Menyingkap Debu Erupsi Gunung Merapi Pada Candi Sambisari

Candi Sambisari, Sumber: saintd.co
Ekspedisi Jawadwipa

Menapaki perjalanan dari Ibukota Jakarta menuju Yogyakarta maka kita akan dimanjakan dengan pemandangan deretan gunung yang menjulang tinggi. Terlihat dari kejauhan megah berdiri Gunung Ungaran, Gunung Merbabu kemudian disusul oleh Gunung Merapi. Berbicara mengenai gunung Merapi seolah tak kan habis pembahasannya. Selain menjadi tempat wisata, gunung ini juga memiliki sejarah letusan yang berdampak besar bagi warga sekitarnya. 

Letusan yang paling diingat oleh kebanyakan dari kita adalah letusan pada tahun 2010. Pada 26 Oktober 2010 pukul 17:02 WIB terjadi letusan pertama. Letusan bersifat eksplosif disertai dengan awan panas dan dentuman. Pada 3 November 2010, Gunung Merapi kembali mengeluarkan awan panasnya. Serangkaian aktivitas erupsi gunung ini menyebabkan berbagai macam dampak kerusakan dan kerugian. Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), korban jiwa akibat erupsi Gunung Merapi pada tahun 2010 sebanyak 347 Orang. Korban terbanyak berada di Kabupaten Sleman yaitu 246 jiwa. Menyusul Kabupaten Magelang memiliki jumlah korban sebanyak 52 jiwa, Klaten 29 jiwa, dan Boyolali 10 jiwa. Sedangkan pengungsi mencapai 410.388 jiwa.

Menyingkap Debu Erupsi Gunung Merapi Pada Candi Sambisari

Jauh sebelum tahun 2010, Gunung Merapi pernah mengalami erupsi besar dan menutup beberapa peradaban. Jejak peradaban manusia ditemukan di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di tempat ini ditemukan sebuah situs bernama Candi Sambisari. Komplek situs Candi Sambisari terdiri atas sebuah candi utama dan tiga buah candi perwara yang dibuat dari batu andesit, dengan pagar keliling dari batu putih berukuran 50 m x 48 m dan dilengkapi pula dengan dua pagar keliling di luarnya.

Menurut arkeolog bernama Soediman, Candi Sambisari berdiri sekitar abad 9 Masehi (812 – 838 M). Pendapat ini didukung oleh Buchari yang juga seorang arkeologi sekaligus Paleografi, sebab dalam situs Candi Sambisari ditemukan sebuah artefak berupa lempengan emas yang bertulisan Jawa Kuna, berbunyi Om siwa sthana yang artinya “Hormat, pembuatan tempat (rumah) bagi Dewa Siwa”. Tulisan tersebut ditafsirkan oleh Buchari berasal dari abad 9 M. 

Keberadaan Candi Sambisari yang tertimbun dalam tanah ditemukan pada tahun 1966. Kala itu seorang petani bernama Arjo Wiyono sedang mengolah lahan pada tanah milik  Karyoinangun. Balai Arkeologi Yogyakarta kemudian memeriksanya dan terus dilakukan penggalian hingga pada akhirnya candi ini dipugar dan bentuknya dapat kita saksikan sampai saat ini. 

Endapan material letusan Gunung Merapi beberapa abad lalu menimbun Candi  Sambisari. Bangunan Candi Sambisari berada di daerah lereng selatan kaki Gunung Merapi yang jaraknya sekitar 18 km dari gunung tersebut. Menurut penelitian Masyhudi daerah Sambisari pada masa lalu sangat memungkinan untuk menerima pasokan material dari Gunung Merapi ketika erupsi terjadi,  melalui Kali Kuning yang berjarak 300 meter dari bangunan candi. Lambat laun, material erupsi gunung ini menebal dan terus menimbun Candi Sambisari.

Menyingkap debu erupsi Gunung Merapi pada Candi Sambisari memberikan pengetahuan bagi kita bahwa letusan merapi dapat menimbun jejak peradaban manusia pada beberapa abad yang lalu. Hingga saat ini status Gunung Merapi berada pada level siaga III. hidup dekat dengan deretan gunungapi memaksa kita untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan agar dampak bisa terus dikurangi bila bencana menghampiri. 

Penulis: Abdurrahman Heriza

Editor: Lien Sururoh

Sumber:

Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi D. I. Yogyakarta, “Candi Sambisari,” Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, July 31, 2020, diakses pukul 10:45 WIB Maret 22, 2023, http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/candi-sambisari/.

Masyhudi, “Situs Candi Sambisari Yang Pernah Terpendam,” Berkala Arkeologi 25, no. 1 (November 11, 2005): h 31, 32, 37, 43.

https://vsi.esdm.go.id/index.php/gunungapi/data-dasar-gunungapi/542-g-merapi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *