMKG (Badan Geofisika dan Meteorologi Indonesia) dan 6,3 Skala Richter menurut USGS (United Stated Geological Survey), kedalaman episentrum 33 km dan terletak di dekat muara Sungai Opak, pada 9.78 S dan 110. 32 E (UTC). Durasi guncangan kuat Gempa Yogyakarta a sekitar 55 detik. Kasus gempabumi 27 Mei, 2006 di Yogyakarta dan Jawa Tengah disebabkan oleh pergerakan sesar yang dipicu oleh energi dari zona subduksi antara lempeng Eurasia dan Indo-Australia. 

Ketika gempa 27 Mei 2006 terjadi disertai dengan suara gemuruh, sebagian besar masyarakat Yogyakarta menduga suara gemuruh tersebut berasal dari letusan gunung Merapi (terletak di bagian utara Yogyakarta), karena pada masa itu Gunung Merapi sedang meletus. Lima belas menit setelah suara gemuruh tersebut, peristiwa sebenarnya yang dikenal sebagai gempa bumi yang episentrumnya terletak di bagian selatan Yogyakarta, tepatnya di dekat muara Sungai Opak. 

Ternyata daerah Yogyakarta dan sekitarnya memiliki beberapa situs purbakala, sekitar 272 situs pada periode Hindu-Budha yang terdapat di daerah anyara dua sungai utaama di Yogyakarta, seperti Sungai Progo di sebelah barat situs dan sungai Opak di sebelah timur. Sebagian besar artefak situs purbakala tersebut mengalami kerusakan, akibat aktivitas vulkanik jika berada di kawasan vulkanik, dan akibat gempa jika berada di blok patahan daerah perbukitan. Beberapa artefak ditemukan beberapa meter di bawah permukaan tanah seperti Candi Sambisari di Kalasan. Reruntuhan Candi Boko di jajaran Baturagung yang terletak di sepanjang sesar Opak bisa jadi disebabkan oleh gempa bumi. Dilihat dari peninggalan artefak yang hancur akibat bencana, maka kita bisa manarik kesimpulan cepat bahwa memang daerah Yogyakarta rawan terhadap gempa.

Gempa ini menyebabkan banyak korban, rumah dan kerusakan fasilitas umum. Sebenarnya magnitudo gempa skala sedang, tetapi tidak sebanding dengan jumlah korban dan kerugian properti. Data terakhir menunjukkan bahwa korban meninggal 5.048, kerusakan rumah 206.524, industri kecil dan menengah 2.014 rusak, gedung sekolah 2.371 dan kerugian finansial sekitar 22 triliun rupiah. Jumlah korban dan kerusakan rumah di Bantul jauh lebih tinggi dibandingkan dengan yang lainnya, karena lokasinya yang relatif dekat dengan kompleks sesar, padat daerah berpenduduk dan kualitas bangunan buruk.

Setelah menjelajah dengan mesin waktu Doraemon ke waktu 15 tahun yang lalu dan melihat seberapa dahsyat dampak gempa, maka kita akan melanjutkan perjalanan ke masa depan pada saat kejadian gempa terulang. Bila kita masih melihat dampak yang sama seperti gempa Yogyakarta tahun 2006, hal itu menandakah bahwa kita tidak pernah belajar dari sejarah gempa yang terjadi dan tidak melakukan tindakan mitigasi sebagai investasi. Namun bila kita benar-benar belajar dan menjadikan risiko bencana sebagai landasan pembangunan maka tidak akan disaksikan lagi di masa depan kerugian yang masif akibat gempa yang berulang. (LS)

Sumber:

Sutikno, Sutikno. “Earthquake disaster of Yogyakarta and Central Java, and disaster reduction, Indonesia.” Forum Geografi. Vol. 21. No. 1. 2016.

sumber foto: https://pmperizinan.jogjakota.go.id/web/detail/74/yogyakarta,_kota_istimewa_dengan_sejuta_kenangan_dan_keunikan