Alasan Kenapa Penyebaran Varian Delta Terus Melambung Tinggi

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Imajinasi yang ada di otak kita selama ini seolah menjadi nyata ketika sesuatu yang mengalami mutasi mendadak menjadi sakti. Seperti film Hulk, karena mengalami mutasi jadi memiliki badan hijau yang besar dan kuat, atau menjadi Spiderman yang tiba tiba punya jaring laba-laba serba guna. 

Bila melihat pemberitaan yang ada, mutasi virus Corona juga lama-lama semakin sakti saja.  Varian Delta menjadi varian mutasi yang paling populer karena kesaktiannya.  Beberapa mutasi memungkinkan virus meningkatkan kemampuannya untuk menginfeksi sel. “Varian Delta memiliki mutasi pada protein spike yang mengubah cara berinteraksi dengan protein reseptor ACE2, yang ditemukan di permukaan paru-paru dan sel manusia lainnya dan merupakan portal untuk menyerang sel. Mutasi di lokasi protein spike tampaknya membuat virus lebih mudah menular dan membantunya menyebar ke seluruh populasi,” jelas ahli imunologi di Emory Vaccine Center Mehul Suthar.

Gambar 1. Ilustrasi protein spike virus (yang berwarna merah) mengikat reseptor pada sel manusia (yang berwarna biru). Angka-angka dalam ilustrasi ini menunjukkan tempat mutasi utama varian Delta dari virus Corona, kemungkinan merupakan varian yang paling menular. Sumber: Juan Gaertner/Sumber Sains (www.npr.org)

Sejak pertama kali diidentifikasi di India pada bulan Maret 2020, varian Delta dari SARS-CoV-2 telah menjadi strain yang dominan di sebagian besar dunia. Varian ini telah menyebar ke lebih dari 90 negara dan juga merupakan varian paling dominan di India, Inggris, Rusia, Israel, Singapura, dan negara lainnya.

Salah satu kesaktian dari varian Delta dapat lebih menular dari pada strain asli SARS-CoV-2. Ahli epidemiologi Jing Lu di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Provinsi Guangdong di Guangzhou, Cina, dan rekan-rekannya melacak 62 orang yang dikarantina setelah terpapar COVID-19 dan beberapa orang pertama di daratan Cina yang terinfeksi dengan strain Delta.

Dalam pracetak yang diposting pada 12 Juli, para peneliti melaporkan bahwa virus pertama kali terdeteksi pada orang dengan infeksi varian Delta setelah terpapar empat hari, dibandingkan dengan rata-rata enam hari pada orang dengan infeksi varian asli Wuhan. Ini menunjukkan bahwa varian Delta bereplikasi jauh lebih cepat. Orang yang terinfeksi varian Delta juga memiliki ’viral load’ hingga 1.260 kali lebih tinggi daripada orang yang terinfeksi dengan jenis aslinya. ‘Viral load‘ adalah ukuran kepadatan partikel virus dalam tubuh. Para peneliti kemudian membandingkan pola infeksi peserta yang diteliti dengan 63 orang yang tertular virus SARS-CoV-2 asli Wuhan pada tahun 2020.

Ahli epidemiologi Benjamin Cowling di University of Hong Kong menyatakan, banyaknya virus di saluran pernapasan berarti bahwa peristiwa ‘superspreading’ (penyebaran super) cenderung menginfeksi lebih banyak orang dan orang-orang mungkin mulai menyebarkan virus lebih awal setelah mereka terinfeksi.

Ditambah lagi, masa inkubasi yang singkat membuat pelacakan kontak lebih sulit di negara-negara seperti China, yang secara sistematis melacak kontak setiap orang yang terinfeksi dan mengharuskan mereka untuk dikarantina. “Menggabungkan semuanya, varian Delta sangat sulit dihentikan,” ujar Cowling.

Varian Delta 60% lebih mudah menular daripada varian Alpha (pertama kali diidentifikasi di Inggris) yang pada gilirannya sekitar 50% lebih mudah menular daripada strain Wuhan. Eric Topol, pendiri dan direktur Scripps Research Translational Institute di California menjelaskan bahwa varian Delta memiliki fitur yang memungkinkannya untuk menghindari beberapa pertahanan sistem kekebalan tubuh. Kombinasi antara tingkat penularannya yang tinggi dan dapat menghindari dari pertahanan sistem kekebalan tubuh adalah kombinasi yang berdampak buruk bagi kita. 

Kabar lain datang dari Amerika Serikat, data menunjukkan bahwa dosis lengkap vaksin COVID-19 masih efektif mencegah penyakit serius akibat infeksi varian Delta. Sebuah studi yang diterbitkan di New England Journal of Medicine menunjukkan bahwa vaksin mRNA Moderna dan Pfizer-BioNTech kemungkinan akan melindungi terhadap Delta, meskipun tidak sebaik yang mereka lakukan dengan varian sebelumnya. Sebuah studi terpisah memperkirakan bahwa dua dosis vaksin AstraZeneca atau Pfizer masing-masing akan efektif 60% dan 88%, terhadap penyakit simtomatik yang disebabkan oleh varian Delta. 

Bila melihat data program vaksinasi yang ada di Indonesia, update 28/07/2021, dari target penerima vaksin, yang telah mendapatkan dosis pertama sebanyak 22,11% sedangkan dosis vaksin kedua sebanyak 9,29%. Capaian terendah ada pada kelompok rentan lansia, vaksin dosis pertama hanya mencapai 22,32% sedangkan dosis kedua sebanyak 14,48%. Padahal kelompok lansia rentan terkena dampak serius dari infeksi virus ini. 

Semakin banyak varian ini menyebar, maka akan semakin banyak virus bermutasi. Hal ini mungkin dapat membuat vaksin menjadi kurang efektif. Vaksin saja hanya memperlambat perkembangan penyakit menular dengan meningkatkan kekebalan kelompok. Vaksin saja tidak cukup, langkah-langkah pencegahan seperti menjaga jarak dan memakai masker menjadi strategi yang terbukti untuk menahan penyebaran virus. (LS)

Sumber:

doi: https://doi.org/10.1038/d41586-021-01986-w

https://www.nationalgeographic.com/science/article/the-delta-variant-is-serious-heres-why-its-on-the-rise

https://www.npr.org/sections/goatsandsoda/2021/07/08/1013794996/why-the-delta-variant-is-so-contagious-a-new-study-sheds-light