Disasterchannel.co Bersama Skala Indonesia Hadir dan Berbagi Cerita di Rumah Resiliensi Indonesia

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Hari yang amat berharga, sepertinya pantas untuk disandang oleh hari ini, Rabu 25/05/2022. Sebab tepat di sore hari yang indah di Bali Collection, Nusa Dua, disasterchannel.co dan Yayasan Skala Indonesia tampil membawakan pengalaman menariknya berkutat di dunia kebencanaan berbalut cerita interaktif. Perjalanan panjang yang tidak mudah telah beberapa kali dilalui oleh tim, rasanya sudah terbayar dengan menaiki panggung elok yang sederhana namun penuh dengan pesona. Cerita begitu terimajinasi jelas disetiap lantunan kata dari para pembicara yang berjajar tepat di tengah eloknya janur kuning yang menjuntai pada kedua sisi panggung.

Salam semangat mengubah suasana menjadi hangat, kemudian Trinirmalaningrum memulai paparannya. Perempuan yang kerap disapa Rini, menceritakan perjalanan Ekspedisi Palu-Koro sejak sebelum gempa 2018 terjadi hingga pasca bencana. Ia tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa kekhawatirannya tentang kehancuran akibat gempa benar-benar terwujud nyata dalam bencana gempa, tsunami dan likuifaksi di Palu, Donggala, Sigi dan Parigi Moutong (Padagimo).

Beberapa kali gempa besar memang sering menimpa tanah Kaili, yang masih diingat adalah gempa pada tahun 2012 di Kulawi. Gempa-gempa yang terjadi tak kunjung membuat masyarakat maupun pemerintah memperhatikan ancaman tersebut. Sepanjang tahun 2017 sampai pertengahan 2018, ekspedisi Palu-Koro dijalankan. Tepat sebulan sebelum bencana gempa 28 September 2018 terjadi, hasil Ekspedisi Palu-Koro diserahkan pada pemerintah daerah. Namun sayang, tak lama setelahnya bencana yang ditakuti benar-benar terjadi. Rini dan seluruh peserta ekspedisi terpukul dengan kejadian ini. 

Pasca gempa, Rini kembali terlibat dalam penelitian studi pengurangan risiko bencana di Sulawesi Tengah bersama dengan beberapa peneliti, salah satunya Lien Sururoh. Didahului senyum, Lien bercerita bahwa Sulawesi Tengah tak pernah membuatnya habis bercerita. Dalam studi pengurangan risiko bencana di lima desa yang tersebar dari Kabupaten Donggala hingga Sigi, menyatakan bahwa keterlibatan perempuan dan pelestarian pengetahuan lokal menjadi sangat berpengaruh terhadap nilai kerentanan daerah. 

Lien juga menyampaikan beberapa nama tempat atau toponim sebagai wujud pengetahuan lokal masyarakat mengenai ancaman bencana di wilayahnya. Seperti contoh Desa Tompe di Kecamatan Sirenja, Tompe sendiri artinya terhempas, dan benar saja, daerah ini terhempas tsunami pada 2018 silam. Contoh lainnya adalah Kelurahan Balaroa, Kota Palu, daerah ini dulu disebut Tagari Lonjo yang artinya terbenam dalam lumpur. Likuifaksi pun terjadi di daerah sana. sangat disayangkan, pengetahuan lokal mengenai wilayah tidak dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam perencanaan pembangunan.

Yayasan Skala dan juga disasterchannel.co sadar bahwa pengetahuan lokal mengenai bencana perlu didokumentasikan untuk memperkaya literasi kebencanaan. Sejalan dengan hal itu, kami mengajak Sky Volunteer untuk bergabung dalam diskusi kali ini. salah satu founder Sky Volunteer, Septian Firmansyah menjelaskan, di era digitalisasi seperti ini, pendokumentasian pengetahuan lokal mengenai bencana juga harus direproduksi dalam bentuk audio visual untuk kemudahan akses dan pembelajaran bagi generasi mendatang.

Dari semua percakapan sore itu, Santi Ariska sebagai moderator meramu kesimpulan, bahwa beberapa pengetahuan lokal masih sekedar menjadi cerita, padahal sangat efektif untuk dipakai sebagai panduan dalam perspektif pembangunan daerah. Selain itu, pendokumentasian pengetahuan lokal dan ingatan kolektif sangat penting untuk memperkaya literasi bencana. Namun pendokumentasian pengetahuan lokal mengenai bencana harus dilakukan secara holistik dari mulai pra bencana, saat terjadi bencana dan pasca bencana, agar dapat menjadi sebuah pembelajaran yang utuh bagi setiap generasi. (LS)