Belajar dari Bencana yang Berdekatan: Erupsi Gunung Merapi dan Gempa Yogyakarta 2006

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Pada 14 sampai 15 Juni 2006 amukan gumpalan dari gunung Merapi di daerah Yogyakarta mencapai ketinggian 900 meter di atas puncak. Akibat dari fenomena alam tersebut setidaknya kota Yogyakarta dan sekitarnya tertutup oleh abu vulkanik. Lalu pada tanggal 15 Juni aliran Piroklastik mengaliri Sungai Gendol. Ditambah lagi terdapat dua korban yang merupakan relawan yang sedang melakukan evakuasi terhadap warga.

Sebelumnya pada 28 Mei 2006, Yogyakarta juga mengalami bencana yang hebat berupa gempa bumi. Maka sebenarnya pada tahun 2006 merupakan tahun duka bagi masyarakat. Yogyakarta dan juga masyarakat Indonesia dikarenakan dua bencana tersebut berdatangan serta memakan kerugian material maupun non material di tahun yang sama.

Dari erupsi Gunung Merapi serta gempa Yogyakarta ditahun yang sama serta mempunyai jarak bulan yang berdekatan, menunjukan bahwasannya Indonesia merupakan daerah yang sangat rawan akan bencana. Bayangkan di tahun yang sama Indonesia harus mengalami bencana yang sangat merugikan.

Hal ini tentunya menunjukan bahwasannya memang benar Indonesia merupakan daerah yang rawan bencana. Selain itu letak geografi Indonesia secara teori memanglah daerah ring of fire yang sarat akan terjadinya fenomena alam yang bisa mempengaruhi kehidupan masyarakat. 

Dengan melihat kejadian dua bencana di wilayah Yogyakarta yang memiliki waktu berdekatan, tentunya terdapat tiga poin pelajar yang bisa kita ambil.

Poin pertama adalah teori Indonesia sebagai daerah yang rawan bencana bukanlah isapan jempol belaka, dan kejadian di daerah Yogyakarta adalah buktinya. Maka dari itu setiap masyarakat Indonesia tentunya harus mempelajari potensi bencana yang ada di daerahnya. Karena hal tersebut akan mempengaruhi minat masyarakat untuk menaikan kapasitasnya.

Point kedua, perlunya adanya peningkatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan di desa maupun di kota. Hal ini tentunya bertujuan untuk menaikan kapasitas masyarakat yang hidup di daerah ancaman bencana yang tinggi secara intensif, dengan cara memberi pengetahuan dan juga pelatihan menghadapi bencana. Selain itu, pembuatan rencana kontinjensi bencana untuk kejadian bencana juga perlu dilakukan oleh pemerintah maupun NGO.

Poin yang terakhir yaitu pemerintah khususnya kementerian pendidikan, haruslah membuat kurikulum kebencanaan untuk para siswa. Hal ini sangatlah penting dikarenakan penaikan kapasitas masyarakat melalui pendidikan merupakan hal yang sangat efektif untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai ancaman bencana yang ada di sekitarnya.

Penulis: Abdurrahman Heriza

Editor: Lien Sururoh

Photo: rbtv.disway.id

Sumber:

 “Global Volcanism Program | Report on Merapi (Indonesia) — 14 June-20 June 2006,” accessed June 27, 2023, https://volcano.si.edu/ShowReport.cfm?doi=10.5479/si.GVP.WVAR20060614-263250.

 Jauh Hari Wawan S, “Sulitnya Evakuasi Korban Erupsi Merapi di Bunker: Suhu 300 Derajat-Sepatu Leleh,” detikjateng, accessed June 27, 2023, https://www.detik.com/jateng/jogja/d-6620596/sulitnya-evakuasi-korban-erupsi-merapi-di-bunker-suhu-300-derajat-sepatu-leleh.

 Kompas Cyber Media, “Hari Ini dalam Sejarah: Mengenang 16 Tahun Gempa Yogyakarta 27 Mei 2006 Halaman all,” KOMPAS.com, May 27, 2022, https://www.kompas.com/tren/read/2022/05/27/073358965/hari-ini-dalam-sejarah-mengenang-16-tahun-gempa-yogyakarta-27-mei-2006.