41 Tahun Yang Lalu Gunung St. Helens Erupsi, Letusan Ini Menjadi Era Baru Pemantauan Vulkanik

PUBLISHED

Disasterchannel.co,- Dulu, penelitian itu amat sangat sulit dan berbahaya. Seperti halnya Merie Curie yang meneliti unsur-unsur radioaktif, ia harus terpapar radiasi dari unsur radioaktif yang ia teliti hingga kesehatannya terganggu. Begitu pula penelitian mengenai gunung api yang harus berada dalam situasi bahaya untuk mengamati setiap aktivitas gunung berapi. Dahulu para ilmuan di bidang vulkanologi untuk mengamati gunung harus ada di tempat yang dekat dengan gunung tersebut di setiap saat tak terkecuali saat gunung mengalami erupsi. Namun era sekarang, penelitian semakin berkembang dan terus maju dengan titik tolak pada saat Gunung St. Helens erupsi di tanggal 18 Mei tahun 1980. 

Penduduk Amerika menyebut letusan St. Helens sebagai Louwala-Clough, atau “Smoking Mountain“. Gunung berapi tersebut telah meletus secara berkala selama 4.500 tahun terakhir, dan periode aktif terakhir adalah antara tahun 1831 dan 1857. Pada tanggal 20 Maret 1980, aktivitas vulkanik yang nyata dimulai lagi dengan serangkaian gempabumi yang berpusat di tanah tepat di bawah sisi pantai utara gunung. Gempabumi ini meningkat, dan pada 27 Maret terjadi letusan kecil, dan Gunung St. Helens mulai mengeluarkan uap dan abu melalui kawah dan ventilasi.

Pada pagi hari tanggal 18 Mei, Gunung St. Helens diguncang gempa bumi berkekuatan 5,0 SR, dan seluruh sisi utara puncak mulai meluncur menuruni gunung. Longsor batu dan es raksasa, salah satu yang terbesar yang tercatat dalam sejarah, diikuti dan disusul oleh ledakan uap dan gas vulkanik yang sangat besar, yang melonjak ke utara di sepanjang tanah dengan kecepatan tinggi. Ledakan lateral menghancurkan pepohonan dari sebagian besar lereng bukit dalam jarak enam mil dari gunung berapi dan meratakan hampir semua vegetasi sejauh 12 mil. Sekitar 10 juta pohon tumbang akibat ledakan tersebut.

Ledakan berkecepatan tinggi meratakan jutaan pohon dan merobek tanah dari batuan dasar. Letusan tersebut menimbulkan gumpalan abu yang menjulang tinggi selama lebih dari sembilan jam, dan angin membawa abu itu ratusan mil jauhnya. Lahar (semburan lumpur vulkanik) membawa batu-batu besar dan kayu gelondongan, yang menghancurkan hutan, jembatan, jalan, dan bangunan. Peristiwa bencana ini menyebabkan 57 kematian, termasuk kematian David Johnston, seorang ilmuwan USGS yang berdedikasi dan menyebabkan bencana vulkanik terburuk dalam catatan sejarah Amerika Serikat.Letusan tahun 1980 adalah letusan eksplosif besar pertama yang dipelajari oleh para ilmuwan dan pengamat menggunakan vulkanologi modern. Gunung berapi itu juga mudah dilihat dan diakses. Akibatnya, letusan dan efeknya banyak difoto dari berbagai sudut pandang. Longsoran puing membuka kerucut, dan para ilmuwan dapat memeriksa bagian dalamnya dengan cara yang baru. Letusan ini meningkatkan minat dalam studi tentang letusan eksplosif dan upaya pemantauan untuk meningkatkan sistem peringatan yang membantu mengurangi bahaya. Letusan tersebut menggarisbawahi pentingnya menggunakan alat pemantauan sebanyak mungkin untuk melacak aktivitas kerusuhan dan letusan.

Erupsi Gunung St. Helens  pada 18 Mei 1980. (Credit: Krimmel, Robert. Public domain.), Sumber:www.usgs.gov

Letusan tersebut juga menyebabkan era baru dalam pemantauan vulkanik. Selama studi di Gunung St. Helens, para ilmuwan menyempurnakan interpretasi mereka terhadap data pemantauan untuk memperkirakan letusan di masa depan dengan lebih baik. Gempa bumi, deformasi tanah, dan pengukuran gas mendapat arti baru karena gunung berapi menunjukkan bahwa pola perubahan dapat membantu para ilmuwan memperkirakan letusan bangunan kubah lava. Para ilmuwan sekarang menggunakan pola perubahan yang serupa untuk meramalkan aktivitas masa depan di gunung berapi di seluruh dunia.

Sejak letusan Gunung St. Helens, pemantauan gunung berapi telah berevolusi dari menempatkan beberapa instrumen ilmiah di sisi gunung berapi menjadi jaringan perangkat pemantauan yang terintegrasi lebih luas yang mengukur gempa bumi, deformasi, dan gas vulkanik, dan dapat mendeteksi letusan atau perubahan di permukaan bumi dari luar angkasa. Evolusi alat seperti fotogrametri, Geographic Information Systems (GIS) dan Light Detection and Ranging (LIDAR) memungkinkan para ilmuwan untuk membuat pengukuran dan ilustrasi yang tepat dari perubahan permukaan bumi, termasuk inflasi dan deflasi di gunung berapi. 

Longsoran puing-puing yang disebabkan oleh letusan tahun 1980 adalah longsoran puing-puing besar ketiga yang diketahui terjadi di sana dalam 20.000 tahun terakhir. Letusan eksplosif 18 Mei 1980, menggambarkan pentingnya mengembangkan alat baru untuk mengukur deformasi tanah di gunung berapi yang eksplosif. Pada tahun 1982, Kongres membuat Gunung St. Helens menjadi kawasan penelitian yang dilindungi.

Aktivitas Gunung St. Helens tidak berhenti sampai erupsi tahun 1980, gunung ini aktif kembali pada tahun 2004. Pada tanggal 8 Maret 2005, segumpal uap dan abu setinggi 36.000 kaki dikeluarkan dari gunung, disertai dengan gempa bumi kecil. Meskipun kubah baru telah tumbuh di dekat puncak dan gempabumi kecil sering terjadi, para ilmuwan tidak mengharapkan terulangnya bencana tahun 1980 dalam waktu dekat.

Kemajuan penelitian terus dilakukan seiring dengan perkembangan teknologi. Semua dikembangkan untuk mengurangi risiko terpaparnya manusia oleh bahaya yang disebabkan oleh letusan gunung berapi dan memperkecil dampak kerugian di sekitarnya. (LS)

Sumber:
https://www.usgs.gov/news/mount-st-helens-1980-eruption-changed-future-volcanology

https://www.history.com/this-day-in-history/mount-st-helens-erupts-2