Catatan Akhir Tahun disasterchannel.co: Indonesia dalam Pandemi

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Hari berganti hari, hingga mulai genap kita semua telah melewati 365 hari pada tahun 2021. Semua hari dilalui dalam masa pandemi yang tak kunjung usai hingga akhir tahun ini. Munculnya pandemi di negeri ini berawal dari pengumumanĀ Presiden Joko Widodo pada tanggal 02 MAret 2020 yang menyatakan ada dua warga Indonesia yang terkonfirmasi positif COVID-19. Kedua pasien tersebut merupakan warga Depok, Jawa Barat. Pengumuman kasus pertama COVID-19 itu disampaikan Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta.

Virus Corona terus menyebar dan banyak menginfeksi banyak orang. Semakin banyak kemungkinan virus mengalami mutasi. Mutasi terjadi ketika virus menempel pada sel inang dan kemudian melakukan fusi ke dalam sel. Selanjutnya materi genetik yang dimiliki olah SARS-CoV2 diterjemahan menjadi protein untuk menghasilkan protein baru yang digunakan untuk membuat anakan baru. Kemudian, ada proses yang bernama replikasi, proses ini terjadi ketika materi genetik virus difotokopi oleh enzim yang dimiliki virus itu sendiri. Ketika memfotokopi ini terjadi kesalahan dan menyebabkan mutasi pada virus SARS-CoV2.

Seiring dengan perkembangannya, virus SARS-CoV2 menghasilkan banyak varian dari hasil mutasinya. Pada akhirnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan perubahan nama pada varian COVID-19. WHO memberikan sebutan baru untuk varian COVID-19 yang menjadi perhatian menggunakan alfabet Yunani, baik karena kebingungan atas nama “sup alfabet” yang saat ini digunakan secara luas dan untuk mencegah varian dirujuk berdasarkan di mana mereka pertama kali ditemukan (yaitu, varian Inggris, Afrika Selatan, atau India), sebuah praktik yang berisiko menimbulkan stigma berbahaya tentang negara tertentu dan yang dapat membingungkan jika lebih dari satu varian kekhawatiran berasal dari satu negara. WHO telah menetapkan varian B.1.617.2 sebagai Delta.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marives) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, 90 persen penularan COVID-19 di DKI Jakarta disebabkan oleh varian Delta. 

“Jadi data yang kami dapat 90 persen (penularan) di Jakarta itu sudah varian delta. Jadi varian delta 90 persen di kota (Jakarta),” ujar Luhut dalam konferensi pers secara daring pada Senin (5/7/2021) malam. 

Pernyataan Luhut semakin diperkuat dengan temuan Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan RI. Hingga Minggu (11/7/2021), Badan Litbangkes Kemenkes RI mencatat, total ada 615 kasus terkonfirmasi positif COVID-19 varian Delta.

Gambar 1. Perkembangan kasus COVID-19 di Indonesia sumber: covid19.go.id

Kasus COVID-19 terus berkembang hingga pada akhirnya mencapai masa yang paling parah dalam sejarah penularannya di Indonesia. Rekor Tertinggi Selama Pandemi Pecah, Kasus COVID-19 RI 15 Juli dengan pertambahan kasus sebanyak 56.757. Varian virus Corona B.1.617.2 atau varian Delta telah mendominasi hampir 100 persen kasus COVID-19 di DKI Jakarta. 

Varian virus Corona Delta atau B.1.617.2 merupakan varian mutasi yang pertama kali terdeteksi di India dan telah menyebar ke lebih dari 60 negara seperti di Inggris dan Indonesia. Varian Delta (B.1.617.2) merupakan turunan dari varian B.1.617 yang pertama muncul di India pada Oktober 2020. Virus ini pula yang kini dipercaya menjadi penyebab gelombang dua pandemi COVID-19 di India.

Virus Corona varian B.1.617.2 yang awalnya ditemukan di India Desember lalu kini telah menjadi salah satu jenis virus Corona yang paling mengkhawatirkan yang beredar secara global. Menurut ahli biologi molekuler Indonesia, Ahmad Utomo, varian Delta memang memilki beberapa mutasi yang mengakibatkan virus memiliki protein yang bisa melekat lebih kuat dari varian sebelumnya. ā€œKarena lebih lekat, maka dampaknya secara biokimia, virus varian Delta lebih efektif menginfeksi manusia,ā€ jelas Ahmad. 

Begitu dinamis perkembangan penyebaran virus Corona di Indonesia, hingga memunculkan banyak sekali kebijakan. Kebijakan yang sempat viral adalah kebijakan pembatasan sosial yang selalu berubah-ubah namanya. Diawali dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang berlaku sejak April hingga Juni 2020. Kebijakan ini merupakan strategi penanganan yang diupayakan pada awal pandemi. Kemudian berganti menjadi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Transisi. Diberlakukan sejak Juni hingga September 2020. Setelah PSBB dianggap berhasil menurunkan lonjakan kasus, justru aturannya diperbaharui dengan PSBB Transisi, aturan yang lebih longgar. Berubah kembali menjadi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Setelah kasus COVID-19 dinilai cukup terkendali, pemerintah kemudian memberlakukan kebijakan PPKM khusus hanya di tujuh provinsi yang ada di Jawa-Bali, sejak 11 Januari 2021 selama dua pekan dan sempat diperpanjang satu kali. Kemudian diberlakukan PPKM Mikro, dilanjutkan dengan PPKM Darurat. Terakhir, Pemerintah kembali membuat kebijakan penanganan yang diterapkan di 48 Kabupaten/Kota dengan asesmen situasi pandemi PPKM level 4 dan 74 Kabupaten/Kota dengan asesmen situasi pandemi level 3 di Pulau Jawa dan Bali. Dan ppkm terus mengalami perubahan bergantung pada situasi di masing-masing daerah.

Selain pembatasan sosial, pemerintah juga melakukan program vaksinasi virus Corona. Program vaksinasi COVID-19 pertama kali dilakukan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 13, Januari 2021. Penyelenggaraan program vaksinasi diawali dengan pemberian dosis pertama pada beberapa golongan prioritas telah menerima vaksin di antaranya tenaga kesehatan, petugas pelayanan publik dan lansia.

Vaksin mengandung bagian yang lemah atau tidak aktif dari organisme tertentu (antigen) yang memicu respons kekebalan di dalam tubuh. Program vaksinasi COVID-19 dilakukan agar terbentuk kekebalan polulasi atau herd immunity yang ternyata masih menjadi mitologi karena sulitnya mewujudkan itu. 

Pada awal pelaksanaannya, program vaksinasi banyak sekali mengundang kontroversi. Berdasarkan beberapa peraturan yang telah ada, sudah jelas bahwa program vaksinasi harus dilakukan secara adil dan mengikuti peraturan yang telah dibuat dan disepakati bersama. Tapi pada kenyataannya di lapangan, terjadi beberapa penyimpangan. Kenyataannya, program vaksinasi belum dijalankan sesuai dengan aturan penerima prioritas, vaksin mandiri membuktikan bahwa adanya ketidak adilan vaksin.

Secara geografis, negara ini adalah negara kepulauan juga menjadi permasalahan pendistribusian vaksin di beberapa daerah. Pemerintah perlu menjemput bola untuk mengurangi ketimpangan program vaksinasi terutama di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau. 

Perlu ada upaya keras bagi pemda untuk meyakinkan masyarakat dalam menjalankan vaksin, bukan karena hanya ingin mendapat sertifikat. Belum lagi banyak beredar tentang hoax yang menyebar di masyarakat juga memperparah keadaan. Komunikasi risiko yang dilakukan pemerintah masih kurang tepat. Keterlibatan aktor lokal untuk berdampingan mengerjakar program vaksinasi pun belum dilakukan secara optimal. Padahal Fungsi relawan sangat besar di daerah. Namun diperlukan pelatihan interaktif kader masyarakat (tokoh masyarakat, agama, aktivis perempuan) tentang Virus Corona dan juga vaksin 

Carut marut masalah program vaksinasi tak lepas dari berbagaimacam persoalan. Program vaksinasi tidak berjalan sesederhana yang diperkirakan. Vaksin yang diperoleh Indonesia butuh diolah terlebih dahulu baru bisa diaplikasikan. Keterbatasan produksi dan pasokan vaksin ini menjadi sebab ketimpangan akses vaksin.

Negeri ini belum mampu untuk mewujudkan kemandirian pada bidang kesehatan, bahkan sangatlah kurang dan disayangkan alokasi riset nyaris tidak ada. Mendorong regulasi pengadaan obat dan vaksin dan segera produksi vaksin dalam negeri perlu segera dilakukan.

Jelang akhir tahun, Varian B.1.1.529 atau disebut Omicron ini muncul berbarengan dengan waktunya liburan, hal ini menambah kekhawatiran. Varian Omicron adalah varian baru dari novel Coronavirus SARS-CoV-2. Varian ini pertama kali dilaporkan ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 24 November. Varian inipertama kali terdeteksi awal bulan itu dalam sampel yang dikumpulkan di Botswana dan Afrika Selatan. Pada 26 November, WHO menamai varian tersebut dan diklasifikasikan sebagai variant of concern atau varian yang menjadi perhatian.

Varian ini diduga menyebabkan kenaikan COVID-19 diberbagai negara. Vaksin diharapkan dapat memberikan perlindungan terhadap varian Omicron. Banyak yang beranggapan bahwa memperoleh vaksin adalah sebuah tingkatan yang besar sehingga tubuh menjadi kebal terhadap virus Corona. Tetapi ada kemungkinan bahwa varian baru dapat menurunkan efektifitas vaksin. Jangan mudah terlena dan lupa bahwasannya virus ini terus berkembang. Kunci penanganan pandemi COVID-19 adalah menghentikan penyebaran pada sumbernya. Tindakan saat ini untuk mengurangi penularan di antaranya sering mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak fisik dan juga tetap melaksanakan 3 T (tes, telusur dan tindak lanjut).(LS)

Sumber:

https://megapolitan.kompas.com/read/2021/03/02/05300081/kilas-balik-kronologi-munculnya-kasus-pertama-COVID-19-di-indonesia?page=all.

https://news.detik.com/berita/d-5644573/rekor-tertinggi-selama-pandemi-pecah-kasus-COVID-19-ri-15-juli-56757

https://megapolitan.kompas.com/read/2021/07/15/13220151/awal-mula-varian-delta-masuk-ke-jakarta-hingga-mendominasi-90-persen?page=all.

https://nasional.tempo.co/read/1486390/gonta-ganti-istilah-penanganan-COVID-19-psbb-hingga-terkini-ppkm-level-4/full&view=ok

diskusi virtual bincang bencana disasterchannel.co