Diseminasi Praktik Baik Manajemen Risiko Bencana

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Yayasan Skala Indonesia telah menginisiasi program “Develop Community-Led Disaster Risk Management” sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kapasitas warga yang berada di daerah paling berisiko untuk dapat mengelola secara mandiri risiko bencana yang ada di daerahnya. Program ini didukung oleh PT Mandala Multifinance Tbk.

Program ini telah dijalankan di di ketiga desa di antaranya Desa Serempah dan Bah di Kec. Ketol dan Desa Kute Panang di Kec. Kute Panang sejak bulan Maret lalu. Beberapa rangkaian pelatihan sudah dijalankan mulai dari peningkatan kapasitas pengetahuan warga mengenai ancaman, kajian kerentanan dan kapasitas desa, pelatihan kesiapsiagaan dan juga pembuatan rencana kontinjensi gempabumi, serta simulasi evakuasi mandiri, search and rescue serta manajemen pengungsian.

Gambar 1. Sharing mengenai pengalaman mengikuti rangkaian pelatihan manajemen risiko bencana oleh perwakilan Desa Bah, sumber: disasterchannel.co

Setelah praktik baik pengurangan risiko bencana berbasis komunitas dijalankan, maka diperlukan sebuah media untuk menyebarluaskan dan mengembangkannya. Peluang untuk dialog dan komunikasi dapat memberikan ruang bagi komunitas, perempuan dan kelompok gender lainnya untuk terhubung dan mendorong orang-orang di sekitar mereka, serta membangun modal sosial dalam penanggulangan bencana. Oleh karenanya, Yayasan Skala Indonesia menyelenggarakan Seminar hasil program Develop Community-Led Disaster Risk Management sebagai salah satu wadah untuk bertukar informasi sekaligus berdiskusi mengenai pembangunan berkelanjutan yang berperspektif pengurangan risiko bencana.  

Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai macam lapisan masyarakat, mulai dari perwakilan masyarakat Desa Serempah, Desa Bah, Desa Kute Panang, masyarakat umum, perwakilan BNPB, Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab. Aceh Tengah, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kab. Aceh Tengah, Dinas Sosial (Dinsos) Kab. Aceh Tengah, Dinas Keluarga Berencana dan Perlindungan Perempuan dan Anak Kab. Aceh Tengah.

Seminar ini dilaksanakan pada Jumat, 17 November 2023 di Park Side Hotel, Takengon, Aceh Tengah. Pangarso Suryotomo, Direktur Kesiapsiagaan BNPB yang hadir secara online melalui zoom menyampaikan pesan kunci bahwa resiliensi bukanlah hal yang abadi, ia terus berkembang. Oleh sebab itu, diperlukan dukungan dari berbagai sektor, termasuk sektor swasta seperti Mandala, untuk sama-sama membangun sebuah resiliensi yang berkelanjutan.

Gambar 2. Dr. Ilyas MP, Kepala Pelaksana BPBA menyampaikan materi mengenai bencana di Provinsi Aceh, , sumber: disasterchannel.co

Dr. Ilyas MP, Kepala Pelaksana BPBA menyampaikan bahwa Provinsi Aceh memiliki banyak ancaman bencana yang perlu diperhatikan. Bahkan, terdapat pula ancaman seperti konflik satwa liar di pemukiman. Kebakaran hutan dan lahan menjadi salah satu ancaman serius yang dihadapi oleh Aceh Tengah. untuk meminimalisir risiko bencana, maka perlu usaha dan dorongan dari berbagai pihak, salah satunya dengan kebijakan penanggulangan bencana.

Gambar 3. Penyampaian materi mengenai ancaman bencana di Kab. Aceh Tengah oleh Gusti Martarosa, Sekretaris BPBD Kab. Aceh Tengah, sumber: disasterchannel.co

Gusti Martarosa, selaku sekretaris BPBD Kab. Aceh Tengah menambahkan bahwa  terdapat 1,38 triliun jumlah kerugian finansial yang ditimbulkan akibat bencana di Aceh Tengah.  Upaya meminimalisir kerugian memang perlu uluran tangan banyak pihak. Ia berharap, kegiatan di tiga desa ini dapat berjalan dan menular di daerah lainnya.

Gambar 4. Proses diskusi mengenai rencana pembangunan berperspektif pengurangan risiko bencana di Kab. Aceh Tengah, sumber: disasterchannel.co

Zahra Zakaria, Kepala Bidang Perencanaan Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan, BAPPEDA Kab. Aceh Tengah mengatakan bahwa tidak bisa dipungkiri untuk pemenuhan standar minimum  urusan kebencanaan memang sulit untuk ditingkatkan. Penganggaran penanggulangan bencana masih banyak dihabiskan untuk pembangunan pasca bencana. Kegiatan ini dapat memperkaya perencanaan pembangunan daerah untuk 20 tahun kedepan, khususnya untuk bidang kebencanaan.

Alam Suhanda, Kepala Dinas PPPA Kab. Aceh Tengah berkata, perempuan dan anak adalah kelompok rentan, pemerintah harus memastikan kebutuhan spesifik, pendidikan dan kelangsungan hidupnya terpenuhi walau dalam situasi bencana. serupa dengan Alam, Fungsional Pekerja Sosial Dinsos Kab. Aceh Tengah, Azemi, menyampaikan bahwa selain memberikan bantuan kepada kelompok rentan, Dinsos juga memiliki program pemberdayaan dan upaya pengurangan risiko bencana, diharapkan semua sektor dapat terlibat aktif di dalamnya.

Gambar 5. Proses tanya jawab dari perwakilan Desa Bah mengenai penanggulangan bencana di Kec. Ketol, sumber: disasterchannel.co

Diskusi hangat terjadi antara perwakilan masyarakat dan juga pemerintah daerah setempat. Mereka menceritakan ancaman bencana yang ada di daerahnya dan bertanya bagaimana penanggulangan yang tepat, serta birokrasi untuk memasukkan tindakan pengurangan risiko bencana dalam rencana pembangunan daerah.

Gambar 6. Proses penandatangan dan pengesahan dokumen rencana kontinjensi bencana gempabumi  sumber: disasterchannel.co

Melalui serangkaian pelatihan yang telah dilakukan membuat perwakilan masyarakat Desa Serempah, Desa Bah dan Desa Kute Panang dapat berpikir kritis dan memproyeksikan pengetahuannya ke dalam berbagai bentuk pertanyaan dan usulan. Mereka juga menyampaikan bahwa pelatihan ini sangat bermanfaat dan berharap dapat berlanjut dan berdampak lebih menyeluruh dalam segala level masyarakat.

Gambar 7. Proses  penyerahan fasilitas kesiapsiagaan dari pihak Mandala Multifinance kepada Kepala Desa Serempah, sumber: disasterchannel.co

Di akhir kegiatan, PT Mandala Multifinance Tbk menyerahkan secara simbolis peralatan kesiapsiagaan berupa jalur evakuasi dan tenda pengungsian kepada perwakilan Desa Serempah, Desa Bah dan Desa Kute Panang. Perwakilan Mandala Finance Aceh Tengah berharap pelatihan ini dapat membuat masyarakat lebih tangguh untuk bersama bahu-membahu dalam menghadapi bencana. (LS)