Menguak Kisah Sesar Baribis yang Pernah Mengguncang Ibukota

Disasterchannel.co. Jakarta – Sobat DC pasti kenal sekali dengan daerah Jakarta, atau mungkin ada di antara kalian yang tinggal di Jakarta. Jakarta adalah salah satu provinsi yang merupakan ibukota negara republik Indonesia dengan jumlah penduduk yang sangat banyak. Ternyata terdapat beberapa catatan kejadian gempa terjadi di wilayah ini yang disebabkan oleh pergerakan sesar Baribis.

Pepatah berkata: Tak kenal, maka tak sayang

Sayang banget kalau sobat DC nggak tahu tentang sesar Baribis, Yuuuk kenalan sama sesar Baribis

Sebelumnya alangkah baiknya kita mengetahui apa itu sesar. Sesar adalah suatu rekahan pada batuan dimana bagian yang dipisahkan oleh rekahan akan bergerak satu terhadap yang lain. Sesar Baribis merupakan salah satu sesar yang memanjang dari arah timur ke barat di wilayah Jawa Barat. Berdasarkan hasil penelitian Marliyani, sesar Baribis merupakan zona sesar yang terdiri atas beberapa segmen yang memiliki mekanisme sesar yang berbeda antar segmen. Segemen Tampomas merupakan segmen sesar Baribis dengan mekanisme sesar normal. Berbeda dengan segmen Tampomas, segmen Subang, segmen Cirebon dan segmen Brebes merupakan segmen sesar Baribis dengan mekanisme sesar naik sedangkan di segmen yang lain yaitu segmen Ceremei merupakan sesar dengan mekanisme sesar geser. Berbeda dengan segmentasi zona sesar Baribis dari hasil penelitian Marliyanti, penelitian Koulalo menyatakan bahwa sesar Baribis merupakan sesar tunggal yang memanjang hingga wilayah barat pulau Jawa dan merupakan sistem yang sama dengan sesar Kendeng yang memanjang dari wilayah Jawa Timur hingga Jawa Tengah dengan mekanisme sesar naik.

Berdasarkan data sejarah kegempaan, catatan oleh ahli gempa Jerman Winchmann (1918), pernah terjadi gempa bumi besar yang berasal dari sumber gempa di sekitar Jakarta dan menimbulkan kerusakan berat di wilayah Jakarta serta kota-kota lain di sekitar Jawa dan Lampung. 3 kali gempa besar terjadi pada 5 Januari 1699, 22 Januari 1780 dan 10 Oktober 1834. Namun dikarenakan pada saat itu belum ada alat pengukuran gempa, sehingga tidak ada catatan jelas dari mana lokasi pusat gempa.

Gempa pada 22 Januari 1780 disebut sebagai gempa terbesar yang pernah terjadi di Jawa. Kekuatannya mencapai 8,5 skala Richter. Getarannya terasa di seluruh Jawa dan Sumatera bagian selatan. Riset sejarah Alfred Wichmann, ahli geologi Hindia Belanda, menyebut guncangan gempa membuat Batavia porak-poranda, 27 gudang dan rumah runtuh di kanal Zandzee dan Moor. Setelah gempa, ledakan dahsyat berlangsung selama dua menit dari Gunung Salak. Gempa juga memompa Gunung Gede berdahak. Simulasi skenario Nguyen menemukan, ketika gempa terjadi, seluruh wilayah Depok, sebagian Tangerang Selatan, beberapa Kecamatan di Jakarta seperti Jagakarsa, Pasar Rebo, Ciracas, dan Cipayung, serta sebagian daerah Bogor utara (dari Cibinong, Parung, Parung Panjang) terguncang cukup parah dengan skala Mercalli X. Artinya, jika gempa tahun 1780 terjadi sekarang, wilayah di atasnya bakal rusak parah, rangka rumah seketika reyot dan bangunan retak, pondasi sedikit berpindah, pipa-pipa di dalam tanah putus.

Hasil penelitian Nguyen, Ngoc, et al mengatakan bahwa skenario pergerakan sesar Baribis memberikan kesesuaian yang baik dengan MMI yang diamati gempa bumi tahun 1834, terutama di daerah yang terkena dampak paling parah. Laporan menunjukkan bahwa, area yang paling terkena dampak adalah Batavia, Buitenzorg, Tjanjor (Cianjur) dan Tjiandjawar, dimana landmark seperti istana dan sebagian rumah Bupati roboh dan terjadi longsor besar. Getaran kuat diperlukan untuk menghancurkan bangunan yang dibangun dengan baik seperti istana dan memicu tanah longsor besar. Diperlukan intensitas minimum MMI 8 untuk menyebabkan kerusakan tersebut.

Javasche courant pada gempa kedua, 10 oktober 1834 mengabarkan guncangan parah terjadi di Batavia, Banten, Karawang, Bogor, dan Priangan pada pagi buta. Gemetar tanah terasa hingga Tegal dan Lampung bagian barat. Kekuatan gempa diprediksi sekitar 7 skala richter (sr). Gempa merusak bangunan vital di het groot huis (istana gubernur jenderal) di Sawah Besar Batavia dan sebagian istana Bogor ambruk. Kerusakan terparah dilaporkan di Cianjur, mayoritas bangunan roboh.

Perlu ada penelitian dan pemetaan secara detil diperlukan untuk mengidentifikasi seberapa aktif patahan tersebut. Masyarakat harus tetap tenang, tidak perlu khawatir berlebihan namun terus tingkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Seperti kita ketahui, gempa bumi tidak membunuh, namun robohnya bangunan yang menyebabkan korban jiwa. Sumber gempa bumi atau bahaya gempa bumi yang berpotensi melanda wilayah Jakarta tidak dapat dihilangkan ataupun dikurangi oleh manusia, upaya pengurangan risiko bencana gempa bumi dapat dilakukan dengan mengurangi kerentanan, seperti membangung bangunan tahan gempa dan meningkatkan kapasitas masyarakat baik dalam pengetahuan ataupun kemampuan mengenai penanggulangan bencana agar dapat mengurangi risiko yang ada. (LS)

Sumber:

Nguyen, Ngoc, et al. “Indonesia’s Historical earthquakes.” Modelled sample for improving the National hazard Maps, Geoscience of Australia (2015).

Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017. Pusat Studi Gempa Nasional: Pusat Litbang Perumahan dan Pemukiman Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

https://vsi.esdm.go.id/index.php/kegiatan-pvmbg/kegiatan-diseminasi-informasi/2061-geologi-untuk-perlindungan-dan-kesejahteraan-masyarakat-mengulas-potensi-gempa-jakarta-dan-pengurangan-risikonya

https://tirto.id/c4nf

Febyani, Siska, et al. “Analisis Kerentanan Gempa pada Jalur Sesar Baribis menggunakan Metode Microearthquake (MEQ).” Bulletin of Scientific Contribution: GEOLOGY 18.1 (2020): 1-12.