Catatan Akhir Tahun disasterchannel.co: Bencana Hidrometeorologi Sepanjang Tahun 2021

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Dinginnya pagi di bulan Desember menyertai dibentuknya catatan akhir tahun ini. Bulan terakhir di tahun 2021, Indonesia masih banyak dilanda bencana. Kali ini disasterchannel.co ingin menyoroti bencana hidrometeorologi. 

Ditemani dengan secangkir susu coklat panas, penulis membaca berita mengenai bencana hidrometeorologi yang dampak dan kerugiannya begitu merajalela dimana-mana. Dilansir dari kompas.tv, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengatakan, angka kejadian bencana menurun, namun memberikan dampak signifikan.

“Artinya semakin tahun, dampak terjadinya bencana, baik menimpa atau berdampak pada jiwa manusia, semakin signifikan,” jelasnya dalam Taklimat PMK, Rabu (29/12/2021), dilansir dari Antara.

Kejadian bencana tahun 2021, jika dibandingkan tahun 2020 turun sebanyak 34 persen. Sejak Bulan Januari hingga 28 Desember 2021 sudah terjadi sebanyak 3.058 kejadian bencana. Adapun jumlah korban meninggal dunia akibat bencana meningkat 76,1 persen, luka-luka naik sebanyak 2.180 persen. Sedangkan yang terdampak dan mengungsi, naik sebanyak 24,1 persen, juga rumah rusak naik sebanyak 115,9 persen.

Suharyanto mengungkap, kejadian bencana paling dominan adalah banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, dan gelombang pasang yang menyumbang 89,7 persen atau 2.072 kejadian bencana. Daerah paling banyak kejadian bencana di antaranya Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Aceh, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Tengah.

Gambar 1. Infografis Bencana di Indonesia, Sumber: BNPB

Kawan, sebagian dari kalian pasti sudah mengetahui bahwa perubahan iklim itu bisa menyebabkan banyak becana hidrometeorologi. 

Mari kita ingat kembali, apa itu bencana hidrometeorologi. Bencana hidrometeorologi merupakan bencana yang dipengaruhi oleh faktor iklim (curah hujan). Penyebab utama dari semua bencana hidrometeorologi adalah air dan angin. Curah hujan, dalam banyak hal dan berbagai bentuk di hulu menyebabkan banjir bila terlalu tinggi, serta kekeringan bila terlalu rendah. Tanah longsor dan aliran puing-puing dipicu oleh curah hujan. Sistem angin yang disebabkan oleh pemanasan diferensial antara khatulistiwa dan kutub menyebabkan berbagai bentuk siklon yang memiliki kekuatan destruktif yang tak terkendali. Belum lagi gelombang panas dan gelombang dingin, semua ini disebabkan oleh cuaca abnormal serta banyak dikaitkan dengan perubahan iklim. 

Berbicara mengenai perubahan iklim, maka kita akan teringat penyelenggaraan COP 26. Conference of the Parties atau biasa disebut COP 26, adalah pertemuan PBB terkait Perubahan Iklim yang sudah berlangsung 26 kali. Pertemuannya yang ke 26 berlangsung pada 31 Oktober hingga 12 November, namun waktu penyelenggaraan menjadi berlebih hingga 13/11/2021 karena kesepakatan tak kunjung didapat. 

Kecewa adalah kata yang tepat untuk menggambarkan lunturnya seluruh ekspektasi para aktivis lingkungan terhadap keputusan penanganan perubahan iklim. Dilema keputusan penanganan perubahan iklim tercermin dalam keputusan COP 26. Banyak pihak yang kecewa, sebab tidak mudah mencapai kesepakatan untuk menghentikan pemakaian energi batubara. Banyak diperdebatkan untuk menghapus subsidi batubara dan mengakhiri subsidi bahan bakar fosil diubah pada saat-saat terakhir, atas desakan India. Ini menawarkan formulasi baru tentang “penurunan bertahap” batubara.

Pakta Iklim Glasgow adalah kesepakatan iklim pertama yang secara eksplisit berencana untuk mengurangi batubara, bahan bakar fosil terburuk untuk gas rumah kaca.

Kesepakatan itu juga mendesak pengurangan emisi yang lebih mendesak dan menjanjikan lebih banyak uang untuk negara-negara berkembang untuk membantu mereka beradaptasi dengan dampak iklim. Tapi janji itu tidak cukup jauh untuk membatasi kenaikan suhu hingga 1,5 derajat Celcius.

Sebagai bagian dari perjanjian, negara-negara akan bertemu tahun depan untuk menjanjikan pengurangan karbon besar-besaran lebih lanjut dengan tujuan mencapai tujuan 1,5 °C. Janji saat ini, jika dipenuhi, hanya akan membatasi pemanasan global hingga sekitar 2,4 °C.

Jika suhu global naik lebih dari 1,5°C, para ilmuwan mengatakan Bumi kemungkinan akan mengalami efek parah seperti jutaan orang terkena panas ekstrem.

Batubara bertanggung jawab atas sekitar 40% emisi CO2 tahunan, menjadikannya pusat dalam upaya untuk mempertahankan target 1,5 derajat C. Untuk memenuhi tujuan ini, yang disepakati di Paris pada tahun 2015, emisi global perlu dikurangi sebesar 45% pada tahun 2030 dan menjadi hampir nol pada pertengahan abad.

Pada hari kedua pelaksanaan COP26, Sekjen PBB Antonio Guterres dengan tajam mengatakan kepada 120 pemimpin yang datang ke Glasgow. “Kami dengan cepat mendekati titik kritis yang akan memicu meningkatnya putaran umpan balik dari pemanasan global.”

Pemberitahuan aksi iklim baru-baru ini mungkin memberi kesan bahwa kita berada di jalur untuk membalikkan keadaan, katanya, tetapi “ini adalah ilusi” dalam pidatonya.

Antonio Guterres dengan blak-blakan menyebutnya sebagai bencana iklim, yang sudah dirasakan hingga tingkat yang mematikan di bagian paling rentan di dunia. Jutaan orang sudah mengungsi bahkan terbunuh oleh bencana yang diperburuk oleh perubahan iklim. 

Bagi Guterres, dan ratusan ilmuwan di Panel antar pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), ambang batas 1,5 derajat Celsius adalah satu-satunya jalan untuk mencegah kerusakan lebih parah di muka bumi.

Bagaimana dengan penanganan perubahan iklim di Indonesia?

Jawaban dari pertanyaan di atas seolah datang saat diskusi virtual bincang bencana disasterchannel.co pada 27 November 2021.

Dalam diskusi, Dewan Pakar Perempuan AMAN, Arimbi Heroepoetri mengatakan “Baru menjelang COP 26 menjadi gerakan massive untuk menanam kembali mangrove sampai presiden turun sambil hujan hujannan, memang itu bagus buat gimmick”. 

Selanjutnya Arimbi mengatakan bahwa inisiasi penanaman mangrove ini memang bagus, namun apakah setelah COP 26 gerakan massive menanam mangrove akan terus berlangsung? Itu menjadi pertanyaan yang peluang besar jawabannya adalah tidak.

“Level kita dalam melakukan perlindungan lingkungan itu masih level gimmick. Orang-orang sudah mau mati tapi kita sibuk ceremony” ungkap Bimbi. 

Kata “gimmick” seolah membuat seluruh peserta diskusi membeku. Kemudian kata itu membawa pada anggapan, begitu bercanda sekali penanganan perubahan iklim di negeri zambrut khatulistiwa ini. 

Dan, perlu kita mengakui bahwa penanggulangan bencana di Indonesia masih sangat jauh dari kata baik. Itu tercermin dalam paparan Kisworo Dwi Cahyo, Direktur Eksekutif Walhi Kalimantan Selatan. 

Pria yang kerap disapa Cak Kis menekankan setiap kata-kata yang terlontar dari mulutnya kala itu.

“Di UU bencana sudah jelas, yang berisiko menimbulkan bencana pun harus ditetapkan diinventarisir dan lainnya. Jujur saja, kita banyak merespon saat kejadian bencana” ungkap Cak Kis.

Menurutnya, Kalimantan Selatan sedang dalam posisi darurat ruang dan darurat bencana ekologis. Cak Kis berpendapat bahwa tata kelola lingkungan menjadi faktor pemicu persoalan banjir yang melada wilayah ini pada januari lalu. Hampir 50% wilayah Kalimantan Selatan sudah dibebani izin tambang dan perkebunan sawit. Sedangkan dua sektor ini pasti akan melakukan perubahan tutupan hutan dan lahan. 

Cak Kis menjalaskan bahwa banjir terjadi karena ketidakmampuan kita mengelola air. Air akan mengalir dari atas ke bawah. Wilayah Kalimantan Selatan memiliki atap Pegunungan Meratus. Bila hujan terjadi maka air turun ke bawah melalui sungai-sungai yang ada di wilayah ini. Kenyataannya sungai tidak mampu lagi menampungnya, daya tampung daya dukung lingkungan sudah rusak. Air kembali mengalir mencari rumahnya hingga ke ekosistem rawa gambut, namun telah menjadi perkebunan monokultur skala besar yang didominasi oleh kepala sawit. Air terus mengalir mencari rumah hingga ke hilir yaitu muara Sungai Barito dan Martapura yang terletak di Kota Banjarmasin, sementara kota ini berada di bawah permukaan laut. 

Potret kejadian bencana di Kalimantan Selatan, diperkiraan tak berbeda jauh dengan yang terjadi di wilayah Pulau Kalimantan atau bahkan daerah lain di Indonesia. Tata kelola lahan, ketidak seriusan menangani perubahan iklim hanya mendatangkan bencana. Mau sampai kapan kita hanya melakukan gimmick belaka untuk dunia yang hanya satu keberadaannya di alam semesta. (LS)

Photo: kompas.com