Bencana yang Tak Kunjung Berhenti Selama 15 Tahun, Semburan Lumpur Sidoarjo

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- 15 tahun itu saat dimana kita mengalami masa hidup yang lagi indah-indahnya dan asik-asiknya. Saat dimana baru lulus SMP dan menginjakkan kaki di SMA. Darah muda yang luar biasa segarnya masih mengalir deras membuat kita selalu bersemangat mencoba berbagai macam hal baru, semangat inilah yang membuat hidup serasa menyenangkan

15 tahun itu bukanlah waktu yang sebentar, ketika dalam hidup kita saat mencapai usia 15 tahun begitu merasa bahagia. Sebaliknya terjadi pada warga daerah Sidoarjo yang sudah mengalami bencana selama 15 tahun tanpa penanganan yang jelas. Bencana yang dialaminya telah melenyapkan tempat tinggal dan mematahkan semangat.

Tiga hari pasca gempa Yogyakarta, tepatnya pada 29 Mei 2006 wilayah Sidoarjo dikejutkan dengan lubang pengeboran yang tak henti-hentinya menyemburkan lumpur. Lubang pengeboran gas tersebut merupakan milik PT. Lapindo Brantas., Inc. di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Danau lumpur Lapindo yang dulunya adalah pemukiman warga, sumber: Mongabay Indonesia

Besarnya jumlah lumpur yang dimuntahkan telah menenggelamkan sebagian kawasan Porong. Berdasarkan data yang dirilis Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) (2013) fakta di lapangan menunjukkan bahwa semburan lumpur secara bertahap telah menggenangi 12 desa yang terletak di 3 kecamatan yaitu Porong, Tanggulangin, dan Jabon. Semburan lumpur dalam kurun waktu tujuh tahun telah menggenangi kawasan seluas 601 ha, dengan perincian 10.641 KK (kurang lebih 39.700 jiwa) harus kehilangan tempat tinggal, 11.241 bangunan dan 362 ha sawah tenggelam. Lumpur juga memutus ruas jalan tol Porong-Gempol, yang merupakan jalur utama transportasi yang menghubungkan Surabaya dengan kota Sidoarjo, Malang, dan Pasuruan.

Penutupan jalan tol Porong-Gempol ini selama beberapa tahun telah mengakibatkan kemacetan yang luar biasa di jalan raya Porong. Jarak tempuh Surabaya-Malang sebelum munculnya semburan lumpur dapat ditempuh dalam waktu 90 menit. Pasca terjadinya semburan waktu yang dibutuhkan lebih lama yaitu lebih dari 2 jam, bahkan hingga mencapai 6 jam pada kondisi tertentu. Kondisi demikian tentunya menganggu mobilitas manusia maupun barang yang melintasi kawasan tersebut.

Semburan lumpur panas Lapindo merupakan bencana besar di Indonesia utamanya di Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Sidoarjo, Kecamatan Porong, yang sampai saat ini bencana itu masih ada dan semakin bertambah parah yang berdampak terhadap semua makhluk hidup sampai merambat ke semua aspek kehidupan manusia utamanya kehidupan masyarakat korban lumpur Lapindo. 

Pemicu semburan lumpur masih diperdebatkan. Terdapat dua hipotesis pemicu semburan lumpur panas yang dirilis oleh Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo 2013 (BPLS), yaitu hipotesis underground blow out dari sumur eksplorasi Banjarpanji 1 dan hipotesis remobilisasi zona bertekanan tinggi (overpressured zone) melalui bidang sesar Watukosek berarah timur laut-barat daya yang tereaktifikasi oleh kenaikan aktivitas tektonik dan gempa. Jadi pendapat yang pertama, pemicunya akibat kecelakaan teknologi yang dilakukan oleh perusahaan pengeboran minyak Lapindo Brantas. Kedua, bencana ini dipicu oleh peristiwa alam di tempat lain, yaitu adanya gempa di Yogyakarta

Kontroversi penyebab semburan lumpur tersebut berimbas pada penamaan yang dilekatkan pada bencana tersebut. Terlepas dari kontroversi penyebab terjadinya bencana semburan lumpur, warga yang menjadi korban lumpur secara langsunglah yang paling menanggung derita. 

Bencana ekologis selayaknya semburan lumpur Lapindo selalu memiliki banyak sekali problematika dengan penyelesaian yang sangat lama. Sudah kehilangan aset berupa tempat tinggal, tempat kerja dan lahan pertanian, warga juga menderita dari aspek psikologis dan sosial yang menurunkan secara drastis kualitas hidup mereka. Bencana ekologis yang merambah menjadi bencana sosial ini bahkan menghilangkan simbol-simbol budaya fisik yang melekat pada lingkungan mereka, kekerabatan, kebiasaan-kebiasaan dan berbagai bentuk modal sosial lainnya yang telah ada. 

Berbagai macam konflik terjadi, salah satunya konflik sosial. Konflik sosial lumpur Lapindo yang berkepanjangan tidak bisa hanya dilihat sebagai akibat dari faktor tunggal berupa semburan lumpur. Konflik sosial yang terjadi disebabkan oleh banyak faktor.  Inti masalah pada kasus ini terletak pada penanganan bencana yang tidak cepat dan tepat di dalam setting masyarakat yang struktur sosialnya lemah. Upaya resolusi konflik sebagai proses terbuka dan dialogis menjadi keniscayaan, meski kenyataannya dominasi elit telah menutup ruang dialogis. Berbagai upaya yang dilakukan oleh korban maupun pihak ketiga yang menaruh simpati pada penyelesaian kasus ini, sepertinya harus terhenti oleh dinding dominasi kekuasaan elit.

Hingga tahun ini, pihak anak usaha Lapindo Brantas Inc, PT Minarak Lapindo. Dari hasil audit BPK tahun 2019, total utang Lapindo Brantas dan Minarak kepada pemerintah mencapai Rp 1,91 triliun. Belum lagi masalah lingkungan yang ditimbulkan dari semburan lumpur menyumbang gas metan yang ikut andil dalam pemanasan global. Sederet masalah tidak selesai dalam kurun waktu 15 tahun yang membuat para pentintas seperti diberikan beban yang bertambah-tambah dari hari ke harinya. (LS)

Sumber:

Farida, A. (2013). Jalan Panjang Penyelesaian Konflik Kasus Lumpur Lapindo. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik17(2), 144-162.

Kusumo, B. W. (2020). Kehidupan masyarakat korban Lumpur Lapindo selama 14 Tahun (2006-2020) di Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo: tinjauan teori Agil Talcot Parson (Doctoral dissertation, UIN Sunan Ampel Surabaya).

https://www.liputan6.com/bisnis/read/4549399/soal-utang-Lapindo-rp-191-triliun-ini-kata-pemerintah