Apa Sebab Longsor di Desa Cihanjuang, Kab. Sumedang?

Januari 2021 sebagian wilayah Indonesia masih dilanda hujan. Bila pepatah bilang sedia payung sebelum hujan, maka Disasterchannel.co mengingatkan untuk siapsiaga sebelum bencana. Suasana tahun baru seperti ini kita masih dikejutkan dengan terjadinya longsor di beberapa wilayah, salah satunta di desa Cihanjuang Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang Jawa Barat. Longsor di Desa Cihajuang dipicu akibat dari curah hujan yang tinggi. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumedang menyebutkan bahwa, longsor terjadi pada Sabtu malam (9/1/2021), sekitar 19.30 WIB. Sebelumnya longsor telah terjadi di sekitar kawasan tersebut pada pukul 16.00 waktu setempat. Dilansir dari Tempo.co Minggu, 10 Januari 2021, hingga pukul 13.00 WIB ditemukan total 13 korban meninggal dalam longsor Desa Cihanjuang.

Daerah Kabupaten Sumedang memang memiliki potensi bahaya longsor dengan kategori sedang hingga tinggi berdasarkan analisis InaRISK, sebanyak 26 kecamatan teridentifikasi memiliki potensi bahaya dengan kategori tersebut, sedangkan luas bahaya sekitar 60.872 hektar. Potensi bahaya yang tinggi tidak akan menjadi bencana bila tidak dipicu oleh sebab satu dan lain hal. Banyak sekali faktor pemicu yang menyebabkan longsor dapat terjadi.

Dilansir dari detik.com, PVMBG menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang menyebabkan longsor di Desa Cihanjuang di antaranya, pertama akibat kemiringan lereng yang agak terjal hingga terjal. Kemudian terjadinya pelapukan breksi dan tufa yang mudah meloloskan air dan di bawahnya merupakan lapisan kedap air sehingga berfungsi sebagai bidang gelincir.

Selain kontur geografis, ketiga, tebing yang berada di Dusun Bojongkondang tersebut juga merupakan lahan terbuka tanpa vegetasi berakar kuat dan tanpa perkuatan lereng. Keempat, Drainase atau saluran pembuangan air juga kurang baik, sedangkan bagian bawah bukit adalah pemukiman warga.

Kelima, selain kondisi geografis tersebut, hujan yang turun dengan intensitas yang tinggi menjadi pemicu terjadinya pergerakan tanah. Mengingat telah terbangunnya jalur longsor dan curah hujan yang masih tinggi.

Berdasarkan pada penyebab pertama yang disebutkan oleh PVMBG menyatakan bahwa longsor terjadi karena kemiringan lereng yang terjal. Bencana tidak akan terjadi bila tidak ada kerusakan dan kerugian yang dialami. Bencana terjadi karena kehidupan dan penghidupan manusia terganggu. Seperti halnya pada kasus longsor di Desa Cihanjuang, tidak akan terjadi bencana bila tidak ada pembangunan hunian di area kemiringan yang relatif terjal. Pembangunan tidak akan berlangsung bila tidak ada izin yang diberikan dan masyarakat sadar bahwa daerah itu tidak layak dibangun tempat tinggal, hal ini yang masih menjadi polemik bersama.

Kepolisian menyatakan akan mulai mendalami izin pembangunan pemukiman di Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, lokasi longsor Sumedang dengan korban belasan jiwa tewas tertimbun. “Ini akan kami dalami, sisi perizinannya seperti apa,” kata Kepala Polda Jawa Barat Inspektur Jenderal Ahmad Dofiri di lokasi longsor. Dofiri sendiri menilai lahan miring tersebut memang tidak laik dijadikan hunian masyarakat. Pasalnya longsor memang berpotensi terjadi di kawasan itu. “Area seperti ini di bangun perumahan seyogyanya memang sangat rawan. Tetapi, nanti kita akan kita dalami,” kata dia dalam Tempo.co

Potensi bencana seyogyanya harus menjadi pertimbangan dalam setiap pembangunan. Hal ini dilakukan agar kelamnya kejadian bencana seperti yang terjadi sebelumnya tak akan terulang. Sebagai warga Indonesia yang hidup di daerah dengan potensi bencana yang besar, sobat DC harus memperkaya pengetahuan terkait dengan kebencanaan dan mengaplikasikan pengetahuan tersebut dengan lebih cermat dalam memilih wilayah hunian. (LS)