Mutasi Membuat Ancaman Virus Corona Belum Berakhir

Disasterchannel.co. Jakarta – Hari berganti hari, bulan berganti bulan, bahkan tahun sudah berganti namun pandemi COVID-19 tak kunjung usai sampai saat ini. Semakin hari semakin pelik saja tantangan menghadapi virus corona. angka positif terus melonjak naik, berbanding lurus dengan meningkatnya angka kematian. Ekonomi makin terpuruk karena banyak sektor yang harus tutup. Rasanya memejamkan mata untuk tidur saja sulit karena bayang-bayang kelam masih menyelimuti seluruh dunia.

Baru-baru ini dunia dihebohkan dengan virus corona yang mengalami mutasi. Varian baru virus corona ini tiba-tiba muncul di Inggris dan Afrika Selatan. Nick Loman, yang merupakan bagian dari COVID-19 Genomics Consortium UK dan rekan-rekannya, memeriksa bagaimana virus corona bermutasi. Untuk SARS-CoV-2, mutasi dengan kesalahan kecil yang terjadi secara alami saat genom disalin berkembang dengan kecepatan tetap satu atau dua setiap bulan. Namun, pada kasus yang terjadi di daerah Kent Inggris, para ilmuwan menemukan sebuah gugus besar yang sangat berbeda, dengan total 23 mutasi yang muncul tanpa pemberitahuan sebelumnya dan lebih cepat dari yang diduga sebelumnya.

Investigasi lanjutan oleh Public Health England menunjukkan bahwa varian baru yang dikenal sebagai B.1.1.7 atau 501Y.V1, mulai berkembang pada saat terjadi kasus-kasus melonjak di wilayah Kent dan daerah bagian lain dari tenggara Inggris. Pelacakan retroaktif melalui database sampel yang mengikat B.1.1.7 dengan pasien paling cepat pada tanggal 20 September 2020. Namun pada pertengahan November, varian tersebut mencapai antara 20 dan 30 persen kasus di London dan wilayah timur kota. Tiga minggu kemudian menjadi sekitar 60 persen. Dan pada 23 Desember, para ilmuwan Inggris mengumumkan varian SARS-CoV-2 terpisah yang dilaporkan peretengahan Desember lalu di Afrika Selatan telah terlihat pada dua orang di Inggris.

Mutasi hanya mengganti kode genetik, mutasi tidak selalu menyebabkan perubahan besar pada virus atau organisme lainnya. Hal ini yang menjadi perhatian bagi kalangan ilmuan. Mutasi dapat dianalogikan seolah virus sedang memasuki ruang ganti dengan pakaian baru.

Pengumuman varian virus baru dari Inggris menimbulkan kekhawatiran berlebih kepada seluruh dunia. Banyak yang khawatir bahwa virus itu mungkin berkembang menjadi kebal terhadap vaksin yang telah dibuat dan diluncurkan. Kekhawatiran ini berfokus pada sepasang perubahan dalam kode genetik virus yang mungkin membuat kurang rentan terhadap antibodi tertentu. Namun dilansir dari New York Times, Dr. Bloom seorang ahli biologi evolusi di Fred Hutchinson Cancer Research Center di Seattle berkata “Tidak ada yang perlu khawatir bahwa akan ada satu bencana mutasi yang tiba-tiba membuat semua kekebalan dan antibodi tidak berguna,” karena perlu waktu bertahun tahun, bukan hanya hitungan bulan bagi virus untuk berkembang cukup supaya vaksin yang ada tidak berdaya.

Riset terbaru kelompok kerja genetik dan tim Universitas Gadjah Mada berhasil mengidentifikasi keseluruhan informasi genetik 19 sampel virus SARS-CoV-2 dari Yogyakarta dan Jawa Tengah. Dari jumlah itu, 17 di antaranya mengandung mutasi D614G (golongan GH dan GR). Mutasi D614G mempunyai dampak yang serius: virus corona mutasi ini memiliki daya infeksi 10 kali lipat pada sel kultur, virus lebih bertahan di tubuh manusia, dan virus menyebar 20% lebih cepat antar manusia. Mutasi D614G juga berpengaruh terhadap jumlah virus corona yang lebih tinggi pada tubuh pasien COVID-19.

Riset ini menunjukkan virus dengan mutasi D614G ini pertama kali dideteksi di Indonesia pada awal April 2020 di Surabaya, Jawa Timur. Virus jenis ini juga terdeteksi di Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jakarta, Banten, Sumatera Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Bali.

Varian virus D614G pertama kali ditemukan pada virus yang dikumpulkan di China dan Jerman pada akhir Januari; kebanyakan ilmuwan menduga mutasi muncul di Cina. Sekarang hampir selalu disertai dengan tiga mutasi di bagian lain dari genom SARS-CoV-2 – kemungkinan bukti bahwa sebagian besar virus D614G memiliki nenek moyang yang sama.

Peningkatan pesat virus D614G di Eropa menarik perhatian Korber, seorang ahli biologi komputasi di Los Alamos National Laboratory (LANL) di New Mexico. Sebelum Maret – ketika sebagian besar benua melakukan lockdown, virus ‘D’ yang tidak dimutasi dan virus ‘G’ yang bermutasi telah hadir, dengan virus D lazim di sebagian besar negara Eropa barat yang diambil sampelnya oleh ahli genetika pada saat itu. Pada bulan Maret, virus G meningkat frekuensinya di seluruh benua, dan pada bulan April, varian virus ini menjadi dominan.

Eksperimen pseudovirus pada D614G, pada bulan Juni, dipimpin oleh Hyeryun Choe dan Michael Farzan, ahli virologi di Scripps Research Institute di La Jolla, California. Penelitian menggunakan sistem pseudovirus dan mengujinya pada berbagai jenis sel, menunjukkan kesimpulan bahwa virus yang membawa sel yang terinfeksi mutasi G jauh lebih cepat daripada virus D hingga sepuluh kali lebih efisien, dalam beberapa kasus.

Sebuah tim yang dipimpin oleh Andrew Rambaut, seorang ahli biologi evolusi di Universitas Edinburgh, Inggris, ahli epidemiologi Erik Volz, di Imperial College London, dan ahli biologi Thomas Connor di Universitas Cardiff, mempelajari penyebaran 62 kelompok COVID-19 di Inggris yang dibenihi oleh virus D dan 245 oleh virus G.7. Para peneliti tidak menemukan perbedaan klinis pada orang yang terinfeksi kedua virus tersebut. Namun, virus G cenderung menularkan sedikit lebih cepat daripada garis keturunan yang tidak membawa perubahan, dan membentuk kelompok infeksi yang lebih besar. Perkiraan mereka tentang perbedaan tingkat transmisi berkisar sekitar 20%, tetapi nilai sebenarnya bisa sedikit lebih tinggi atau lebih rendah.

Sama halnya seperti virus influenza yang mengalami mutasi sampai saat ini, virus corona pun dimungkinkan terus mengalami mutasi namun tidak secepat virus influenza. Perlu adanya penelitian yang terus-menerus dikembangkan untuk menciptakan vaksin yang sesuai dengan virus yang telah mengalami mutasi. Hal yang tak kalah penting adalah selalu menerapkan 3M, memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak, hal ini dilakukan untuk mencegah penularan virus corona. (LS)

Sumber :

nature.com

nationalgeographic.com

nytimes.com

kompas.com