Seri Pengetahuan Lokal Banten IV: Makna Dibalik Doa dalam Tradisi Haul Kalembak

Disasterchannel.co. Jakarta – Garis pantai bagian barat wilayah Banten memang memiliki pesona yang memikat, banyak orang berkunjung menuju destinasi wisata yang tersebar di sepanjang garis pantai ini. Dikaruniai alam yang indah dengan potensi sumber daya alam yang melimpah membuat semua penduduk merasakan nikmatnya menjadi nelayan dengan hasil tangkap ikan yang memadai ataupun menjadi penggiat wisata di daerah ini. Di balik sumber daya alam yang melimpah dan pesona wisata yang memikat terdapat kelamnya peristiwa bencana alam yang terjadi di masa lalu.

Sejarah mencatat pada tanggal 26 dan 27 Agustus 1883, wilayah pesisir pantai Banten bagian barat diterjang tsunami akibat aktivitas Gunung Krakatau. Letusan besar Gunung Krakatau terjadi pada 26 dan 27 Agustus 1883. Saat itu, Krakatau yang mengeluarkan jutaan ton batu, debu, dan magma, materialnya menutupi wilayah seluas 827.000 km². Pada hari kedua, letusan Krakatau diikuti oleh gelombang besar tsunami yang membawa material vulkanik berupa magma dan batu panas menghantam pesisir Lampung dan Banten.

Menurut Carey, Sigurdsson, Mandeville, dan Bronto (2000), ombak piroklastis (pyroclastic), yang mengalir ke laut dari pusat erupsi, menyebabkan letusan Krakatau menjadi unik dan berbahaya bagi daerah-daerah pantai di sekitarnya. Daya piroklastis membuat energi tsunami menjadi besar dan sangat berisiko hingga jarak yang cukup luas. Dari sini, peristiwa letusan Krakatau memberikan pemahaman baru tentang fenomena ombak piroklatis dari sebuah letusan gunung berapi di laut atau pantai, yaitu aliran piroklastis (yang terdiri dari batuan panas mencair atau abu dan gas panas) bersama energi tsunami mampu melintasi tubuh air laut dengan kecepatan tinggi. Gelombang tsunami dari letusan Krakatau mencapai hingga Afrika atau meliputi sekitar seperempat bumi. Sedangkan, suara letusan Krakatau mencapai Srilangka dan Karachi di bagian barat Perth dan Sydney di bagian timur.

Sekitar 36000 orang tewas akibat dahsyatnya gelombang tsunami yang menghantam pesisir barat pantai Banten. Terjangan gelombang tsunami mencapai 30 mil atau kurang lebih 48,28 km dari pantai dan menenggelamkan kota dari Caringin, Panimbang hingga Cilegon. Kehancuran yang begitu parah terjadi di Banten. Berbagai pondasi penopang kehidupan masyarakat seperti perkebunan, pertanian, perternakan, pasar dan fasilitas umum lainnya hancur.

Letusan Krakatau 1883 memberikan dampak yang sangat besar bagi masyarakat Banten. Saking dahsyatnya peristiwa ini dan banyaknya korban yang meninggal, sehingga sebagian masyarakat Banten mengadakan sebuah acara untuk mengenang dan mendoakan para korban tsunami letusan Gunung Krakatau. Upaya pengurangan risiko bencana sejatinya sudah dilakukan oleh masyarakat Banten dengan caranya tersendiri. Banyak sekali tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Banten dan bila ditelisik lebih dalam, hal tersebut merupakan salah satu tindakan mitigasi bencana dengan merawat pengetahuan lokal yang mereka miliki. Peristiwa letusan Gunung Krakatau terus diingat dan dilestarikan oleh warga dalam bentuk tradisi haul kalembak.

Haul Kalembak terdiri dari dua kata yaitu, haul merupakan suatu kegiatan untuk mengenang peristiwa ataupun seseorang, sementara kalembak diartikan sebagai terlempar atau terseret ombak. Dapat diartikan bahwa haul kalembak merupakan sebuah tradisi yang dilaksanakan untuk mengingat kejadian tsunami yang terjadi akibat letusan gunung Krakatau. Tradisi ini dilakukan di daerah Labuan Kabupaten Pandeglang Banten, kegiatan diisi dengan mendoakan leluhur-leluhur yang korban tsunami 1883 sekaligus melakukan selametan yang dilakukan oleh anak cucu dari korban-korban yang meninggal sebagai bentuk penguatan hubungan batin antar mereka agar kegiatan ini dapat dilestarikan dari generasi ke generasi.

Lantunan doa demi doa dipanjatkan untuk semua korban bencana tsunami dahsyat 1883. Dengan khidmat seluruh warga yang ikut serta dan keturunan dari para korban bencana tsunami tersebut berdoa dan khusyuk mengikuti rangkaian acara yang ada. Persatuan tercipta dari kesamaan historis akibat bencana yang terjadi sebelumnya dan simpul yang mengikat batin mereka terjalin semakin erat melalui acara ini. Namun sayangnya, tradisi ini mulai terlupakan. Simpul yang dahulu terjalin mulai merenggang bahkan nyaris lepas sebab banyak masyarakat yang tidak mendengarkan pesan leluhur dan sudah tak peduli lagi dengan tradisi yang ada.

Haul kalembak adalah perwujudan literasi bencana yang dilakukan oleh masyarakat Labuan dalam upayanya untuk selalu mengingat peristiwa sejarah bencana yang terjadi melalui serangkaian doa penuh makna. Semangat pelestrasian tradisi dan ingatan kolektif masyarakat perlu ditumbuhkan pada generasi muda agar tongkat estafet pengetahuan sejarah bencana tak terhenti hanya sampai disini. (LS)

 

Sumber:

Buku Banten: Memori dan Pengetahuan Lokal Mengenai Bencana

Tantri, Erlita. “Letusan Krakatau 1883: pengaruhnya terhadap gerakan sosial Banten 1888.” Jurnal Masyarakat dan Budaya 16.1 (2014): 191-214.