Cerita Penyintas : COVID-19 Bukan Konspirasi tapi Nyata

Disasterchannel.co. Jakarta – Halo Sobat DC, Nama saya Dwi  (33 tahun). Tidak pernah saya bayangkan kalau saya bisa menjadi salah satu penyintas COVID-19 di Indonesia pada bulan November 2020 lalu. Saya merasa umur saya masih muda maka akan membuatnya mempunyai imun yang bagus, dan karenanya kecil kemungkinan saya bisa tertular virus ini. Apalagi kondisi tubuh saya sehat, baik-baik saja dan saya selalu mematuhi protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah. Namun, tentu saja, virus tak pandang bulu perihal umur, kapan dan dimana kita berada.

Teringat awal pandemi COVID-19 mulai menjangkit di Indonesia pada bulan Februari 2020. Saya yang bekerja di salah satu yayasan yang berfokus di isu kebencanaan langsung mengikuti anjuran pemerintah untuk melakukan aktifitas kantor dari rumah.  Hampir sepuluh bulan kami melakukan aktifitas kantor dari rumah, dan melakukan pertemuan melalui virtual meeting. Suatu hari di tanggal 19 November 2020 ketika kondisi tubuh saya tidak terlalu fit, kesibukan mulai padat dan pola makan tidak teratur di saat itu saya terpapar COVID-19. Pertanyaan pertama yang muncul di benak saya adalah “Dimana ya saya kena COVID-19? dan ini benar COVID-19 atau hanya sebuah konspirasi saja?”. Kebetulan saya tinggal di rumah hanya berdua dengan kakak sepupu saya, yang kebetulan juga mengalami penyakit dan gejala yang sama pada saat itu juga.

“Gejala awal yang saya rasakannya adalah naiknya asam lambung pada tanggal 12 November 2020, saya pikir saya hanya salah makan atau pola makan saya tidak teratur selama ini. Selama tiga hari saya merasakan gangguan pencernaan yang sangat hebat, ditambah dengan demam tinggi dan keringat dingin berlebih. Karena kondisi tidak kunjung membaik saya memberanikan diri untuk berobat ke klinik di sekitar tempat tinggal saya bersama kakak sepupu saya yang kebetulan juga mengalami gejala yang sama. Diagnosis awal dokter adalah gangguan pencernaan dengan kemungkinan adalah gejala tipes, belum mengarah ke COVID-19. Namun pasca saya berobat ke klinik, justru belum menampakan perubahan membaik dalam tubuh saya, justru badan saya semakin lemas tak berdaya. Di hari kelima, saya merasakan gejala baru muncul yaitu pilek, merasa mengalami radang namun bukan radang, tenggorokan terasa kering, dan kepala berat dan pusing yang hebat.

Saat itu juga saya memutuskan untuk berobat ke rumah sakit swasta yang lebih besar bersama kakak sepupu saya juga, untuk memastikan kondisi penyakit kami yang semakin memburuk ini. Sesampai saya IGD rumah sakit dengan tubuh yang lemah tak berdaya, saya langsung di-screening awal oleh petugas medis dengan menayakan gejala sakit yang muncul. Saya langsung menjelaskan gejala yang muncul, di situ saya belum sadar kalau ternyata apa yang saya rasakan itu ada beberapa gejala COVID-19 yaitu, demam, batuk pilek dan tenggorokan kering. Seketika itu saya terkaget, saya langsung diarahkan oleh petugas medis untuk masuk ke ruangan penyakit ISPA.

Yang membuat saya binggung, kenapa saya harus dimasukan ke ruangan ISPA, sedangkan saya tidak mengalami gangguan pernafasan. Sesampainya di ruangan ISPA, saya semakin down pikirian saya melihat beberapa petugas medis menggunakan APD lengkap. Di situ pikiran saya semakin buyar, lalu petugas medis dan dokter memeriksa kondisi saya dan men-screning ulang gejala yang timbul dan menanyakan apakah saya baru pulang dari luar negeri atau luar kota?. Lalu saya menjawab kalau saya tidak pernah ke luar negeri atau ke luar kota, dalam benak saya “boro-boro ke luar negeri atau ke luar kota, kerja saja saya dari rumah selama 10 bulan ini”. Dokter mengambil tindakan untuk memastikan kondisi dan penyakit saya dengan mengambil sampel darah saya untuk melakukan rapid test dan di cek ke lab dan rontgen torak paru -paru.

Setelah menunggu kurang lebih dua jam di ruangan ISPA dengan tangan sudah diinfus dan kehawatiran tinggi, hasil lab, rapid test dan hasil torak saya keluar juga hasilnya. Saat itu Dokter menjelaskan bahwa hasil torak saya bagus, hasil lab HB dan pemeriksaan lainnya juga masih dikategorikan normal serta hasil rapid test dinyatakan non reaktif.  Karena hasil lab semua masih dianggap normal, kami dinyatakan boleh pulang dan tidak perlu dirawat. Dokter hanya meresepkan obat-obatan saja untuk diminum selama di rumah, dan dokter juga menyarankan saya untuk melakukan test PCR untuk memastikan kondisi saya tidak terpapar COVID-19.

Selama di rumah sampai hari ke tujuh, Allahamdulillah kesehatan saya mulai berangsur membaik, tapi rasa lemas dan keringet dingin berlebih masih saya alami. Tapi yang mengagetkan saya adalah disaat kondisi tubuh saya berangsur membaik, kemudian justru muncul gejala baru di badan saya yaitu indra penciuman saya mulai hilang. Saya tidak dapat mencium bau makanan dan parfum yang sehari hari saya pakai. Rasa kecurigaan saya muncul, kalau ini tanda-tanda COVID-19. Lalu saya memberanikan diri tanggal 19 November 2020, bersama kakak sepupu saya untuk melakukan PCR test di salah satu rumah sakit berbeda dengan drive thru dengan satu hari hasil keluar. Dan setelah hasil keluar, tiba-tiba saya merasa lemas dan binggung harus berbuat apa, karena saya dan kakak sepupu saya dinyatakan positif COVID-19.

Kemungkinan saya tertular saat kondisi tubuh sedang lelah, kurang istirahat dan pola makan tidak teratur sehingga imunitas sedang rendah. Ada kemungkinan saya lengah dalam protokol kesehatan di tempat umum seperti lift, toilet umum, atau justru circle saudara atau keluarga saat bertemu. Saya juga sampai saat ini masih binggung dan mempertanyakan “saya kena dimana ya?”.

Apa yang saya alami di awal sakit, tak jauh beda dengan gejala flu biasa ditambah gangguan penceranaan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memang mencatat, COVID-19 punya kesamaan dengan influenza. Dua penyakit ini sama-sama menyerang pernapasan, dan juga menular melalui kontak dan droplet. Namun menurut WHO, infeksi kritis dan parah pada pasien terjadi dalam persentase lebih tinggi ketimbang influenza, yakni 80 persen termasuk katergori mild atau ringan, 15 persen infeksi parah dan perlu oksigen tambahan, dan 5 persen kritis yang membutuhkan ventilasi.

Ini juga terjadi pada saya. Setelah saya memeriksakan diri dan kemudian divonis positif COVID-19, saya diharuskan melakukan isolasi mandiri selama 14 hari di rumah. Kemudian saya juga melaporkan diri kepada RT setempat dan gugus tugas puskesmas setempat, untuk mendapatkan konsultasi dan pemantauan selama isolasi mandiri di rumah.

Setelah menjalani perawatan isolasi mandiri di rumah dengan pemantauan gugus tugas puskesmas wilayah selama 14 hari, saya mendapat banyak pengalaman. Pertama, saya sadar bahwa meskipun usianya masih tergolong muda dan lebih sering dalam kondisi fit dibanding tidak fit, tetapi harus patuh menjalani protokol kesehatan dan menerapkan 3M, yakni mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak. Jangan sampai lengah dimanapun untuk menerapakan protokol kesehatan.

Pelajaran kedua, dan ini benar-benar ditelannya dengan pahit, adalah: COVID-19 bukanlah hoax dan bukan konspirasi. Masalahnya banyak orang percaya bahwa pandemi ini adalah konspirasi, termasuk saya yang semula sangat yakin bahwa pandemi COVID-19 merupakan kejadian yang direncanakan. Buah dari upaya modifikasi virus yang dilakukan oleh manusia guna menghasilkan senjata biologi untuk kepentingan kelompok. Saya bukannya tidak percaya bahwa COVID-19 itu ada. Tapi saat itu saya juga yang termasuk meyakini adanya konspirasi di balik persebaran virus COVID-19 yang menyebabkan penyakit tersebut. Kemarin saya juga mengganggap COVID-19 tidak terlalu berbahaya sebagaimana diberitakan oleh media massa. Tapi setelah saya merasakan jahatnya virus COVID-19 masuk dan merusak organ tubuh saya. Saat itu juga saya sadar dan menyatakan COVID-19 itu nyata bukan konspirasi.

Kalian juga perlu tahu bahwa, ini juga terjadi pada orang-orang terdidik loh. Sebabnya hal yang sama terjadi itu banyak, mulai dari melimpahnya informasi, hingga tidak percaya sebelum melihatnya sendiri. Bahkan penyebaran hoax ini cukup masif di awal kemunculan COVID-19 di Indonesia, membuat Kepolisian, per 24 November 2020, memproses 104 orang yang menyebarkan hoax, dan 17 di antaranya ditahan.

Pahit memang, tapi banyak orang mulai percaya COVID-19 itu ada dan mematikan setelah lingkaran terdekat atau diri sendiri terjangkit virusnya. Ini adalah pesan saya sampaikan buat kalian semua bahwa “COVID-19 itu benar ada dan nyata dan bukan konspirasi, karena saya sudah menjadi penyitas COVID-19. Jangan menunggu sampai diri sendiri atau keluarga terkena baru percaya kalau COVID-19 itu ada,” (DM)

 

Penulis :  Dwi Minarto – Penyintas COVID-19 November 2020