Program Vaksin COVID-19 Sudah Dimulai, Bagaimana Sih Cara Kerjanya?

Disasterchannel.co. Jakarta – Puluhan purnama sudah berganti semenjak virus corona merebak di negeri ini. Akhirnya yang dinanti terjadi, program vaksin COVID-19 telah dimulai dari kemarin. Tahukah sobat, kemarin presiden Joko Widodo menjadi orang pertama yang disuntik vaksin COVID-19. Dilansir dari CNN Indonesia Penyuntikan vaksin dilakukan di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta. Penyuntikan perdana terhadap Jokowi dengan vaksin Covid – 19 CoronaVac buatan perusahaan asal China, Sinovac ini menandai program vaksinasi di Indonesia.

Pada program vaksinasi COVID-19 tahap pertama terdapat daftar prioritas penerima vaksin, di antaranya adalah tenaga kesehatan, asisten tenaga kesehatan, tenaga penunjang yang bekerja pada fasilitas pelayanan kesehatan, TNI/Polri, aparat hukum, dan petugas pelayanan publik lain. Pemerintah Indonesia juga menargetkan bahwa setidaknya 70% atau sekitar 182 juta jiwa penduduk Indonesia harus diberikan vaksin. Hal ini dilakukan agar terbentuk kekebalan polulasi atau herd immunity.

Vaksin mengandung bagian yang lemah atau tidak aktif dari organisme tertentu (antigen) yang memicu respons kekebalan di dalam tubuh. Ketika seseorang divaksinasi, mereka sangat mungkin terlindungi dari penyakit yang ditargetkan.

 Tetapi tidak semua orang dapat divaksinasi, ada orang-orang dengan kondisi kesehatan yang melemahkan sistem kekebalan mereka (seperti kanker atau HIV) atau yang memiliki alergi parah terhadap beberapa komponen vaksin mungkin tidak dapat divaksinasi dengan vaksin tertentu. Orang-orang ini masih dapat dilindungi jika mereka tinggal di dan di antara orang lain yang divaksinasi. Ketika banyak orang dalam komunitas yang divaksinasi, patogen sulit beredar karena kebanyakan orang yang ditemuinya kebal. Jadi, semakin banyak orang lain divaksinasi, semakin kecil kemungkinan orang yang tidak dapat dilindungi oleh vaksin berisiko bahkan terpapar patogen berbahaya. Ini disebut kekebalan populasi atau herd immunity. Vaksinasi tidak hanya melindungi diri Anda sendiri, tetapi juga melindungi masyarakat yang tidak dapat divaksinasi.

Pemerintah Indonesia telah memilih vaksin Sinovac untuk program vaksinasi yang dilakukan. Bagaimanakah vaksin Sinovac bekerja?, berikut ulasannya:

Dilansir dari nytimes.com CoronaVac bekerja dengan mengajarkan sistem kekebalan untuk membuat antibodi melawan virus corona SARS-CoV-2. Antibodi menempel pada protein virus, seperti yang disebut protein spike yang menempel di permukaannya.

Untuk membuat CoronaVac, para peneliti Sinovac memulai dengan mengambil sampel virus corona dari pasien di China, Inggris, Italia, Spanyol, dan Swiss. Satu sampel dari China akhirnya menjadi dasar pembuatan vaksin.

Para peneliti menumbuhkan stok besar virus corona di sel ginjal monyet. Kemudian mereka memasukkan virus dengan bahan kimia yang disebut beta-propiolakton. Senyawa tersebut menonaktifkan virus corona dengan berikatan pada gennya. Virus korona yang inaktif tidak bisa lagi bereplikasi. Tetapi protein mereka, termasuk spike, tetap utuh.

Para peneliti kemudian menarik virus yang inaktif dan mencampurkannya dengan sedikit senyawa berbasis aluminium yang disebut adjuvan. Adjuvan merangsang sistem kekebalan untuk meningkatkan responsnya terhadap vaksin.

Karena virus Corona di CoronaVac sudah mati, mereka bisa disuntikkan ke lengan tanpa menyebabkan Covid-19. Begitu masuk ke dalam tubuh, beberapa virus yang inaktif ditelan oleh sejenis sel kekebalan yang disebut sel pembawa antigen.

Antigen memperkenalkan bagian virus corona dan menampilkan beberapa fragmennya di permukaannya. Sel T helper atau sel T pembantu dapat mendeteksi fragmen tersebut. Jika fragmen cocok dengan salah satu protein permukaannya, sel T menjadi aktif dan dapat membantu merekrut sel kekebalan lain untuk merespons vaksin.

Jenis sel imun lain disebut sel B, juga dapat menghadapi virus korona yang inaktif. Sel B memiliki protein permukaan dengan berbagai bentuk, dan mungkin beberapa memiliki bentuk yang tepat untuk menempel pada virus corona. Ketika sel B terkunci, ia dapat menarik sebagian atau seluruh virus ke dalam dan menampilkan fragmen virus corona di permukaannya.

Sel T helper yang diaktifkan melawan virus corona dapat menempel pada fragmen yang sama. Ketika itu terjadi, sel B juga diaktifkan. Ia berkembang biak dan mengeluarkan antibodi yang memiliki bentuk yang sama dengan protein permukaannya.

Setelah divaksinasi dengan CoronaVac, sistem kekebalan dapat merespons infeksi virus korona hidup. Sel B menghasilkan antibodi yang menempel pada penyerang. Antibodi yang menargetkan protein spike dapat mencegah virus memasuki sel. Jenis antibodi lain dapat memblokir virus dengan cara lain.

Meskipun CoronaVac dapat menawarkan perlindungan terhadap Covid-19, belum ada yang dapat mengatakan berapa lama perlindungan tersebut bertahan. Mungkin saja tingkat antibodi menurun selama beberapa bulan. Tetapi sistem kekebalan juga mengandung sel khusus yang disebut memori sel B yang mungkin menyimpan informasi tentang virus corona selama bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun.

Mengutip dari kompas.com, terdapat beberapa poin penting yang harus diketahui soal vaksin Sinovac yang digunakan di Indonesia, di antaranya adalah:

1. Efikasi

Pemberian izin penggunaan darurat dari vaksin Sinovac didasarkan atas data analisis dan uji klinis yang dilakukan di Bandung, didukung data dari Turki dan Brasil. Uji klinis fase 3 di Bandung menunjukkan vaksin COVID-19 buatan China mempunyai tingkat efikasi 65,3 persen. Ini telah memenuhi persyaratan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni efikasi vaksin minimal 50 persen. Angka efikasi mengartikan harapan bahwa vaksin Sinovac mampu menurunkan kejadian infeksi COVID-19 hingga 65,3 persen.

2. Efek samping

Vaksin Sinovac akan diberikan dalam dua dosis dengan 0,5 milimeter per dosisnya. Berdasarkan hasil uji klinis dipastikan vaksin COVID-19 yang akan digunakan dalam program vaksinasi nasional aman. Disebutkan, vaksin tidak menimbulkan efek samping serius.

3. Halal

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengelurkan fatwa Nomor 2 Tahun 2021 tentang Produk Vaksin COVID-19 dari Sinovac Life Sciences Co.Ltd. China dan PT Bio Farma (Persero). Fatwa telah diterbitkan pada 11 Januari 2021, menyusul dikeluarkannya EUA oleh BPOM. Fatwa mengikat pada tiga vaksin COVID-19 produksi Sinovac Life Science.Co.Ltd. China dan PT Bio Farma (Persero), yaitu CoronaVac, Vaksin COVID-19, dan Vac2Bio. Vaksin COVID-19 produksi Sinovac dan PT Bio Farma dinyatakan suci dan halal. Vaksin COVID-19 produksi Sinovac dan PT Bio Farma boleh digunakan untuk umat Islam sepanjang terjamin keamanannya menurut ahli yang kredibel dan kompeten. Fatwa berlaku pada tanggal ditetapkan, serta akan diperbaiki dan disempurnakan apabila dikemudian hari terdapat kesalahan.

4. Reaksi

EPA via BBC INDONESIA Satu perusahaan vaksin tidak akan mampu memproduksi cukup dosis untuk memberi vaksin pada 7,8 miliar orang dalam hitungan bulan. Ada beberapa reaksi yang mungkin akan muncul setelah divaksin. Reaksi hampir sama dengan vaksin lainnya.

Beberapa reaksi tersebut antara lain:

  • Reaksi lokal seperti: nyeri, kemerahan, bengkak pada tempat suntikan atau reaksi lokal lain yang berat, misalnya selulitis.
  • Reaksi sistemik berupa demam, Nyeri otot seluruh tubuh (myalgia) Nyeri sendi (atralgia), Badan lemah, Sakit kepala
  • Reaksi lain berupa Reaksi alergi, seperti urtikaria, oedem Reaksi anafilaksis Syncope (pingsan).

5. Kelompok eksklusi

Pemberian vaksin harus dengan pertimbangan, termasuk penyakit penyerta dan kondisi tubuh penerima. Ada beberapa kondisi yang membuat vaksin COVID-19 tidak dapat diberikan kepada seseorang. Hal tersebut juga disebutkan dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Nomor HK.02.02/4/1/2021 tentang Teknis Pelaksanaan Vaksinasi dalam Rangka Penanggulangan Pandemi COVID-19. Rekomendasi ini khusus untuk vasin Sinovac berdasarkan rekomendasi dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), di antaranya adalah:

  1. Apabila berdasarkan pengukuran tekanan darah, didapatkan hasil 140/90 atau lebih.
  2. Berada dalam salah satu kondisi berikut ini:
  • Pernah terkonfirmasi COVID-19
  • Sedang hamil atau menyusui Mengalami gejala ISPA (batuk, pilek, sesak napas dalam 7 hari terakhir)
  • Ada anggota keluarga yang kontak erat, suspek, atau terkonfirmasi sedang dalam perawatan karena COVID-19
  • Mempunyai riwayat alergi berat atau mengalami gejala sesak napas, bengkak, dan kemerahan setelah divaksinasi COVID-19 sebelumnya (untuk vaksinasi kedua)
  • Sedang mendapatkan terapi aktif jangka panjang terhadap penyakit kelainan darah
  • Menderita penyakit jantung (gagal jantung atau coroner)
  • Menderita penyakit autoimun sistemik (SLE/lupus, sjogren, vaskulitis)
  • Menderita penyakit ginjal
  • Menderita penyakit reumatik autoimun aau rhematoid arthritis
  • Menderita penyakit saluran pencernaan kronis
  • Menderita penyakit hiperteroid atau hiperteroid karena autoimun
  • Menderita kanker, kelainan darah, munokompromais/defisiensi imun, dan penerima produk darah/transfusi
  • Menderita HIV dengan angka CD4 kurang dari 200 atau tidak diketahui.

Waaah ternyata cara kerja vaksin itu sangat mengagumkan yaaa. Sekarang sobat DC sudah tau kaan bagaimana CoronaVac menjalankan tugasnya sebagai vaksin?. Jadi sobat DC tidak perlu khawatir lagi mengenai vaksin, sebab vaksin CoronaVac itu halal dan dapat melindungi kita dari virus corona. (LS)

 

Sumber:

CNN Indonesia; nytimes.com ; kompas.com ; WHO