Mari Berkenalan dengan Sesar Palu-Koro

Papan pemberitahuan sesar Palu-Koro, Sumber: Santi Ariska
Ekspedisi Jawadwipa

Sesar Palu-koro yang sudah dikenal terutama di Indonesia. Entah sudah ribuan kata bahkan lebih yang ditulis oleh disasterchannel.co mengenai bencana. Namun rasanya tak akan pernah ada akhirnya karena nyatanya bencana dapat terulang di masa depan. 

Beberapa kali disasterchannel.co mengunjungi Sulawesi Tengah untuk menggali, menggali dan terus menggali mengenai bencana di Sulawesi Tengah. Langkah kaki ini tidak pernah lelah, pikiran ini tidak pernah bosan untuk selalu mencari tahu bencana gempabumi yang terjadi di tengah pulau yang bentuknya menyerupai huruf “K” ini. 

Selalu saja ada hal menarik ditemukan dari setiap perjalanan yang dilakukan, bahkan hal-hal yang menggelitik juga dialami. Semua pengalaman ini bermula dari keberadaan sesar Palu-Koro. 

Memang unik nyatanya tatanan geologi Pulau Sulawesi. Para ahli mengindikasikan adanya kompleksitas kondisi geologi pulau Sulawesi yang merupakan produk dari proses tektonik pertemuan tiga lempeng besar, yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Indo-Australia. Proses pembentukan ini menyebabkan kondisi geologi dan kekayaan alam di Pulau Sulawesi termasuk yang paling rumit dan beragam di dunia.

Mari Berkenalan dengan Sesar Palu-Koro

Salah satu penyebab gempabumi yang terjadi di wilayah Sulawesi Tengah adalah karena aktivitas sesar aktif. Sesar adalah patahan pada tubuh bumi yang mengalami pergerakan. Istilah sesar aktif didefinisikan sebagai sesar dengan perpindahan yang terjadi pada akhir Pleistosen (2 juta sampai 10 ribu tahun yang lalu) dan Holosen (10 ribu tahun terakhir) dan dapat terjadi di masa depan.

Bentuk sesar ada 3 macam, yaitu sesar turun (sesar normal), sesar naik dan sesar geser. Dua bentuk yang pertama biasa disebut sesar vertikal, sedang bentuk yang ketiga biasa disebut sesar mendatar. Ada 2 jenis sesar geser, yaitu dextral dan sinistral. 

Sesar Palu-Koro keberadaannya begitu mendunia ketika gempabumi, tsunami dan likuefaksi terjadi pada 28 September 2018. Dahulu sesar Palu-Koro dikenal dengan sesar Sesar Fossa Sarassina. Sesar Palu – Koro merupakan salah satu sesar besar dari 4 sesar besar di Indonesia. Sesar Palu-Koro memanjang mulai dari perairan laut Sulawesi (Selat Makassar) sampai pantai utara Teluk Bone, dengan dimensi panjang 500 Km. Pada bagian darat sesar Palu-Koro memiliki dimensi panjang sekitar 250 km, dari mulai Teluk Palu sampai dengan Pantai Utara Teluk Bone.

Secara geologi, sistem dari sesar Palu-Koro merupakan suatu sistem kesatuan dari sesar geser sinistral atau disebut dengan sesar geser mengiri. Pada segmen dari Palu-Kulawi diinterpretasikan sesar normal, sesar normal atau yang dikenal dengan sesar naik ini akan membentuk suatu rendahan atau dikenal dengan sebutan graben. 

Baca Juga: Warisan Peradaban Kuno di Sulawesi Tengah

Sejarah gempabumi tektonik yang diakibatkan oleh aktivitas sesar Palu-Koro seumur dengan awal mula terbentuk dan aktifnya sesar tersebut, yaitu ribuan tahun yang lalu. 

Beberapa sejarah gempa yang sempat tercatat dan menimbulkan bencana adalah gempa Donggala 1927, menyebabkan sejumlah korban jiwa dan menimbulkan tsunami dengan tinggi gelombang 15 meter, yang menerjang pantai timur Teluk Palu. Gempa ini mengubah daratan sekitar 200 m dari pantai termasuk di dalamnya kawasan pasar Mamboro menjadi dasar laut.

Gempa Teluk Tambu atau gempa Mapaga 1968, menimbulkan tsunami dengan tinggi gelombang sekitar 10 m, longsoran tanah, dan munculnya mata air panas di sepanjang pantai. Di Mapaga tercatat sekitar 790 rumah rusak dan mengakibatkan korban jiwa yang cukup besar.

Gempa Lawe 1995, menimbulkan kerusakan lahan berupa retakan tanah, pelulukan, longsoran dan kerusakan rumah terjadi di Kulawi, Gimpu, Lawe dan Kantewu.

Gempabumi Tonggolobibi 1996, menimbulkan tsunami dan merubah daratan di sekitar pantai menjadi dasar laut dan masih banyak lagi gempabumi tektonik yang pernah terjadi akibat aktivitas sesar Palu-Koro, misalnya gempa Donggala 1938, Rano 1998, Donggala 1998, dan lain-lain, selanjutnya terjadi gempa Bora pada tahun 2009 disusul gempa Lindu tahun 2012.

Gempa terakhir yang masih sangat membekas di ingatan masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Sulawesi Tengah adalah gempa 28 September 2018. Gempa terjadi pada Jumat sore, 28 September 2018, pukul 18:02:44 WITA dengan magnitude Mw 7,4, berpusat di 26 km utara Donggala, Sulawesi Tengah. Gempa ini menyebabkan goncangan yang kuat dan menyebabkan tsunami melanda Teluk Palu dan pesisir pantai Donggala, serta likuefaksi besar-besaran terutama di daerah Petobo dan Balaroa di Kota Palu. Gempa ini sering disebut sebagai gempa Padagimo, Padagimo merupakan akronim dari nama Palu, Donggala, Sigi dan Parigi Moutong, keempat nama derah ini adalah daerah yang terdampak gempa.

Masih banyak lagi keunikan dan keseruan yang kami dapatkan dalam perjalanan menyusuri sesar Palu-Koro. Bagi siapa saja yang masih menyimpan rasa penasaran mengenai gempa, sesar Palu-Koro dan cerita-cerita menarik lainnya silahkan kunjungi selalu website ini.(LS)

Sumber:

Trinirmalaningrum et al. 2019. Ekspedisi Palu-Koro. Yayasan Skala Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *