Jejak Gempa Batavia: Lenyapnya Observatorium Megah

Ekspedisi Jawadwipa

Perjalanan Jejak Gempa Batavia berlanjut ke destinasi yang kedua. Dari “Istana Daendels” di seberang Lapangan Banteng, saya dibawa ke daerah Glodok. Dari tahun 1834, saya mundur hampir satu dekade kembali ke 1768 untuk melihat observatorium yang pernah berdiri megah di sana.

Observatorium Mohr dibangun Johan Maurits Mohr pada tahun 1765 dan aktif melakukan observasi langit dan fenomena alam sampai sepuluh tahun kemudian. Bangunan ini merupakan observatorium yang pertama kali dibangun oleh orang Eropa di Asia.

Bangunan observatorium ini dulu terletak di sisi timur Vihara Dharma Bhakti, Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat. Selama sepuluh tahun beraktivitas, observatorium tutup setelah Johan Mauritz Mohr wafat pada 25 Oktober 1775. Hal itu karena tidak ada masyarakat di Batavia yang dapat melanjutkan pekerjaan Mohr dan mengetahui kinerja observatorium.

Jejak Gempa Batavia: Lenyapnya Observatorium Megah

Gempa 1780 yang melanda Batavia menghancurkan sebagian besar bangunan observatorium. Gempa kuat ini membuat bangunan observatorium rusak berat. Saat istri Mohr wafat sekitar dua tahun setelah gempa, bangunan yang telah rusak itu dijual. Pada tahun 1784, bangunan ini beralih jadi miliknya Willem Vincent van Riemsdijk yang merupakan keluarga Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jeremias van Riemsdijk.Willem lantas mengubah bangunan observatorium menjadi penginapan sebelum Gubernur Jenderal Daendels menutupnya. Daendels mengubahnya bangunan ini jadi barak tentara. Sebagian bangunan observatorium masih tersisa hingga 1812. Akan tetapi, pada tahun 1844 hanya tinggal pondasinya saja.

batavia
Ilustrasi Observatorium Mohr

Seharusnya, jika berdasarkan catatan sejarah, Observatorium Mohr berada di sebuah titik yang sekarang menjadi Jalan Kemurnian 1 dan 2. Diperkirakan, ia tadinya ada di sebelah Vihara Dharma Bhakti, Glodok.

Baca Juga: Jejak Gempa Batavia: Gempa yang Ubah Gereja Jadi Museum

Tapi saat saya sampai sana, tak ada bangunan setinggi 24 meter yang menjulang tinggi di depan saya. Namun, yang ada hanyalah deretan hunian dan ruko serta sisa cerita kejayaan Observatorium Mohr.

Penulis: Alpha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *